Kabar Terkini

‘Rasa’ Gamelan Robotik


~setelah membaca hyperallergic.com

Instalasi menarik hadir di New York. Aaron Taylor Kuffner memasang perangkat robotik untuk memainkan perangkat gamelan dan kemudian ia juga menggubah beberapa karya untuk dimainkan dengan perangkat gamelan ini dengan software dan kemudian dimainkan secara otomatis. Namun debat yang mungkin diangkat adalah seberapa jauh gamelan ini juga menggabungkan elemen ‘rasa’ di dalamnya.

Bagi masyarakat Jawa, ‘rasa’ menjadi hal yang diagungkan. Mempelajari karawitan selama bertahun-tahun adalah untuk mendapatkan penjiwaan dan rasa tersebut. ‘Rasa’ ini juga yang menjauhkan praktek penggunaan notasi dalam pendidikan karawitan, sebuah percobaan yang sebenarnya pernah dilakukan beberapa puluh tahun yang lalu, namun sepertinya tidak sesuai dengan konsep ini.

‘Rasa’ menjadi teramat penting, sehingga menjadi inti pendidikan dan seni dari gamelan itu sendiri. Bukan soal ketepatan yang mutlak, melainkan bagaimana cairnya manusia berbaur dalam ketepatan saat. Iya menjadi benar bukan karena instruksi benar, tapi berdasarkan ‘rasa’ yang terasah lewat bertahun-tahun lekat dengan bebunyian gamelan. ‘Rasa’ juga menjadi hal yang terutama bagi seorang pengrawit/nayaga. Karena ketepatan dan bebunyian itu menjadi tepat karena ada aspek kemanusiaan yang hadir di sana sebagai penentu. Lingkupan rasa itu yang menentukan musik yang diciptakan dan dimainkan itu baik atau tidak. Itulah sebabnya gamelan memiliki kecairan tersendiri karena bahkan nayaga pun terlibat dalam proses kreatif secara luas, menentukan kapan dan bagaimana dan bahkan apa yang dimainkan.

Dalam karya Kuffner ini, intervensi rasa manusia sangatlah rendah. Keterlibatan manusia menjadi terbatas dalam karyanya ini. Manusia mendapat tempat hanya dalam proses komposisi yang dilakukan Kuffner sendiri. Kuffner sendiri sempat tinggal beberapa tahun di Indonesia untuk belajar gamelan sehingga keterlibatannya dapat dikatakan mencukupi dan ia pun memutuskan untuk membuat komposisi berdasarkan komposisi klasik karawitan. Namun demikian aspek ‘rasa’ akhirnya terlepas dari permainan karena dimainkan pemukul-pemukul robotik yang mampu memainkan pemukul secara keras dan juga lembut.

Menarik adalah bagaimana Kuffner memandang karyanya ini sebagai sebuah instalasi. Dinamakan Gamelatron Urban Sanctuary, ia mengenalkan orang di Big Apple akan keajaiban suara metal gamelan dan aspek keindahan sonoritasnya, sebuah keindahan yang yang bahkan mulai terlupakan bahkan oleh generasi muda Indonesia, sedang di barat lebih dapat ditemukan pecinta-pecintanya. Berbeda dengan mendengar lewat rekaman, pengalaman sonoritas, mendengarkan logam yang bergetar yang lebih kaya karena tidak terbatas oleh teknologi rekam. Dengan penamaan instalasi pun, dia juga menghindarkan perdebatan apakah karyanya ini komparatif dengan gamelan dan nayaga yang sebenarnya.

Mungkin kini kita dapat sedikit berefleksi: Sejauh apakah ‘rasa’ mampu membawa puncak-puncak keindahan dalam permainan gamelan?

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: