Kabar Terkini

Seriosa dan Puisi, Romantisme Indonesia Kontemporer


Puisi mengalir indah di mana ekspresi berbalut dalam kata nan indah. Kini nada dan suara menjadikan ekspresi ini semakin kental terasa, musik pun memperkaya tutur dan nafas. Kata bukan lagi sekedar ucap, namun mentransformasinya menjadi makna yang lebih mendalam. Tenor Dani Dumadi, soprano Susanna MacRae dan pianis Stephanie Onggowinoto mempersembahkan sebuah resital mini dengan musik dan puisi ini di School of Oriental and African Studies, University of London dalam rangkaian acara Indonesia Kontemporer.

Dalam perdebatannya, musik ini kemudian disebut sebagai musik seriosa, bertolak belakang dengan musik hiburan, sebuah sebutan yang lahir pada zaman keemasan Bintang Radio RRI. Berangkat dari zaman romantik musik Indonesia di akhir masa kolonial, musik seriosa menjadi pilihan banyak komponis untuk berekspresi selain karena maknanya yang tersamar, namun bisa tetap menunjukkan nasionalisme. Musik seriosa pun menjadi sebuah instrumen nasionalisme dalam perjuangan revolusi fisik maupun genggam ke-Indonesia-an yang tergambar dalam karya pembuka acara sore itu.

Dani Dumadi membawakan ‘Lukisan Tanah Air’ karya Ir. Yongki Djohary dan ‘Setitik Embun’ karya Mochtar Embut bergantian dengan Susanna MacRae yang membawakan ‘Wanita’ ciptaan Ismail Marzuki yang lirik puisinya ditulis oleh masing-masing komponis bersamaan dengan karya komposisi musiknya. Iringan piano pun rekat dengan kelincahan warna dan tingkah polah pentatonik yang dimainkan dengan genggaman yang erat di jemari Stephanie. Permainannya menghidupkan pertunjukan semalam.IMG_2303

Dua karya art song dari Roger Quilter juga mewarnai resital mini semalam lewat ‘Music, When Soft Voices Die’ dan ‘Love’s Philosophy’ yang dinyanyikan MacRae yang berdarah Inggris. ‘Music, When Soft Voices Die’ sebagai karya sastra ditulis oleh Percy Bysshe Shelley di tahun 1821 dan mengisahkan kisah cinta yang hilang dan dunia yang sirna bersamanya. Sedang ‘Love’s Philosophy’ juga ditulis oleh komponis yang sama yang berkisah tentang cinta dan kebersamaan. Kisah keduanya yang bertolak belakang namun sengaja disusun berdampingan oleh penampil.

Tiga karya komponis Ananda Sukarlan dibawakan sore itu. Menarik bahwa Ananda Sukarlan memilih karya sastra yang dalam dirinya sendiri telah berdiri dengan kuat dan berkarakter, seperti ‘Dalam Sakit’ dari puisi Sapardi Djoko Darmono yang mendalam, ‘Meninggalkan Kandang’ karya Eka Budianta yang kaya metafor dan ‘Tidurlah Intan’ dari tulisan W.S. Rendra. Guratan nada dari Ananda Sukarlan dikemas untuk semakin menonjolkan atmosfir yang sudah sangat pekat dari masing-masing komponis. Komposisinya berbeda dengan karya instrumentalnya yang penuh modulasi dan gerak, yang ini cenderung stabil. Meski tidak banyak menggunakan banyak idiom musikal untuk menggambarkan teks, namun komposisinya ini lumayan efektif. IMG_2302

Dani Dumadi yang membawakan pun tampak mampu mengolah psikis untuk membawakan masing-masing karya. Susanna MacRae pun memiliki diksi yang jelas dan dimengerti dalam setiap nafas musikalnya. Meskipun keduanya tidak serta-merta menunjukkan suara yang berkarakter penuh sebagai solois, namun interpretasi mereka mampu berbicara di telinga penonton sore itu terlebih dengan permainan pianis yang kini menimba ilmu di Royal College of Music London yang cemerlang dan kokoh. Indonesia dalam romantisme kontemporer pun disajikan dengan paripurna.

Suguhan resital mini 30 menit ini kemudian ditutup dengan kemeriahan musik Tapanuli ‘Lisoi’ yang diaransemen Fero Aldiansya.  Berpadu dengan pertunjukan musik gamelan, tari Bali, pemutaran film dan diskusi penelitan seni, khususnya sinematografi Indonesia, juga bazar yang hidup, adalah cerdas juga melihat karya musik seriosa/tembang puitik sebagai bagian dari bingkai Indonesia kontemporer kita.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: