Kabar Terkini

Demokratisasi Melalui Digitalisasi: Pro & Kontra

Streaming daring menjamur di mana-mana

Tidak bisa dipungkiri bahwa kemajuan teknologi elektronik dan internet pada abad ini memudahkan khalayak ramai mengakses informasi tanpa kendala geografis. Pertumbuhan kelas menengah Indonesia yang pesat mendorong konsumsi dan pertumbuhan ekonomi; dengan bertambahnya pendapatan riil rata-rata masyarakat Indonesia, permintaan produk elektronik seperti smartphone dan tablet juga naik. Produk elektronik, atau sering disebut gadget, menawarkan banyak fitur praktis yang secara drastis mengubah pola hidup konsumen.

Dalam artikel ini, satu aspek yang ingin saya tekankan adalah meluasnya akses ke musik klasik berbasis streaming yang merajalela di dunia dalam jaringan (daring) ini. Siapa sekarang yang tidak kenal Youtube, situs penyedia video yang paling sering dikunjungi di dunia? Tidak heran banyak yang mengakses situs ini untuk mendengarkan lagu yang baru dirilis atau menonton video-video lucu yang mencatat likes terbanyak. Tidak hanya Youtube, meningkatnya minat konten berbasis streaming memicu pengusaha kreatif untuk mengembangkan produk-produk sejenis seperti iTunes, Spotify, Guvera, Deezer, dsb. Fitur-fitur yang ditawarkan berupa pilihan untuk mengunduh lagu dan mendengarnya di luar jaringan (luring), salah satu opsi yang tidak mungkin di Youtube karena kendala perizinan dari pemegang hak cipta.

Streaming daring menjamur di mana-mana

Streaming daring menjamur di mana-mana

Selain memiliki konten yang variatif dan relatif lengkap, penelusuran informasi juga bersifat instan. Seandainya saya ingin mendengarkan Symphony No. 41 karya Wolfgang Amadeus Mozart, saya hanya perlu duduk di depan komputer, mengetik judul karya tersebut, dan menekan tombol play dalam hitungan detik. Bahkan untuk mencari karya yang belum umum seperti Phantasmagoria karya John Corigliano sangatlah mudah. Beda dengan 20 tahun lalu, untuk mencari lagu harus datang ke toko musik yang jauh dari rumah, dan terkadang CD atau kaset yang diinginkan belum tersedia atau habis terjual. Selain menguras waktu dan tenaga, pengeluaran juga relatif lebih besar karena diharuskan membayar harga penuh satu album biarpun kita hanya ingin mendengarkan satu lagu dari album tersebut.

Dengan bantuan aplikasi-aplikasi tersebut, seni, khususnya musik, mengalami demokratisasi melalui digitalisasi, yang berarti proses konversi informasi dari bentuk fisik menjadi data elektronik. Hasilnya, masyarakat luas dari berbagai golongan bisa menikmati musik streaming tanpa merasa kehilangan waktu dan tanpa terbebani oleh biaya. Selain menguntungkan pendengar, digitalisasi media juga memudahkan pemain-pemain berbagi pertunjukan mereka dengan orang banyak. Apabila saya mencoba mencari lagu Pathétique Sonata karya Ludwig van Beethoven, saya akan dihidangkan ribuan rekaman berbeda, dan tiap rekaman memiliki identitas yang unik.

Perlu diutarakan bahwa musik adalah salah satu jenis seni yang terus hidup dari reproduksi. Sebagai contoh, Brandenburg Concerto No. 1 karya Johann Sebastian Bach diperdanakan di kota Köthen sewaktu Bach menjabat sebagai Kapellmeister. Alat perekam suara tentu belum ditemukan pada zaman itu, alhasil kita sama sekali tidak tahu terdengar seperti apa pertunjukan perdana tersebut. Namun karya tersebut terus dimainkan hingga sekarang oleh berbagai grup yang berlatar belakang berbeda; malah terkadang reproduksi pertunjukan yang terbaru bisa lebih bagus dari reproduksi sebelumnya dari segi kualitas dan musikalitas. Kasus ini sangat berbeda dengan dunia seni rupa; karya orisinal secara de facto memiliki nilai intrinsik yang tidak bisa disamakan dengan karya reproduksi. Apakah orang akan tertarik pada lukisan Mona Lisa tiruan yang dipamerkan di Museum Nasional Indonesia?

Replika Mona Lisa yang mirip tapi tidak sama

Replika Mona Lisa yang mirip tapi tidak sama

Selaku guru musik, saya merasa tertolong oleh kehadiran aplikasi-aplikasi tersebut karena bersifat mendidik dan dapat menuntun murid untuk mengeksplorasi dunia musik dengan sendirinya; walaupun begitu, tidak bisa dibilang serta-merta bahwa penyebaran informasi digital yang serba instan hanya memiliki sisi positif.

Satu sisi yang disayangkan dari industri streaming sekarang ini adalah ketidaklengkapan dan kesemrawutan informasi yang ada pada lagu-lagu yang hendak didengar. Mungkin pembaca yang seumur dengan saya masih ingat di dalam CD atau kaset musik klasik, sering terlampir booklet yang berisikan keterangan tentang karya-karya yang dimainkan berupa sejarah komposisi, sejarah hidup sang komponis, latar belakang orkes yang membawakan karya-karya tersebut, latar belakang pengaba, dll. Namun apabila album yang sama dicari di iTunes atau Deezer, kemungkinan besar semua informasi yang disebut di atas sama sekali tidak ada. Hal ini dapat merugikan pencinta opera atau tembang putik yang ingin bisa mengikuti alur cerita dengan membaca libretto atau teks lagu. Perusahaan Apple yang mengelola iTunes menegaskan bahwa label rekaman yang ingin melampirkan booklet elektronik di album yang hendak dijual harus melalui quality control atau pengendalian kualitas yang dinilai ketat dan harus mengikuti format yang diterapkan Apple. Selain itu, Apple pun tidak memperbolehkan label rekaman untuk melampirkan booklet elektronik di album yang sudah dirilis di Apple Store.

Kendala berikutnya adalah perekonomian musik streaming yang sangat merugikan banyak label rekaman musik klasik. Berdasarkan angka-angka yang saya peroleh dari situs Gramaphone, perusahaan-perusahaan musik streaming diberitakan membayar royalti rerata antara $0.006 dan $0.0084 per sekali streaming, jumlah yang bisa dibilang sangat kecil. Rintangan yang harus dihadapi label rekaman musik klasik sangatlah berat karena musik klasik hanya mencapai 3,2 persen pangsa pasar, jauh dari musik pop yang mencapai 34,5 persen. Untuk mengatasi agar label rekaman tidak merugi, lagu-lagu yang dirilis harus dimainkan banyak kali, tetapi siapa yang sanggup mendengarkan banyak kali gerakan pertama dari Symphony No. 1 karya Anton Bruckner yang panjangnya bisa mencapai 20 menit? Diberitakan juga bahwa untuk merekam satu album dibutuhkan biaya yang tidak sedikit, dari harga $15.000 hingga $60.000 tergantung pada kebutuhan studio: apakah mereka menggunakan orkes besar, jumlah personil yang ikut  tergabung dalam proses rekaman, dll.

Biaya rekaman skala besar seperti ini memakan biaya yang cukup besar

Biaya rekaman skala besar seperti ini memakan biaya yang cukup besar

Karena banyaknya rintangan yang dihadapi oleh sejumlah label rekaman musik klasik, banyak di antara mereka mengambil keputusan untuk tidak menyediakan layanan streaming dan bergantung pada penjualan CD dan digital download (pengunduhan digital). Sebagai contoh, pada tahun 2013, studio Hyperion Records memproduksi album vokal Barok yang mendapat banyak pujian dari berbagai media, tetapi memakan biaya sebesar £36.000. Lewat penjualan CD sebanyak 2,104 keping, Hyperion meraup keuntungan sebesar £10,847 dan £2,152 lewat digital download. Namun 34,947 kali streaming di iTunes Radio hanya membawa keuntungan sebesar £22.13. Memang sangat disayangkan.

Walaupun demokratisasi seni melalui digitalisasi menuai banyak keuntungan bagi pengguna yang ingin sekedar menambah wawasan musik, perlu diperhatikan juga efek samping negatif yang diakibatkannya. Perlu adanya dan terjaganya ekosistem yang menjamin keberlangsungan perusahaan kreatif dan label rekaman yang terus membawakan kita, konsumen, sajian seni. Dan sering kali kita mengidentikkan perkembangan teknologi dengan akses informasi instan, tetapi apakah kualitas informasi juga terjamin? Alangkah indahnya apabila semua album yang dijual dan di-streaming di daring mempunyai booklet.

About Hazim Suhadi (13 Articles)
I'm a classical pianist, but in my spare time I'd like to do things that musicians don't normally do, like rock climbing in the highlands of Dieng or eating at kaki-lima by the dusty streets saturated with commuters. I enjoy a drink or two with good company. So hit me up!

1 Comment on Demokratisasi Melalui Digitalisasi: Pro & Kontra

  1. oya sepertinya mosi bikin label dan merelease sendiri ini juga banyak menjangkit banyak opera companies dan symphony orchestras yang cukup besar. Mereka bikin label sendiri untuk dipasarkan sendiri via web mereka yang sepertinya akan lebih menguntungkan untuk organisasi mereka dibanding dijual bebas terpisah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: