Kabar Terkini

Memandang Ruang, Bunyi dan Tradisi


Kematian memang bagai sebuah gerbang batas yang memisahkan. Sedemikian juga kematian membawa kekayaan ritual yang berusia ribuan tahun, mencoba memaknai hidup yang seakan ada untuk kemudian tiada, berhenti untuk kemudian bergerak lagi. Bagi banyak orang, kematian adalah sebuah gerbang yang membawa pada kehidupan berikutnya, demikian juga mereka yang hidup di Varanasi, India lewat ritual kremasinya yang mengubah jasad jadi abu dan hidup pada reinkarnasi. Dan kini penonton ditantang untuk mendefinisi ruang dan kematian lewat pemaknaan suara, elektronik, dan reproduksi, di mana pemaknaan bunyi yang dianggap residu ternyata bermakna.

Kematian sebagai bagian dari sebuah budaya di India tergambar di telinga pendengar Barat lewat rekaman-rekaman antropolog di awa abad 20 di atas media cakram shellac. Rekaman ini membekukan beragam ritual di India ini lewat cakram 78rpm yang hanya setiap sisi keping hanya dapat menampung musik sepanjang 3 menit lewat guratan getah shellac yang menjadi cikal bakal vinyl ini. Desis dan gemeltuk yang menjadi ciri-ciri rekaman awal mula kemudian dianggap sebagai kelemahan teknologi rekam, malah dimunculkan sebagai keindahan oleh seniman yang hadir malam ini. Shellac dan vinyl, berganti satu dari yang lain, mengantar nyanyian, ucapan, doa dan gemertuk kayu bakar tersaji dalam kekinian, 100 tahun kemudian di salah satu sudut Goldsmiths, University of London malam ini.

Robert Millis

Umpan balik atau feedback juga sering menjadi momok bagi para industri rekam dan pertunjukan. Dihindari dan dikutuk, ia menjadi angsa buruk rupa di kalangan pekerja suara. Namun di tangan duo ini, ia menjadi wujud materi dan juga ruang di mana penonton berada. Mikrofon bukan lagi dianggap sebagai penangkap bunyi, namun juga sebagai sebuah instrumen yang menangkap ruang, bentuk dan sekitarnya dan menelurkan bebunyian.

Sang seniman bersama mikrofon kondensor di tangan menjelajah ruang panggung, menangkap pulsasi dan ruang, mencirikan dirinya.  Menangkap sekitarnya termasuk bebunyian lain di atas panggung, menyodorkannya pada turntable manual cakram shellac dan turntable listrik untuk vinyl, menyodorkan pada cakram, desir angin dari laptop sebagai reproduksi juga mencipta suara sebagai instrumen lewat umpan baliknya. Bunyi dengung yang sedianya membahana kemudian dijinakkan lewat equaliser dan pedal efek yang tergantung di pundak. Dipilihnya pulsasi suara yang diinginkan, sebuah rekayasa spektral. Ia kemudian mengamplifikasinya dan mengawinkannya dengan suara ritual dari cakram-cakram yang berputar itu.

Gilles Aubry

Dari panggung memang terlihat kesibukan dua pencipta sekaligus penampil malam itu, Gilles Aubrey yang menangkap ruang dengan mikrofon di tangan dan Rob Millis lewat pilihan-pilihan rekaman kekayaan tradisi India. Sesekali Rob menyodorkan gitar listrik mininya kepada amplifier dan menggeseknya dengan pick-up nirkabel untuk menangkap penalaan Hindustan yang digunakan juga umpan balik yang dihasilkan lewat suara dan gemertak pick-up dengan senar gitar. Dengung yang keras dan lembut dalam berbagai register nada pun tercipta. Namun di balik itu semua, apabila pendengar menutup mata, terasa pulsasi suara yang menjadi ritme utama dalam pertunjukan mereka yang kadang berubah. Namun degup ritual itu tidak pernah sungguh hilang dalam dialog atmosferik yang mencapai puncak dalam keramaian dan bising hingga akhirnya hilang dalam keheningan.

Satu penampilan 45 menit yang bisa jadi berbeda dari konsepsi musik yang biasa dikenal, namun menghidupkan kembali tradisi dan mencipta kembali nuansanya dalam citra suara yang eksperimental.  India lewat kekayaannya dahulu memang dikenal sebagai ‘Jewel of the crown of British Empire’, sebuah juluk yang sarat dengan nilai kolonialisme. Bertajuk ‘Jewel to the Ear’, pertunjukan semalam memang menjadi kekayaan telinga yang lain ketika yang tertolak menjadi keindahan, ketika kematian menjadi gerbang.Jewel to the Ear

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: