Kabar Terkini

Beberapa Pertemuan, Secercah Harapan: Refleksi Terhadap Musik dan Demokratisasi Seni


~oleh Aditya Pradana Setiadi

Wigmore Hall London, 2 Oktober 2015

Sesaat sebelum pianis Mitsuko Uchida dan mezzosoprano Magdalena Kožená tampil di atas panggung, duduklah seorang wanita paruh baya di sebelah saya. Beberapa menit setelahnya, wanita tersebut mencoba memecahkan suasana kaku dengan memperkenalkan diri. Sebut saja beliau sebagai Ibu X (saya lupa namanya), Scottish, guru sebuah sekolah dasar di desa yang berjarak satu jam dari Aberdeen namun baru beberapa bulan pindah ke London untuk bekerja sebagai pelatih tenis di Wimbledon. Introduksi yang cukup singkat namun hangat tersebut diselingi dengan kekaguman beliau terhadap arsitektur Wigmore Hall dan betapa ringkas-padat kapasitas gedung resital yang merupakan salah satu dari yang terbaik di Eropa saat ini.

Ibu yang ramah ini terus menceritakan kehidupan keluarganya: Keponakan suaminya merupakan direktur artistik Glyndebourne Festival Opera, sedangkan keponakannya sendiri merupakan sarjana musik lulusan King’s College London dan mahir memainkan organ pipa. Beliau lalu bercerita bahwa dirinya tidak dapat memainkan alat musik namun sangat mengapresiasi musik seni. Saat saya bertanya apakah yang bersangkutan mengetahui Edinburgh International Festival, beliau rupanya merupakan pengunjung reguler yang senantiasa menghadiri pementasan opera dan konser orkestra di festival tersebut. Malam itu, Ibu X untuk pertama kalinya menghadiri Wigmore Hall (lucunya, beliau pernah nonton konser di Carnegie Hall New York beberapa kali) dan memang sengaja ingin “merasakan kehidupan berkesenian London yang dinamis,” demikian pernyataannya.

Saya tidak akan membahas konser Mitsuko Uchida dan Magdalena Kožená malam itu: Bisa panjang – apalagi ditinjau dari pertimbangan artistik, saya lebih memilih kolaborasi Uchida dan soprano Dorothea Röschmann di Lucerne tahun 2013. Mungkin disebabkan oleh kebiasaan saya yang gemar mengobservasi orang, malam itu saya memperhatikan Ibu X dari awal hingga akhir konser. Beliau tidak membawa buku program (mungkin karena buku programnya tidak gratis atau mungkin karena memang tidak mau beli), namun sepanjang konser, perhatian beliau tertuju dan fokus terhadap setiap karya yang dibawakan, yang malam itu mengusung empat siklus tembang puitik: Robert Schumann “Gedichte der Königin Maria Stuart”, Hugo Wolf “Mörike Lieder”, Antonín Dvořák “Písnĕ milostné (Love Songs)”, dan Arnold Schoenberg “Brettl-Lieder”. Saya sendiri memegang buku program dan sesekali membaca terjemahan teks lagu yang ditulis di dalamnya, berhubung bahasa tembang puitiknya adalah Jerman (Schumann, Wolf, Schoenberg), dan Ceko (Dvořák). Tanpa melirik ke buku program saya (yang tentu tidak terlihat karena huruf yang kecil dan cahaya yang remang), Ibu X beberapa kali memberikan ekspresi terpukau, takjub, atau sedih di bagian-bagian yang liriknya memang menunjukkan intensitas emosi serupa.

Seusai konser, Ibu X akhirnya berkata kepada saya, “Saya dari awal tidak tahu liriknya apa, bahasa apa, apalagi tentang apa. Tapi saya sangat menikmati konser tadi. Saya dapat mengerti apa yang dinyanyikan oleh Kožená karena kekuatan emosi dan gestur yang diberikannya sejak awal sampai akhir. Uchida juga dapat memaksimalkan suara pianonya menjadi warna-warna yang dia inginkan. Pianonya apa ya?” Saya jawab Steinway. “Tapi bukan masalah pianonya apa, namun tergantung siapa yang memainkannya kan,” jawab Ibu X, antara memberikan pertanyaan dan pernyataan sambil mengucapkan selamat tinggal dan semoga sukses.

Antara Cannes dan Nice, Prancis Selatan, 1 September 2013

Di atas bus terakhir dari Cannes menuju Nice (pukul 21:00), saya duduk di sebelah seorang wanita berusia 30-an akhir yang memiliki kulit coklat gelap, rambut ikal panjang, dan fitur wajah Mediterranean. Mengisi waktu perjalanan yang cukup panjang, kami sejak awal memang terlibat dalam sebuah pembicaraan santai yang ternyata menjadi cukup serius. Wanita tersebut bernama Pascale (dengan huruf “E”, karena Pascal tanpa “E” bergender laki-laki). Ternyata beliau berprofesi sebagai tukang kebun di La Bastide du Roy, desa Biot (dekat Antibes) milik keluarga ningrat de Polignac, yang memiliki hubungan dekat dengan para musisi, mulai dari Chopin, hingga Saint-Saëns, Ravel, dan Poulenc. Sebelumnya Pascale bekerja di vila milik perancang busana Karl Lagerfeld.

Saat saya membawa topik Chopin dan kedekatannya dengan keluarga Polignac, Pascale nampak takzim. Setelah saya menjelaskan bahwa saya studi musik, beliau mafhum dan mulai menceritakan keseluruhan pengalamannya di La Bastide du Roy dengan antusias: Dimulai dari Saint-Saëns yang sempat menghabiskan liburan musim panas bersama Princesse de Polignac di sana, hingga Ravel dan Poulenc yang kerap kali mempersembahkan konser privat untuk tetamu dan kerabat de Polignac.

Obrolan berlanjut hingga Pascale bertanya ke mana kiranya saya akan melanjutkan perjalanan saya esok hari. Saya bilang ke Aix-en-Provence. Pascale yang lahir dan besar di sebuah dusun di pegunungan Pyrenees ini menyarankan saya untuk datang ke Aix-en-Provence pada saat sedang diselenggarakan International Festival yang menampilkan musisi-musisi kelas dunia dalam format resital, musik kamar, opera, dan orkestra. Saat saya melemparkan topik bahwa salah satu pianis favorit saya – Hélène Grimaud – berasal dari Aix-en-Provence, Pascale dengan bangga bercerita pengalamannya menonton Grimaud di festival Aix dan baru setahun lalu (2012) beliau menyaksikan konser pemain biola Renaud Capuçon di Fréjus, sebuah komune antara Cannes dan Nice. Beliau turut mempromosikan komune tersebut; katanya banyak digelar konser musik seni dalam skala kecil dengan musisi internasional. Sayang, Pascale harus turun pada saat bus memasuki halte komune Fréjus, padahal saya masih ingin melanjutkan obrolan yang seakan masih belum selesai.

Wiener Staatsoper, 8 November 2010

Saya mendapat tiket murah yang dijual dua jam sebelum pementasan dimulai (dan ini adalah standing ticket untuk berdiri sepanjang pertunjukan opera di balkon paling atas), menyaksikan opera La Bohème karya Puccini. Berdiri di sebelah saya adalah seorang turis asal Jepang yang pada saat jeda antarbabak mengajak saya mengobrol. Saat saya tanya apa motivasinya menonton opera, dia jawab “Wina adalah salah satu pusat kebudayaan dunia dan sangat disayangkan apabila ada seseorang yang berkunjung ke kota ini namun melewatkan pementasan opera atau konser musik seni,” Selanjutnya saya tanya lagi apakah yang bersangkutan mengerti ceritanya atau memang suka menonton opera. Sang turis yang tampak sedikit terbata-bata bahasa Inggrisnya menjelaskan bahwa dia tidak memiliki ide atau bayangan tentang cerita dari opera La Bohème, namun menurutnya musik La Bohème – yang sejak babak pertama dan kedua disaksikannya – cukup berbeda dengan musik dari opera karya Mozart. Lantas ia memohon saya untuk menceritakan plot opera malam itu – mungkin karena ia melihat saya memegang buku program (yang tentu harus beli, tidak gratis).

Musik Seni: Antara Elitisme dan Demokratisasi

Berdasarkan beberapa refleksi di atas, muncul pertanyaan dalam benak saya: Mengapa tingkat apresiasi musik seni di negara-negara Barat terlihat timbul sebagai sebuah ekspresi yang alamiah dan organik? Bila dibandingkan dengan tingkat apresiasi musik seni di Indonesia yang masih dianggap sebagai bagian dari elitisme (Dalam hal ini, saya mendefinisikan elitisme dalam arti pemenuhan tuntutan pementasan musik seni yang bersifat positivis, yaitu yang menekankan otentisitas terhadap teks secara historis – bukan musik bernuansa komodifikasi yang alih-alih dijargonkan sebagai “musik seni” atau “musik klasik”) apakah memungkinkan pada suatu hari kelak kita akan melihat gedung-gedung konser dihadiri oleh guru SD dari Cibinong atau tukang kebun dari Mekarsari?

Jika pengalaman Ibu X, Pascale, dan turis Jepang di atas dibandingkan dengan kondisi yang ada di Indonesia, tentu tidak adil. Nanti dapat tersangkut-paut dengan hal-hal di luar musiknya sendiri, seperti sektor ekonomi, pendidikan, hingga teori habituasi dan citarasa dari Bourdieu. Saya pun tidak dapat membuat generalisasi hanya dari segelintir orang yang kebetulan dijumpai di gedung-gedung konser. Namun satu hal yang terlihat dengan jelas – seperti yang telah saya jelaskan – motivasi mereka untuk datang, duduk, dan menikmati jalannya sebuah konser musik seni seakan terjadi dengan organik, seolah-olah kehidupan keseharian mereka selalu didampingi oleh musik seni. Dalam hal ini, seni seakan-akan telah menjadi suatu kebutuhan dan kebiasaan, bukan lagi sebuah elitisme yang dogmatis. Apabila seni dikotak-kotakkan dalam sebuah elitisme – di mana setiap aliran/schooling berlomba-lomba mengejar otentisitas atas teks dan menciptakan massanya sendiri – pada akhirnya seni akan berjalan di tempat dan kehidupan berkesenian akan semakin jauh dari realitas.

Dalam colloquium di departemen musik sebuah kampus di pinggir sungai Thames London, 30 September 2015, Dr Geoff Baker mengemukakan kekhawatiran serupa melalui studi mendalam mengenai sistem kepemimpinan otoriter dalam orkestra “El Sistema” di Venezuela. Dengan menekankan pertanyaan mendasar berupa “Citizens or Subjects”, pada intinya beliau meninjau tujuan awal didirikannya “El Sistema” yang memiliki visi “When you train musicians, you train better citizenship” dan pada pelaksanaannya, visi yang sedemikian mulia – dengan melibatkan musisi-musisi remaja – ini menuai banyak kritik, dimulai dari kepemimpinan dirigen yang otoriter hingga isu persamaan gender. Sistem yang diajarkan adalah agar para musisi patuh kepada dirigen, sementara proses demokratisasi seharusnya dibina dengan membiasakan berpikir kritis. Dapat dibandingkan “El Sistema” (yang menciptakan elitisme) ini dengan program serupa di negara lain (yang juga melibatkan partisipasi anak muda) namun dengan sistem demokrasi, seperti Orpheus Chamber Orchestra atau Animate Orchestra.

Kembali lagi, konsep “Music and Citizenship” ini melibatkan banyak faktor; selain dari peran pemerintah untuk mendukung kegiatan berkesenian, akomodasi kajian seni yang benar di bangku pendidikan dasar, hingga peran institusi-institusi seni yang kiranya tidak menciptakan elitisme seperti yang saya paparkan di atas. Bagaimana bisa sebuah partisipasi musik berlangsung secara organik apabila institusi-institusi pendidikan musiknya saling menciptakan elitisme? Dalam konteks pendidikan musik di Indonesia, saya pribadi melihat ada optimisme dengan banyaknya institusi pendidikan musik yang saling bekerjasama (paling tidak, di Jakarta) dalam menampilkan konser persahabatan, seminar-seminar musik seni, atau kolaborasi seni berbagai pihak. Proses yang tentu berlangsung secara bertahap ini dapat dilihat pula sebagai bagian dari demokrasi (atau mungkin demokratisasi seni?) yang berjalan sejajar dengan proses demokratisasi pemikiran dan paradigma pendidikan di Indonesia. Memakan waktu, iya; tetapi bukan tidak ada.

Saya ingat, dalam sebuah lawatan ke Kantor Gubernur Makassar, 17 Agustus 2012, saya berpapasan dengan seorang pramuwisma: Seorang bapak berusia sekitar 60 tahun, bersahaja, yang pada saat itu sedang duduk di depan porter. Setelah mengobrol cukup panjang (dan bapak tersebut tahu saya studi musik), beliau berkata, “Sayang sekali ya musik-musik di TV dan radio sudah tidak ada yang menampilkan seriosa. Saya selalu ingat, dulu yang paling bagus membawakan seriosa hanya Pranawengrum Katamsi. Saya selalu mendengar setiap kali beliau tampil di TVRI atau di RRI. Sekarang ke mana ya beliau?” Saya jawab, “Sudah meninggal Pak. Sekarang putri beliau – Aning Katamsi – yang meneruskan menyanyi seriosa. Selain Ibu Aning, banyak juga yang sekarang yang muda-muda nyanyi seriosa,”Lalu terlihat ekspresi wajah bapak tersebut berubah cerah, “Wah, alhamdulillah, seni seriosa itu harus dilanjutkan terus!” Di sana saya merasa optimis dan karenanya, saya tulis artikel ini.

~Penulis adalah mahasiswa pascasarjana Musikologi
King’s College London, 2015-2016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: