Kabar Terkini

Piano Kolaboratif, Obat Penangkal Rasa Kesepian


Kesepian. Mungkin banyak yang pernah mengalami perasaan negatif tersebut dalam kehidupan sehari-hari, sosial maupun profesional. Dan mungkin saja Anda pernah merasa kesepian ketika bermain musik, dan sebenarnya perasaan itu cukup lazim dalam lingkaran musisi, terutama pianis.

Mengasingkan diri dalam ruang piano? Tidak terdengar terlalu buruk…

Namun apakah bisa dijelaskan mengapa? Adapun saya, alat musik piano terutama di Indonesia kerap kali diidentikkan dengan alat musik solo. Mungkin Anda pernah mendengarkan karya-karya Beethoven atau Chopin yang sebagian besar digubah untuk piano. Dentingan nada dari tiap pukulan pada dawai melipur hati pendengar dengan melodi yang indah di tangan kanan dan harmoni yang saling melengkapi di tangan kiri. Memang pada dasarnya, piano adalah instrumen yang dapat berdiri sendiri karena jangkauan nada yang sangat luas dan banyaknya perpaduan nada yang bisa dihasilkan oleh kedua tangan. Mungkin karena itu muncullah konsepsi atau stereotip bahwa kebanyakan pianis adalah penyendiri; tiap hari mengurung diri dalam ruang piano selama berjam-jam seraya mempelajari dan menghafal ribuan nada.

Saya pun mempunyai pengalaman yang serupa di masa kuliah. Tiap kali pertunjukan, rasa kesepian selalu menggeliat di sekujur badan. Lampu sorot yang menerangi piano menggaet perhatian penonton yang mengawasi semua gerak-gerik di atas panggung. Terkadang rasa kesepian tersebut dapat berimbas negatif pada permainan karena hilang fokus ataupun rasa gugup karena menjadi pusat perhatian penonton. Banyak dari teman-teman saya yang mengalami hal yang serupa, tetapi tidak sedikit juga yang merasa sebaliknya, bahwa bermain di atas panggung adalah hal yang mengasyikkan sekaligus intim. Walaupun begitu, hikmah dari pengalaman di atas adalah: tidak semua pianis bisa menempuh jalan yang sama, bukan karena kurangnya teknik atau musikalitas, melainkan sifat dan jiwa masing-masing yang beragam.

Setelah sekian lama berkuliah dan berintrospeksi, saya sadar jiwa saya berpaling pada bermain secara bersama (“collaborative”). Sebelumnya sudah dijelaskan bahwa piano diidentikkan dengan alat musik solo, tetapi piano sebenarnya bisa menjadi partner yang dapat diandalkan. Beethoven dan Chopin tidak hanya menggubah untuk piano solo, tetapi juga untuk piano dan alat musik lainnya. Mungkin Anda pernah mendengar lagu “Spring Sonata” dari Beethoven untuk biola dan piano. Dan Chopin yang lebih terkenal karena musik pianonya ternyata mengarang sebuah sonata untuk cello dan piano yang luar biasa indah! Format yang dikenal sebagai duo instrumental ini menampilkan kedua instrumen yang berperan setara satu sama lain.

Terkadang banyak orang menyebut piano sebagai alat musik pengiring (“accompaniment”) atau pembantu, dan saya rasa mentalitas tersebut harus diubah. Kata “mengiring” memberikan kesan bahwa piano bertugas mengikuti ataupun membuntuti instrumen yang lain, padahal musik yang dihasilkan berasal dari kolaborasi mendalam antara kedua pemain tersebut: semua keputusan musikal seperti penempatan nafas, pergantian pada tempo, dan penyesuaian artikulasi dibuat berdasarkan kesepakatan kedua pemain. Baru-baru ini, ada banyak lingkaran musisi profesional, terutama di Amerika Serikat, yang mulai menggiatkan penggunaan kata “collaborative” daripada “accompaniment”. Dan banyak sekolah musik di Amerika seperti Juilliard dan New England Conservatory yang menawarkan program pascasarjana bertajuk “Collaborative Piano” (piano kolaboratif) bagi pianis-pianis yang mempunyai ketertarikan khusus pada repertoar vokal dan instrumental.

Lantas apa yang membuat saya tertarik pada piano kolaboratif? Selain semangat kerja sama di luar dan selama pertunjukan, saya juga tidak berkeinginan untuk berkecimpung hanya dalam piano saja. Dunia piano sebetulnya sangat luas dan masih ada ribuan karya piano dari zaman Renaissance hingga kontemporer yang ingin dimainkan, tetapi dunia musik di luar piano lebih luas lagi dan yang menurut saya lebih variatif; kita pun bisa belajar lebih banyak tentang alat musik yang kita iring (secara bersama!). Sewaktu saya bermain bersama seorang cellis untuk pertama kalinya, saya dihimbau oleh dosen pembimbing bahwa suara cello pada register bawah sangat lemah dibandingkan register atas, oleh karena itu pianis harus berhati-hati dalam bermain karena dapat menyebabkan efek roti lapis cello (“cello sandwich”) ketika suara cello dihimpit oleh suara piano yang lebih resonan.

Selain itu, format piano kolaboratif tidak hanya duo, tetapi bisa trio, kuartet, kuintet, dan seterusnya. Bermain piano bersama paduan suara maupun orkes juga masuk ke dalam lingkup piano kolaboratif berskala besar dan malah memberikan tanggung jawab yang lebih besar pada pianis karena keutuhan paduan suara dan orkes tersebut bergantung pada ketepatan dan keselarasan piano. Contoh yang dapat saya berikan adalah bagian piano di lagu orkes ciptaan John Adams, komponis Amerika yang dikenal dengan estetika minimalisnya, bertajuk The Chairman Dances: Foxtrot for Orchestra. Dalam lagu ini, piano tidak mempunyai peran solo, melainkan berkedudukan sama dengan alat-alat musik orkes lainnya. Meskipun begitu, dentingan piano di ujung orkes sangat esensial karena suara piano tersebut melengkapi tekstur orkestra yang dicari oleh Adams.

Meskipun bermain secara kolaboratif memiliki banyak keuntungan, sayangnya masih banyak pianis berpendidikan musik klasik yang enggan atau belum antusias bergerak ke dalam dunia kolaboratif. Saya sendiri pikir masih ada mentalitas lama bahwa piano adalah alat musik solo dan kurangnya penekanan pada bermain bersama di banyak institusi musik. Baru-baru ini sudah mulai bermunculan berbagai macam grup musik klasik yang berkomitmen untuk menyebarluaskan kesenangan bermain bersama, seperti Cascade Trio yang berbasis di Bandung. Dan saya pun ingin dunia musik klasik kita di Indonesia penuh dengan semangat camaraderie dan gotong royong, karena rasa kesepian itu seharusnya tidak ada ketika bermain musik.

About Hazim Suhadi (12 Articles)
I'm a classical pianist, but in my spare time I'd like to do things that musicians don't normally do, like rock climbing in the highlands of Dieng or eating at kaki-lima by the dusty streets saturated with commuters. I enjoy a drink or two with good company. So hit me up!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: