Kabar Terkini

Psikologi Musik: Ketika Musik Bertemu Sains


~Oleh Christ Billy Aryanto

Anda pasti berbohong jika mengatakan bahwa Anda tidak pernah mendengarkan musik. Ketika sedang menyetir, sang supir akan menyalakan radio dan mendengarkan musik. Saat suasana hati sedang sedih, seseorang akan mendengarkan musik atau memainkan alat musik untuk menghibur hatinya. Bila jalan-jalan di pusat perbelanjaan, anda akan mendengarkan musik yang akan menemani langkah anda. Faktanya bayi di dalam janin sudah bisa mendengarkan suara-suara disekelilingnya dan artinya musik sudah bisa didengarkan bahkan sebelum seseorang lahir.

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa musik ada di sekeliling manusia. Baik disadari maupun tidak musik dapat memengaruhi manusia dan tingkah lakunya. Neel Burton dalam tulisannya The Psychology of Restaurant Music (https://www.psychologytoday.com/blog/hide-and-seek/201407/the-psychology-restaurant-music) memberikan contoh bagaimana musik memiliki pengaruh di dalam restoran. Ketika berada disebuah restoran cepat saji, beberapa restoran akan memainkan lagu yang memiliki tempo yang cepat. Hal itu dilakukan agar secara tidak sadar orang makan lebih cepat dan segera pergi dari tempat duduknya. Berbeda dengan restoran mewah yang akan memainkan musik instrumental lembut dengan tempo yang lambat. Secara sengaja hal tersebut dilakukan agar para pengunjung menikmati makanannya perlahan-lahan. Musik dalam hal ini dapat berperan untuk ‘mengatur’ mood pengunjung restoran, suasana yang ingin dibangun dalam restoran, bahkan pendapatan restoran tersebut.

Bagaimana musik memengaruhi tingkah laku manusia dipelajari dalam suatu ilmu bernama psikologi musik. Psikologi musik merupakan suatu studi interdisipliner yang mendalami dan mencari tahu bagaimana musik dapat memengaruhi berbagai aspek dalam kehidupan manusia. Bila dilihat pada diagram di bawah dapat terlihat bahwa ilmu fisika, teknik, psikologi, kesehatan, dan bidang ilmu lainnya bisa berkontribusi dalam kesejahteraan hidup manusia melalui musik. Tulisan ini akan memberikan sedikit gambaran apa saja kontribusi psikologi musik dalam kehidupan manusia.

Contoh berbagai disiplin ilmu yang dapat berkontribusi dalam psikologi musik, khususnya kesejahteraan hidup (Sumber gambar: http://cmmw.unimelb.edu.au/images/MMW_topic_map.jpg)

Ranah yang diperdalam pada bidang psikologi musik itu sendiri sangatlah luas. Para ahli bidang psikologi musik terus melakukan penelitian untuk mencari tahu musik apa saja yang memiliki pengaruh kepada manusia, bagaimana musik memengaruhi manusia, dan sampai sejauh mana penelitian yang telah dilakukan dapat diaplikasikan ke dunia nyata. Djohan, seorang peneliti psikologi musik lulusan Doktor Psikologi Universitas Gadjah Mada, menuliskan dalam bukunya ‘Psikologi Musik’ beberapa aspek musik yang berperan dalam kehidupan manusia.

  • Musik dan Emosi
    Tidak asing lagi terdengar di masyarakat bahwa musik dapat membuat seseorang senang, sedih, atau bahkan marah. Salah satu penelitian yang menjelaskan mengapa musik dapat memengaruhi emosi manusia dijelaskan melalui ilmu neurosains. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Neuroscience tahun 2011 (http://www.nature.com/neuro/journal/v14/n2/full/nn.2726.html) menemukan terjadinya peningkatan dopamin ketika mendengarkan musik yang nyaman bagi partisipan dibandingkan musik yang netral dan dopamin adalah neurotransmitter yang dapat menimbulkan emosi senang. Hal tersebut ditemukan dengan melakuan pemindaian Positron Emission Tomography (PET) pada otak manusia ketika sedang mendengarkan musik.
  • Musik dan Kognisi
    Bukan hal yang aneh jika jaman sekarang kita melihat ibu hamil yang meletakkan headphone ke perutnya. Hal tersebut orang tua lakukan agar kelak ketika anaknya lahir bisa memiliki IQ yang tinggi. Padahal bukan begitu cara kerja musik pada otak dan kecerdasan manusia. Schellenberg pada tahun 2005 (http://cdp.sagepub.com/content/14/6/317.short) melakukan studi untuk mengetahui apakah mendengarkan musik dan mempelajari musik memang benar meningkatkan kemampuan kognitif. Jawabannya adalah iya musik memiliki pengaruh. Mendengarkan musik bisa memberikan dampak jangka pendek dan mempelajari musik bisa memberikan dampak jangka panjang. Tetapi bukan berarti kecerdasan manusia bisa meningkat secara instan dan musik langsung dapat mengatasi masalah gangguan inteligensi. Menurut Schellenberg, mekanisme bagaimana musik dapat memengaruhi kognisi manusia masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.

    Ilustrasi Ibu hamil meletakkan headphone pada perutnya (Sumber gambar: http://i.telegraph.co.uk/multimedia/archive/02718/PREGNANCY-MUSIC_2718599b.jpg)

  • Musik dan Pendidikan
    Semua sekolah pasti mengajarkan musik minimal selama satu jam. Sekarang juga sudah banyak tempat kursus musik untuk memberikan kesempatan seseorang mempelajari alat musik dan juga teori musik. Pendidikan musik ini pada akhirnya juga akan memengaruhi aspek psikologi dari manusia, yaitu kognitif (pengetahuan), afektif (motivasi), dan psikomotor (kemampuan bermain musik). Peran psikologi musik dalam bidang pendidikan ini mencakup aspek pedagogi, bagaimana mengajarkan musik, dan apa dampak pengajaran musik terhadap manusia. Seperti yang dijelaskan sebelumnya dalam musik dan kognisi, mempelajari musik dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap kecerdasan. Penelitian lanjutan dari Schellenberg tahun 2006 (http://www.erin.utoronto.ca/~w3psygs/JEdPsych2006.pdf) menemukan bahwa pendidikan musik formal pada anak-anak (contohnya les musik) memiliki asosiasi positif dengan IQ dan performa akademik meskipun dampaknya kecil namun bertahan lama.
  • Musik dan Terapi
    Musik dewasa ini sudah banyak digunakan sebagai media untuk melakukan terapi, meskipun di Indonesia sendiri belum banyak praktisi yang berkecimpung dalam dunia terapi musik. Menurut Victoria Williamson, peneliti dan doktor psikologi musik lulusan University of Sheffield, dalam bukunya You are the Music membedakan antara terapi musik (music therapy) dan music medicine. Terapi musik merupakan kegiatan di mana terapis membantu klien untuk meningkatkan kesehatannya menggunakan musik dan hubungan yang berkembang antaranya, sedangkan music medicine menggunakan musik untuk tujuan tertentu dalam peningkatan kesehatan atau kesejahteraan hidup tanpa kehadiran terapis (misalnya mendengarkan musik untuk meningkatkan mood). Musik terapi bisa digunakan pada siapapun di berbagai usia, contohnya pada anak-anak berkebutuhan khusus, orang-orang dewasa yang mengalami depresi, dan para lansia yang memiliki demensia. Melalui asesmen yang mendalam kepada klien, terapi musik menggunakan data-data tersebut untuk menentukan metode yang tepat agar dapat mengurangi gangguan yang dimiliki klien.

Contoh-contoh yang telah diberikan diharapkan dapat memberikan gambaran bagaimana musik sebenarnya berperan dalam kehidupan manusia baik disadari maupun tidak disadari. Masih banyak kemungkinan yang dapat dilakukan dalam penelitian psikologi musik seperti bagaimana musik meningkatkan performa kerja seseorang, musik memengaruhi perilaku konsumen, dan lainnya. Satu hal penting yang perlu diingat adalah musik bukanlah obat yang bisa menyembuhkan seseorang atau vitamin untuk meningkatkan kemampuan seseorang. Menurut John Sloboda, profesor dari Keele University, akan berbahaya jika mengharapkan musik tertentu pasti memiliki dampak yang sama kepada setiap orang. Oleh karena itu, masih perlu lebih banyak studi lintas budaya dilakukan untuk mencari tahu apakah musik memiliki dampak yang universal, karena kebanyakan penelitian psikologi musik dilakukan di Eropa.

~Billy adalah mahasiswa Psikologi Musik University Sheffield dan Mahasiswa magister psikologi pendidikan Universitas Indonesia yang menghabiskan waktu luangnya bermain flute.

1 Comment on Psikologi Musik: Ketika Musik Bertemu Sains

  1. Nice artikel, Inspiratif

1 Trackback / Pingback

  1. Buku Psikologi Musik Djohan | Toko Buku Tiaramedia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: