Kabar Terkini

Tidak Semua Bisa Jadi Orkestra Laboratorium


Semakin banyaknya masterclass dirigen di Indonesia bisa jadi merupakan sebuah pertanda baik. Kali diskusi ini bukan ditujukan pada pengajar dirigen ataupun sang dirigen, tapi kepada subjek dirigen itu sendiri yaitu sebuah ensembel. Dan sebagaimana dirigen dalam bentuknya adalah sebuah interaksi, pelatihan dirigen dan masterclass dirigen tidak akan lengkap tanpa adanya ensembel yang dipimpin. Nyatanya, tidak semua orkestra bisa jadi orkestra laboratorium.

Seperti sebuah kepemimpinan tidak bisa dinilai tanpa melihat dampak dari kepemimpinan kepada anak buah, kepemimpinan dalam dirigen tidak bisa lepas dari sang pemimpin dengan yang dipimpin. Dan dalam konteks pendidikan dirigen orkestra, relasi dan efektivitas kepemimpinan tidak dapat dinilai tanpa hasil praktikum dengan sebuah orkestra laboratorium di mana sang konduktor bisa bereksperimen, mencoba, belajar memimpin dari relasinya dengan sebuah orkestra sebagai sebuah organ.

Adalah mutlak bahwa untuk mendapatkan manfaat total dari sebuah praktikum dirigen, diperlukan sebuah ensembel yang sangat responsif dan memiliki cara pandang yang terbuka terhadap kepemimpinan. Kesediaan untuk diaduk dan dibentuk adalah sangat esensial dalam proses ini untuk membantu konduktor menemukan bentuknya dan menjadi cermin di sang konduktor di mana ia berkaca dan diarahkan oleh sang pemberi masterclass sebagai seorang penata gaya.

Ini tentulah tidak mudah. Perlu kerendahan hati yang sungguh dari setiap pemain di orkestra untuk mau menunjukkan permainan terbaik mereka dan juga kemauan untuk dipimpin. Benar, kemauan untuk dipimpin oleh seorang murid direksi butuh kerendahan hati. Bisa jadi sang murid dirigen yang memimpin lebih muda dan kurang pengalaman, sedang pemain orkestranya lebih senior dan sudah makan asam garam. Si dirigen murid bisa saja baru saling jumpa dengan orkestra dan para pemainnya ketika ia berdiri di atas lustrum bersiap  untuk melambaikan tangan. Tidak saling kenal, masih hijau, adalah keniscayaan yang dihadapi oleh seluruh pemain orkestra.

Pun dalam laboratorium seperti ini, janganlah berekspektasi akan dipimpin oleh seorang pemuda ajaib seperti Andris Nelsons atau Gustavo Dudamel. Para pemain orkestra harus mau dipimpin dan diarahkan oleh ‘anak ingusan’ yang barangkali usianya sepertiga dari si pemain.  Perlu disadari juga bahwa tidak akan ada bintang seperti Nelsons, Dudamel, Nezet-Seguin dan segudang konduktor muda lainnya tanpa hadirnya sebuah orkestra laboratorium yang baik. Apakah sulit menjadi orkes laboratorium? Tentu saja.

Tapi dikarenakan fungsinya sebagai sebuah cermin dalam proses pendidikan, adalah sebuah keniscayaan orkestra harus bersikap terbuka. Tidak arif apabila kemudian orkestra/ensembel memilih untuk mendirikan tembok tinggi di antaranya dirinya dan konduktor dan tidak menggubris si murid yang sedang mengaba di depan atau malah sibuk sendiri dan memperhatikan rekan kolega mereka saja. Tidak merespon gerakan konduktor dan instruksinya, meskipun hal tersebut bisa jadi membuat musik yang dihasilkan lebih baik, sebenarnya sudah mengingkari fungsi utama dari orkestra tersebut sebagai orkestra laboratorium.

Oleh karena itu, esensial untuk sebuah orkestra laboratorium menjadi sebuah orkestra yang responsif apa adanya dan memberikan respon terbaik untuk konduktor yang memimpin, siapapun dia. Apabila memang kesulitan mengikuti sang konduktor, dalam kapasitasnya sebagai yang lebih berpengalaman, pemain dapat mengungkapkannya kepada guru masterclass bahwa sang murid tidak dapat diikuti instruksinya ataupun apabila memungkinkan memberikan masukan langsung kepada sang murid dirigen di depan. Masukan sepertinya ini tentunya sangat berharga karena tidak pada setiap kesempatan seorang konduktor bisa mendapatkan kritik membangun dari anggota orkestranya.

Pengalaman belajar penulis dalam mengaba adalah ketika salah satu pemain memberikan masukan untuk pengabaan yang lebih baik dalam sebuah masterclass di Berlin. Tentu hal tersebut seringkali pahit bagi si murid terlebih kritik tersebut dilakukan di depan umum, namun tidak ada juri dirigen yang lebih baik selain pemain orkes berpengalaman yang dipimpinnya. Fungsi konduktor pada akhirnya adalah membantu musisi yang ada di hadapannya, dan hingga saat itu tiba, mungkin orkestra laboratorium lah yang harus menunjukkan bagaiamana ekspektasi dari seorang pemain orkestra akan bantuan dari seorang dirigen. Hingga kini pengalaman itu masih membekas di ingatan murid bersamaan dengan instruksi-instruksi lain yang diberikan guru dirigen.

Dalam situasi belajar mengajar seperti ini, penting untuk menjaga konfidensialitas sesi yang dijalankan. Murid mengikuti sesi belajar tersebut untuk membangun diri menjadi lebih baik dan bukan untuk dicerca dan digosipkan. Karena itu, orkestra laboratorium harus menjaga kerahasiaan kelas dan profesionalitas sebagai rekanan dari murid dirigen maupun sang pemberi masterclass.

Beban tugasnya yang tidak mudah menyebabkan tidak semua bisa jadi orkestra laboratorium. Butuh kebesaran jiwa yang dibina secara kolektif dan komitmen tinggi pada pendidikan saja yang mampu menjadikan orkestranya sebuah orkestra laboratorium yang cakap yang menjadi cermin yang sempurna untuk seorang murid dirigen bercermin. Dan sebagaimana sebuah orkestra adalah kesatuan dari semua musisi-musisinya, demikian juga kebesaran jiwa dan komitmen tersebut juga harus dimiliki oleh satu persatu anggotanya.conductor_small

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: