Kabar Terkini

Halo Effect Bersinar


Apabila Anda senang melihat lukisan-lukisan Eropa dan relijius Kristen mungkin Anda tidak asing dengan lingkaran kuning yang melingkari para orang-orang suci dan citra para malaikat. Dilihat sebagai lingkaran bercahaya yang dikenal sebagai halo, ia bagai sebuah mahkota yang memperlihatkan kesucian tokoh-tokoh tersebut. Ternyata dalam manajemen ada juga efek halo yang bisa jadi berpotensi membahayakan dan secara organisasi, organisasi seni ternyata tidak luput.

Efek Halo dicetuskan oleh psikolog Edward Thorndike yang meneliti bagaimana penampilan fisik seseorang mampu mempengaruhi penilaian orang lain terhadap kualitas pribadi non fisik orang tersebut. Contoh nyata adalah orang-orang yang berpenampilan menarik ternyata lebih mudah mendapatkan citra dapat lebih dipercaya,  lebih cerdas dan lebih kompeten dibandingkan dengan mereka yang berpenampilan tidak menarik. Bias yang muncul ini bersifat kognitif dan mewabah dalam arti bahwa meskipun dibentuk sebagai produk pemikiran namun ternyata berujung tidak logis. Banyak penelitian lanjutan tentang bidang ini dilakukan untuk melihat seberapa penampilan mampu mempengaruhi penilaian orang tentang pengaruh politis orang tersebut, kompetensi dan inteligensianya.

Hal ini sebenarnya biasa kita jumpai. Seberapa jauh kita melihat lebih banyak orang berusaha berpenampilan semenarik mungkin dalam wawancara kerja agar dapat terlihat lebih kompeten dan cerdas sebagai seorang calon pegawai. Hal ini juga yang secara gamblang diakui oleh Andreas Arianto dalam wawancaranya di sini beberapa waktu lalu soal bagaimana penampilan fisik memampukannya untuk mendapatkan kesempatan kerja sebagai seorang profesional. Dalam praktek personal memang hal ini banyak dilakukan, dari level seorang salesperson hingga seorang pejabat negara hingga calon menantu yang ingin bertemu calon mertua.

Yang menarik adalah bagaimana seringkali efek halo ini juga terjadi bahkan di dalam sebuah organisasi dan menyangkut bagaimana cara pandang para pelaku terhadap organisasi tersebut, termasuk organisasi seni. Seringkali sebagaimana efek halo yang dikenakan pada manusia, organisasi pun juga bisa menjadi korban dan bahkan para administratur dan manajemennya sendiri.

Seberapa banyak organisasi yang kita lihat tampak menarik, menghasilkan output yang baik pula dan langsung kita nilai bahwa organisasi itu berjalan dengan baik, dan bahkan mereka yang mengendarai organisasi tersebut mempercayai bahwa semua berjalan dengan baik?

Budaya kita yang semakin mementingkan hasil termasuk dalam sebuah organisasi seni kadang mengaburkan pandangan banyak pihak termasuk para manajer sendiri akan perusahaan yang dipimpinnya. Pengelola melihat semua baik-baik saja selama organisasi mampu menghasilkan produk yang baik, memiliki brand yang kuat dan bahkan kepercayaan dari para penyandang dana. Semua juga seakan tidak ada guncangan dan bisnis berlangsung seperti biasa. Padahal sebenarnya di dalam tidak semanis yang berada di luar dan banyak elemen dan subsistem tidak berjalan dengan baik dan perlahan mengganggu kemaslahatan organisasi bahkan menggerogotinya, sedangkan para administratur berpangku tangan berpikir semua sudah berjalan baik-baik.

Contoh yang mendasar banyak terjadi di institusi pendidikan seni. Selama lulusan institut tersebut dipandang di bursa pekerjaan dan masih dianggap salah satu institusi pendidikan seni terbaik, para administratur lembaga pendidikan ini merasa sudah puas dan seakan semua sudah berjalan dengan baik padahal sistem di dalam masih carut-marut. Jadwal akademis tidak jelas, dosen menghilang, sedang mahasiswa tidak merasa kerasan/berkembang berada di sana, bahkan para dosen pun merasa tidak kerasan. Masih diminatinya sebuah jurusan misalnya juga kadang menjadi efek halo tersendiri sehingga para akademisi tidak memandang kembali relevansi sebuah kurikulum dan kualitas pendidikan di dalam jurusan tersebut.

Di dunia organisasi seni pertunjukan juga serupa. Ketika pertunjukan yang diproduksi diminati penonton, juga produksi selalu dinilai baik oleh para kritikus di luar, para pengurus kemudian merasa puas diri dan tidak menyadari padahal banyak kultur di dalam organisasi yang perlu berubah agar lebih baik, seperti persaingan tidak sehat di antara para pendukung acara, tidak transparannya keuangan hingga kesulitan untuk regenerasi dan hingga kurang profesionalnya iklim para organisator tersebut.

Peter Gelb, direktur Metropolitan Opera saat ini, baru saja mengumumkan 1 minggu lalu lalu bahwa organisasi yang dipimpinnya baru saja membukukan 1 juta USD surplus di tahun ini, dibandingkan dengan defisit 22 juta USD tahun lalu. Ini pun didapat setelah negosiasi dengan serikat pekerja panggung dan musisi tahun lalu dengan pemotongan upah hingga 17%, pengetatan anggaran belanja dan ditambah dengan penjualan salah satu aset perhiasan mewah peninggalan Ratu Eugenie, istri Napoleon III senilai 2.3 juta untuk menciptakan efek halo bahwa perampingan dan restrukturisasi yang dilakukannya terlihat berhasil. Pengamat berpendapat bahwa penjualan perhiasan senilai 2.3 juta tersebut tidaklah perlu, karena tetap perhiasan tersebut adalah aset Met meski di atas kertas Metropolitan Opera akan tetap merugi 1 juta USD apabila ia tidak mengambil keputusan menjual perhiasan tersebut. Tapi langkah ini bisa jadi diambil untuk menyematkan sedikit bros penghargaan atas keberhasilan atas upaya, bahwa upaya tersebut berhasil dan menciptakan efek halo bagi dewan pembina kelompok ini.

Efek halo malah banyak disalahgunakan oleh para pengambil keputusan untuk menjadi alasan tidak bergerak dan bahkan terlena dalam organisasi tersebut. Bagaimanapun efek halo tentunya berguna di satu sisi namun tetap harus membuka mata lebar baik sebagai pengamat, musisi, penonton, maupun organisator agar mampu menyikapi efek ini secara lebih arif.

Iklan
About mikebm (1262 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: