Kabar Terkini

Haruskah Seni Berfungsi?


Setelah SENI dipandang sebagai hasil produksi, sekarang meningkat SENI dipandang sebagai alat/tool….(masih pada tataran fungsional).. Hmmm lalu kapan seni menjadi symbol/penanda sebuah peradaban????
~Michael Asmara, komponis (10/08)

Pernyataan komponis Indonesia yang bermukim di Jogja, Michael Asmara ini cukup menggelitik untuk dibahas. Seni menurutnya dipandang sebagai sebuah alat yang pada tatarannya berada di bawah sebuah simbol peradaban.

Pandangan Michael Asmara akan seni sebagai sebuah alat tidak pernah terlepas dari pandangan fungsionalisme, bahwa sebuah obyek memiliki tempatnya dan terdefinisi atas rangkaian fungsi dan kegunaannya daripada pencirian akan bagaimana bentuk dan sifatnya. Berangkat dari studi psikologi akan sebuah status mental, secara implikatif status mental pun dapat diturunkan menjadi berbagai pandangan manusia akan keadaan di sekelilingnya ataupun akan dirinya sendiri dan hakikatnya. Karenanya dalam sebuah bingkai persepsi, sebuah fakta, fenomena ataupun leksika digali dari sisi pemahaman akan fungsi dan kerjanya.

Fungsionalisme pun terdefinisi dalam kolektivitas di mana beragam pandangan akan fungsi dan kegunaan memperkaya definisi tersebut. Dalam konteks postmodernisme, sebuah fenomena dan bahkan imaji mental mampu mendatangkan berbagai definisi yang memungkinkan yang terbuka akan pengaruh dan pandangan yang berbeda-beda. Karenanya fungsi juga menjadi korban dari waktu, tempat dan latar belakang di mana fungsi itu digambarkan ada dan bisa saja berfungsi beragam.

Fungsi dan apa yang dapat dilakukannya menjadi sebuah pandangan yang lekat dalam pemikiran masyarakat modern, sedemikian juga seni. Di dalam sejarahnya, seni seringkali direkatkan dengan budaya dan juga sering disebut sebagai sebuah produk terbatas dari budaya. Di mana budaya mencakup keseluruhan dari aspek kehidupan manusia, seni menjadi sebuah miniatur terbatas akan potret budaya di mana seni itu hidup dan mengambil bentuk lalu kemudian dibakukan. Dalam hal ini seni pun dalam konteks kebudayaan juga dipandang sebagai sebuah fungsi dalam tradisi misal, ritual keagamaan, adat dan hiburan.

Pandangan fungsional akan seni pun sedari semula tidak pernah terlepas dari seni. Seni dipandang di dalam masyarakat baik purba hingga modern karena melayani tujuannya sebagai sebuah alat bagi perkembangan manusia, maupun masyarakat di sekitarnya, bahkan termasuk di antaranya berfungsi sebagai ruang pikir. Karenanya dalam praktek, seni tidak pernah bisa terlepas dari jabatan fungsinya, sebagai salah satu buah kreativitas yang mengejawantah dalam sebuah medium yang juga tidak terbatas. Musik sedari awal pun melayani fungsinya, hingga ia tetap ada dan dianggap ada serta menjadi instrumen untuk pemenuhan kebutuhan publik.

Lewat fungsinya dalam ritual pribadi dan masyarakat, seni mengemban keberadaannya sendiri. Seni dengan fungsinya sebagai sebuah alat berekspresi yang lekat dengan pendekatan pemikiran Romantis tentang seni juga dikenal lewat fungsinya bagi spiritual yang lekat dengan buah pemikiran awal mula dan lekat dengan Eksistensialisme. seni pun juga melayani fungsinya sebagai medium sekaligus pembentuk masyarakat sebagai salah satu bagian dari bentuk kreativitas yang lahir dari budaya. Budaya pun walaupun tidak serta merta kreatif, tetap lekat dengan gaya hidup secara umum dari masyarakatnya. Karenanya, seni dikatakan dalam tataran masyarakat karena mampu memberikan fungsi pada masyarakat, seperti hiburan, media ekspresi, buah pemikiran, serta inovasi.

Seni sejak awal mula memang bergerak dalam fungsi. Sebagai sebuah bentuk ritual, hingga fungsi sosial masyarakat yang kini melekat padanya. Dan karenanya musik dalam fungsinya tetap memiliki relevansi yang mengakar. Dari seni mural perjuangan yang marak di Indonesia di masa revolusi fisik, tari dalam fungsional adat-istiadat, hingga musik latar kafe-kafe, semuanya tetap berada dalam tataran fungsional yang tidak bisa dipungkiri ataupun dilawan. Karena itu seni dalam paham fungsionalisme akan tetap menjadi bagian dari dirinya.

Michael Asmara pun secara tidak langsung dalam pernyataannya menunjukkan ide yang berkonflik terutama dalam pernyataan terakhir yang ia sebutkan bahwa seni belum menjadi penanda zaman, sebuah tujuan seni yang ia harapkan dapat tercapai. Alih-alih menggunakan teori eksistensialisme yang merujuk faktual dan hanya fakta tanpa harus berpegang pada entitas lain dalam mode l’art pour art, Asmara melihat penanda zaman sebagai titik akhirnya.

Zaman pada dasarnya adalah sebuah konstruksi pikiran yang dipersepsikan tanpa ada tingkah baku yang mengikat. Persepsi akan zaman dapat berubah, apakah musik bisa menjadi penanda akan zaman, bisa jadi ya, bisa jadi tidak tergantung persepsi sang manusia akan waktu dan di mana ia berada. Sebagaimana musim durian mungkin akan bermakna bagi mereka yang senang durian dan tinggal di negara penghasil durian, persepsi akan zaman dan waktu pun relatif terhadap konsepsi yang berbeda.

Penanda zaman dalam logika Asmara menjadikan seni sebagai tolak ukur pergerakan waktu dan pada tatarannya tidak lebih dari menempatkan seni di tataran fungsional. Bahwa seni tetap menjadi obyek dari waktu menjadikan seni dalam lingkupnya tidaklah lebih dari sekedar sebuah insiden dalam tataran waktu yang lebih luas. Alhasil, seni juga tidak keluar dari gerak fungsional sebagaimana yang ia sampaikan dalam pernyataannya.

Sebenarnya perlu dicermati pernyataan yang dikeluarkannya, bukan bahwa seni masih berada dalam tataran fungsional, yang memang tidak dapat terbantahkan, melainkan bahwa dalam perspektif fungsional seperti apakah seni harusnya berada. Apabila ranah fungsional memiliki kelas baik dan buruk ataupun lebih di depan, sebagaimana termaktub dalam pemikiran modernisme abad lampau, mungkin perlu dicermati manakah karakteristik fungsional yang menurutnya baik itu berada dan dari situ kita bisa berangkat berdiskusi tempat seperti apakah penanda zaman tersebut dan seni macam apa yang dimaksud dalam pernyataan Michael Asmara yang layak mendapat tempat tersebut.

Sejauh mata memandang memang instrumentalisasi seni adalah sebuah pandangan yang memang banyak dibenci seniman, namun sayangnya banyak diadopsi oleh para politisi dan kekuasaan di manapun. Pandangan bahwa seni memiliki sebuah tujuan fungsional adalah sangat lazim terutama bagi mereka yang memandang seni sebagai produk sampingan saja. Namun hingga kini akan sulit apabila seni ingin membuktikan dirinya sendiri bernilai di masyarakat tanpa menunjukkan efeknya di masyarakat. Keburukan instrumentalisasi seni adalah seni berada di bawah tujuan yang lain yang bisa jadi tidak melihat makna intrinsik dari seni itu sendiri, misalnya sebagai alat untuk hiburan, rekayasa sosial, alat untuk pendidikan, mempromosikan kesehatan, kecerdasan dan sebagainya. Seni pun hanya menjadi salah satu opsi dari sekian banyak opsi untuk mencapai tujun tersebut.

Namun sejauh mata memandang, seni yang bergerak di antara batas zaman dalam pemikiran Asmara tidak dapat dipungkiri, demikian juga fungsionalitasnya. Namun seni macam apa yang memiliki kekuatan untuk memiliki fungsi sebagai tonggak penanda zaman, mungkin ini yang perlu kita cermati lebih jauh dan pikirkan bersama.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: