Kabar Terkini

Ayo Anak Berkebutuhan Khusus Bermain Musik!


Participation in music is both a human right and a disability right.” – Prof. Alex Lubet, School of Music, University of Minnesota.

Pernyataan dari Alex Lubet dalam artikel jurnal yang ditulisnya menegaskan bahwa bermain musik merupakan hak semua orang tanpa terkecuali. Terlepas dari kekurangan yang dimiliki, anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus juga berkesempatan untuk mengembangkan bakatnya. Meskipun memiliki kekurangan, bukan berarti anak berkebutuhan khusus tidak memiliki kemampuan untuk bermain musik. Musik tidak hanya dapat digunakan sebagai media agar anak-anak dapat tampil, tetapi juga dapat digunakan untuk di sekolah maupun di keluarga.

Masih ingat dengan Hee Ah Lee? Dia adalah seorang pianis asal Korea yang hanya memiliki 2 jari di masing-masing tangannya dan tidak memiliki kaki. Hal ini disebabkan karena ibu dari Hee Ah Lee meminum obat mabuk darat dan tidak tahu bahwa dirinya sedang hamil. Hee Ah Lee, yang memiliki kekurangan fisik dan mental, tidak memiliki keinginan sama sekali untuk menjadi seorang pemain piano. Awalnya Hee Ah Lee bermain piano sebagai sebuah bentuk terapi musik agar tangannya lebih kuat untuk bisa memegang pensil. Berjalannya waktu, Hee Ah Lee jatuh cinta pada piano dan terus mencoba berlatih. Guru pianonya tidak mendukung Hee Ah Lee karena keterbatasan yang dimilikinya dan menganggap Hee Ah Lee tidak berbakat. Bahkan dokter juga melarangnya untuk bermain piano, karena jika mengingat lagu lebih dari 5 menit hal itu dapat mengganggu otaknya. Tetapi berkat kegigihan Hee Ah Lee, akhirnya dia bisa mahir bermain piano dan memenangkan banyak penghargaan di berbagai kompetisi piano. (Lebih lanjut kisahnya dapat dibaca di http://www.godsdirectcontact.org.tw/eng/news/186/bp_32.htm dan http://www.dailymail.co.uk/news/article-2137168/Lee-Hee-Ah-26-concert-pianist-4-fingers.html)

Hee Ah Lee, pianis berjari 4

Orang-orang yang memiliki kebutuhan khusus di Indonesia juga sebenarnya sudah memiliki kesempatan untuk bisa menampilkan bakat musiknya. Salah satu ajang pencarian bakat yang sempat terkenal tahun 2007 sampai 2010, Mamamia, sudah dua kali menerima peserta tunanetra untuk mengikuti kompetisi tersebut. Universitas Pelita Harapan juga pernah mengadakan sebuah konser di mana para pemainnya adalah anak-anak berkebutuhan khusus. Konser bernama “Mengejar Mimpiku” ini memberikan kesempatan untuk anak-anak tuna netra, tuna rungu, tuna wicara, tuna daksa, tuna grahita, dan tuna ganda untuk tampil dalam sebuah konser dengan skala yang cukup besar. Memang biasanya anak-anak berkebutuhan khusus yang berada di bawah panti asuhan mendapatkan kesempatan untuk bermain musik, namun hanya dapat tampil dalam skala kecil. Padahal bisa saja kualitas bermusik yang dimiliki oleh anak-anak dengan kebutuhan khusus sama atau lebih baik dari yang tidak memiliki kekurangan.

Kenyataannya memang tidak mungkin memaksakan semua anak berkebutuhan khusus untuk bermain musik. Misalnya anak tuna daksa yang tidak memiliki jari yang lengkap dipaksakan untuk bermain biola. Tetapi bila memang anak benar-benar berminat dan tertarik belajar, lebih baik kemampuannya terus dikembangkan dengan segala keterbatasan yang dimilikinya dan tidak langsung mematahkan semangat sang anak. Dukungan perlu ada di lingkungan sekolah dan keluarga. Pada lingkungan sekolah sendiri, Alex Lubet melakukan studi kasus pendidikan inklusi di Amerika Serikat dan dia menemukan hampir tidak ada sekolah musik inklusi ataupun kurikulum pendidikan musik yang inklusi di sekolah-sekolah. Padahal dengan adanya program inklusi di sekolah, artinya anak berkebutuhan khusus memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan kemampuannya seperti teman-temannya yang tidak memiliki kekurangan.

Orang tua yang melihat ada potensi bermusik pada anak namun dirinya tidak bisa bermain musik tidak perlu khawatir, karena membantu kemampuan bermusik anak dapat dilakukan secara sederhana. Elaine Streeter dalam bukunya “Making Music with the Young Child with Special Needs: A Guide for Parents” memberikan contoh bermain tepuk tangan bersama anak saja bisa membantu anak untuk belajar musik, misalnya mengetahui keras dan lembut, cepat dan lambat, dan belajar mengimitasi tepukan tangan.

Elaine Streeter juga memberikan informasi manfaat bermain musik bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Pertama musik bisa mengembangkan kemampuan berbahasa. Misalnya anak yang memiliki kesulitan berbicara berusaha mengimitasi suara alat musik yang dimainkan dengan mulutnya, hal ini melatih anak agar dapat memproduksi suara yang dibutuhkan untuk berbicara. Musik juga bisa melatih kemampuan fisik dari anak. Ritme yang terdengar dari musik dapat membantu anak-anak berkebutuhan khusus untuk bergerak dan melatih kemampuan fisiknya, misalnya dengan bergerak sesuai tempo yang dimainkan. Musik dapat juga digunakan untuk membina hubungan dengan orang lain. Jika orang tua bermain musik dengan anaknya, maka orang tua dapat membina hubungan lebih erat dengan anaknya dengan menjadikan musik sebagai media komunikasi. Ryan Judd, musik terapis asal Amerika yang berfokus pada anak-anak berkebutuhan khusus, dalam website bernama http://www.therhythmtree.com/ membuat sebuah infografik yang menarik tentang manfaat bermain musik pada anak-anak berkebutuhan khusus.

Manfaat bermain musik menurut Ryan Judd

Musik bukan hanya hak bagi anak-anak yang tidak memiliki kekurangan di tubuhnya, tetapi juga hak untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Anak berkebutuhan khusus juga sebaiknya diberikan kesempatan yang sama dalam mengembangkan bakatnya, terlepas dari kekurangan yang dimilikinya. Pengembangan musik pada anak berkebutuhan khusus tidak hanya perlu kerjasama dari keluarga, tetapi juga sekolah dengan menerapkan program inklusi untuk pendidikan musiknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: