Kabar Terkini

Malam Penderecki Bersama London Philharmonic


Malam ini memang malamnya Krzysztov Penderecki, ketika panggung Royal Festival Hall di pusat kebudayaan Southbank Center dipadati oleh pecinta musik klasik. Penderecki adalah salah satu komponis berpengaruh yang menjadi salah satu ikon musik orkestra di paruh kedua abad lalu dan juga awal abad ini. Dan malam Kamis (14/10), ia pula yang memimpin London Philharmonic Orchestra di gedung konser tepian Sungai Thames yang diresmikan tahun 1951 ini.

Krzystof Penderecki

Dua buah karya yang premiere Inggris dan satu karya legendarisnya dimainkan semalam. ‘Threnody to the Victims of Hiroshima’ adalah karyanya yang paling dikenang dan dimainkan dengan sangat hidup oleh orkestra yang didirikan oleh Sir Thomas Beecham yang memimpikan adanya orkes profesional berkontrak tetap di London di tahun 1932. LPO diharapkan mampu menyaingi BBC Symphony dan London Symphony Orchestra ketika itu. Sayatan nada tinggi yang memilukan menjadi ciri khas dari karya ini, berbenturan dan pekat. Penderecki yang dengan medium orkestra berusaha mendapatkan suara yang banyak dicari komponis di tahun 1960-an lewat eksplorasi suara elektronik. Alhasil bunyi yang dihasilkan tentu mengejutkan bagi mereka yang memiliki ekpektasi mendengar suara merdu orkestra dalam karya yang dipersembahkan untuk korban bom atom Hiroshima.

Permainan seksi gesek LPO dibawah pimpinan sang komposer berdarah Polandia ini terkesan hidup dan eksploratif. Meski tidak mengutamakan spontanitas, namun dalam kolaborasi orkes dan konduktor karya ini seakan memiliki degup nadi dan bernafas meskipun suara yang dihasilkan bukanlah suara yang atraktif dalam spektrum musik orkestra standar. Karya ini kemudian mengambil bentuk objektifnya, terasa berjarak dari pendengar. Namun karenanya, karya ini lewat permainan kemarin menjadi sebuah objek yang mampu diteliti dengan seksama oleh pendengar. Tremolo mendesah, petikan senar yang eksplosif serta ketukan yang terkesan sporadis pada badan instrumen membuat karya ini menggelegak tak henti.

Malam ini juga diikuti oleh dua buah karya Penderecki yang baru kali ini dimainkan di Inggris. Concerto for Horn and Orchestra, ‘Winterreise’ diangkat oleh solois french horn Radovan Vlatkovic yang berasal dari Zagreb. Memiliki nama yang serupa dengan karya komponis Franz Schubert yang ditulis tahun 1828, karya ini merupakan sebuah homage untuk sang komponis yang besar lewat tembang puitiknya. Diwarnai dengan berbagai kutipan dari siklus tembang puitik itu, Penderecki di tahun 2008 menulis karya ini untuk menjawab permintaan Vlatkovic akan sebuah konserto horn. Vlatkovic juga yang menjadi solois malam ini. Meskipun diwarnai kutipan, namun pengembangan yang dilakukan Penderecki pun cukup jauh sehingga kutipan tersebut walaupun beberapa kali dapat dikenali, namun tidak lagi menjadi bangun utama karya ini.

Vlatkovic, solois malam ini

Radovan Vlatkovic sebagai solois horn yang disegani di dunia musik memainkan karya ini dengan virtuositas yang luar biasa. Berbaur dengan garis melodi gesek dan seksi tiup kayu terutama bassoon, bass klarinet dan cor anglais, Vlatkovic mampu bermain dengan lincah di antara permainan orkestra. Permainan kromatis yang bukan main sulitnya ini dimainkan dengan ringan oleh Vlatkovic yang adalah profesor horn di berbagai perguruan tinggi musik di Eropa. Padahal, horn adalah salah satu alat musik tiup logam yang paling sulit dikontrol dan dimainkan dengan lincah. Radovan Vlatkovic pun menuai tepuk tangan meriah dari penonton, hingga ia memainkan sebuah karya Capricce untuk solo Horn juga dari Penderecki yang penuh dengan gambaran deskriptif nuansa, hembusan nafas pada tabung horn terdengar bagaikan desir ombak dan permainan multifonik (instrumen melodik membunyikan dua nada, bukan satu nada) oleh Radovan sungguh membuat terkesima.

Karya Adagio for Strings yang merupakan saduran dari bagian ketiga dari simfoninya yang ketiga bagai nyanyian yang bersahutan dalam kekosongan. Direorkestrasi oleh Penderecki sendiri untuk alat gesek, karya ini mengetengahkan orkes gesek dengan para prinsipal sebagai solois yang memadu nada. Sebuah sajian yang mengingatkan penonton malam itu akan asal usul Penderecki sebagai seorang komponis modern.

Konser sendiri kemudian ditutup dengan karya Symphony no.6 in B minor, Op.54 gubahan Dmitri Shostakovich. Karya ini secara jelas menggambarkan relasi yang enigmatik antara Shostakovich dengan pemerintah komunis Uni Soviet tahun 1939 ketika itu di bawah Stalin. Ia menggubah bagian sendu sebagai pembuka, sebuah hal yang tidak banyak dilakukan dalam sebuah simfoni. LPO pun bermain dengan kedalaman yang luar biasa, berbuah dalam senandung yang menghanyutkan. Namun di dua bagian berikutnya, LPO pun mampu memberi sentuhan cemerlang. Shostakovich seakan bermain dalam kejenakaan dan keriangan yang sama sekali berbeda dengan tema yang diusung di bagian pertama.

Banyak ahli musikologi historis kemudian mengaitkan ini dengan perjuangan Shostakovich yang sebenarnya tidak pernah betah berada dalam kekuasaan pemerintah komunis yang mencengkeram kebebasannya berekspresi. Sentuhan disonan tetap mewarnai karyanya yang membangkitkan kesan ironi, sebagaimana hidupnya yang dipuja namun juga dicaci oleh kekuasaan Soviet. Keriuhan di akhir bagian Presto seakan menjadi titik terang hidupnya akan kebebasan yang diidamkannya.

Penderecki sendiri memimpin dengan penuh keyakinan di hadapan orkestra besar yang mendukungnya dalam konser hari ini. Dengan tangan hampa konduktor berusia 82 tahun ini seakan menyapu seluruh orkestra dengan penuh energi. Meskipun nampak bahwa London Philharmonic belum bermain lepas terutama di babak pertama, di babak kedua, ekspresi seakan mengalir dengan bebas sebagaimana ia juga adalah sosok yang dekat dengan Dmitri Shostakovich semasa hidupnya.

Memang malam ini adalah malamnya Penderecki, ia pun sebagaimana Shostakovich pernah bergulat dengan pemerintahan otoriter di Eropa Timur dalam ekspresinya. Dan semalam, entah mengapa, kita semua perlahan paham atas perjuangan seniman di Eropa Timur kala itu, Shostakovich dan tentunya Penderecki.LPO Penderecki

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: