Kabar Terkini

Pamer: Interaksi Kapital Budaya dan Kelas Sosial


Dalam keseharian kita sering melihat individu-individu yang sering terlibat dengan seni, terutama sebagai penikmat tapi dipenuhi tanda tanya. Apabila kita dekati dan ajak berbicara, nampakya mereka juga tidak begitu antusias menikmati karya seni tersebut, tidak terlibat di dalamnya, ataupun tidak begitu tertarik untuk memahami karya seni itu. Tapi entah mengapa mereka merasa perlu ada di sana dan terlihat paham atau bahkan pura-pura paham. Gejala macam apa ini dan konsep macam apa yang ada di baliknya?

Pamer dan Veblen

Di tahun 1899, ekonom dan sosiolog, Thorstein Veblen telah melihat kecenderungan timbulnya suatu kelas di masyarakat yang dinilai baru. Sebagai seorang Norwegia, ia melihat gejala timbulnya sebuah masyarakat baru di Amerika Serikat yang sedang bertumbuh pesat di akhir abad 19. Dalam bukunya ‘Theory of the Leisure Class’, ia mengemukakan secara satir bagaimana sebuah kelas sosial baru muncul yang saat terjadinya revolusi industri kedua di mana terjadinya ledakan industri yang luar biasa di paruh kedua abad 19 hingga sebelum Perang Dunia I.

Veblen kemudian mengungkapkan munculnya kelas sosial baru yang didorong oleh kapitalisme ketika itu yang memiliki perilaku yang cukup berbeda. Kecenderungan mereka dapat dilihat dari sisi pola konsumsi mereka yang sebenarnya tidak untuk memenuhi kebutuhan mereka yang sesungguhnya. Foya-foya dan membuang waktu adalah bagaimana Velben melihat mereka melakukan konsumsi untuk terlihat ‘beda’ di mata masyarakat. Pola konsumsi ini juga lebih mengarah kepada membeli suatu barang/jasa bukan untuk memenuhi kebutuhan lewat fungsional barang tersebut, tapi lebih untuk sarana pamer dan meninggikan derajat sosial mereka yang menjadi konsumennya.

Demografi ini cukup mewabah kala itu, sebagai jawaban atas bangkitnya kelas sosial baru yang berpapasan dengan runtuhnya kelas sosial lama para bangsawan di Eropa maupun iklim demokrasi yang segar dan mencapai puncaknya di Amerika Serikat. Paham kebebasan dalam demokrasi kemudian juga berbaur dalam paham kapitalis liberal di mana tiada lagi kelas-kelas sosial yang di atas ataupun di bawah berdasarkan strata kedudukan politik warga negara. Satu-satunya penanda kekuasaan dan status yang dibukakan bagi setiap orang dan lebih bersifat informal namun cukup menetap di masyarakat yaitu status yang diperoleh gaya hidup dan uang mereka. Konsumsi pamer (Conspicuous consumption) menjadi salah satu penanda yang paling signifikan dari kelompok ini di mana kapital dan gaya hidup kemudian mampu terpancar dengan jelas menjadi penanda kelas sosial.

Konsumsi pamer ini, lanjut Veblen, kemudian terbagi menjadi dua lewat bagaimana mereka memandang apa yang mereka konsumsi, konsumsi individu yang berasal dari mereka yang memang punya, merasa punya kapital dan diperuntukkan untuk pemenuhan kebutuhan sosial mereka, dan untuk membedakan individu dari sesamanya di kelas tersebut. Yang kedua adalah kepura-puraan berduit (Pecuniary emulation) lahir juga di kalangan masyarakat dengan kelas strata budaya dan ekonomi berusaha berlebihan untuk naik jenjang peringkat untuk mengkonsumsi lebih banyak dan menyamakan diri dengan mereka yang ada di kelas atasnya sehingga terhitung di antara mereka yang ada di kelas atas.

Veblen kemudian mencatat bahwa perilaku pamer dan konsumsi yang mendukungnya ini merupakan sebuah perilaku untuk unjuk superioritas di hadapan orang lain. Karena ini, sebuah  kaum elité terlahir lewat permainan persepsi yang juga mendorong individu lain untuk mengikuti perilaku mereka ini untuk supaya juga terhitung dalam kalangan yang dianggap lebih superior. Menurut Veblen, hal ini merusak seluruh tatanan masyarakat yang terjebak dalam lingkaran konsumsi pamer.

Budaya sebagai Kapital

Di lain pihak, budaya/kultur sebagaimana dalam pandangan pemikir, sosiolog dan antropolog Pierre Bourdieu juga menjadi salah satu elemen penting sebagai pembentuk masyarakat. Selain ekonomi dan sosial, budaya juga dimasukkan sebagai salah satu kapital dimana menjadi modal sekaligus alat tukar di antara anggota masyarakat yang ada dan dipandang sebagai salah satu penentu yang cukup penting. Kapital budaya sendiri dapat berupa pengetahuan, keahlian, pendidikan, dan keunggulan lain, seperti aksesibilitas dan kemampuan berbahasa.

Bagi Bourdieu, budaya memiliki tiga bentuk sebagai sebuah kapital. Ia berwujud namun seringkali tidak dapat dipindahtangankan sebagaimana kemampuan membuat origami, ataupun gaya hidup yang dibentuk oleh eksposur bertahun-tahun lewat sosialisasi. Namun, ia juga dapat berwujud seperti sebuah karya seni, di mana dapat dipindahtangankan dan dapat dikonsumsi. Juga dapat pula terinstitusi, sebagaimana sebuah panggilan dapat menunjukkan latar belakang dan eksistensi seseorang yang berpengaruh pada bagaimana orang lain melihat orang tersebut.

Kapital budaya menurut Bourdieu dalam bukunya “Le Distinction”, menjadi sebuah faktor pembeda dan modal akan terbentuknya stratifikasi sosial yang ditentukan oleh kepemilikan mereka akan kapital tersebut bersama dengan kapital sosial dan kapital ekonomi. Meskipun terbatas oleh habitus – tempat mereka tinggal, seringkali kapital budaya dikumpulkan untuk membedakan orang tersebut dari strata sosial yang ada di bawahnya. Kapital budaya dan persepsi akan kapital tersebut dibentuk dari bagaimana individu tersebut dididik di keluarga dan di masyarakat di mana ia kemudian besar dan hidup.

Seni dalam kerangka budaya dilihat sebagai sebuah perwujudan dari sebuah kapital budaya. Baik dalam bentuknya sebagai sebuah keahlian (misal kemampuan bermain harpa, kemampuan mengapresiasi pertunjukan) dan juga kepemilikan akan barang seni. Kesemuanya menjadi sebuah kapital di mana anggota masyarakat kemudian berebut untuk memperkaya dirinya dengan kapital tersebut, terlebih dalam masyarakat yang memandang seni sebagai sebuah kepakaran tersendiri yang unik dan bernilai tinggi. Pun dapat diafirmasi bahwa tidak semua orang memiliki akses dan pengetahuan yang sama akan seni sehingga memiliki signifikansi yang berbeda.

Dalam masyarakat Kalula yang diteliti oleh etnomusikolog Stephen Feld, suasana yang egalitarian dan seni yang mengakar pada alam dan masyarakatnya yang tanpa kelas sosial, kemampuan bernyanyi tidak menjadi sebuah kapital budaya dalam masyarakat itu. Sebagian disebabkan oleh ketiadaan kelas sosial dan seni bernyanyi mereka adalah aset setiap bagian dari masyarakat. Oleh karena itu tidak ada motivasi bagi mereka untuk menguasai kapital seni ini untuk membedakan mereka dalam kelas sosial masyarakat mereka, karena memang tidak ada kelas sosial tersebut dan tidak adanya cara untuk naik dan turun dalam kelas tersebut.

Dalam masyarakat kita yang cenderung hierarkis di mana keahlian seni dipandang sebagai sebuah kecakapan tersendiri, kapital budaya ini melintas dengan besarnya untuk membedakan kelas sosial yang satu dari yang lain. Dan dalam masyarakat kita yang cukup global saat ini, kemampuan untuk mengerti akan seni juga berhubungan erat dengan kapital sosial yang lain yakni tingkat pendidikan yang semakin diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Aaron Reeves dari Departemen Sosiologi Oxford University (artikel ini). Kemampuan untuk menikmati seni juga berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk meluangkan waktunya untuk menikmati seni tersebut ataupun mendapatkan akses akan seni tersebut yang identik dengan kalangan kelas atas di mana hal ini secara tidak langsung berkaitan dengan kapital ekonomi di mana yang dapat meluangkan waktu dan dapat bepergian untuk mengunjungi seni adalah mereka yang cukup uang untuk transportasi dan mampu menyokong diri untuk punya waktu luang tersebut.

Maka dari itu, kita akan melihat keterkaitan akan pemikiran Pierre Bourdieu di era 1960-an dengan komsumsi pamer yang ditelurkan oleh Thorstein Veblen, bahwa akan muncul kelas tertentu dan bukan hanya yang berpunya, melainkan mereka yang ingin terlihat seakan mereka memiliki kapital budaya tersebut parade di masyarakat kita. Kapital budaya adalah salah satu kapital yang berpengaruh besar dalam kehidupan kita dan seni pun perlahan menjadi bagian dari kapital budaya yang dipamerkan untuk sebuah pembedaan. Tidak heran bahkan banyak anak muda yang mungkin datang ke festival akbar seperti Java Jazz, untuk terlihat hip, cool dan sophisticated. Juga tidak sedikit yang terjebak dalam kecenderungan check-in berlebihan untuk menunjukkan superioritas diri lebih eksis dan gahul dibanding sebayanya.

Pandangan seni sebagai kapital budaya yang dipertarungkan dan menjadi identik dengan kalangan atas akhirnya juga berpengaruh pada pentingnya seni menjadi supaya menjadi milik rakyat biasa, karena rakyat biasa juga ingin memiliki dan menikmati kapital budaya tersebut. Pertanyaan bahwa pemerataan akses kapital perlu jugakah berlaku dalam kapital budaya dalam berbagai perdebatannya, akhirnya juga dibawa ke permukaan dalam diskusi demokrasi.  Pandangan pemerataan kapital budaya inilah yang kemudian menjadi cikal bakal demokratisasi seni.

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

4 Comments on Pamer: Interaksi Kapital Budaya dan Kelas Sosial

  1. Gw pernah mengalami fenomena “Veblen goods” ini dalam konteks fotografi analog.

    Penggemar fotografi tentu tahu Leica: a beautiful piece of engineering, dan sampe sekarang juga masih mahal biarpun udah lebih dr 50 tahun.

    Nge-shoot pake Leica itu gak terlalu fun, dan jujur aja kita sebenernya bisa beli kamera SLR Canon/Nikon yg fungsinya sama dengan harga lebih murah.

    Trus kalo gitu kenapa pake Leica? Well, mayoritas Leica user itu orang kaya atau fotografer berpengalaman. Bukan anak kemarin sore. Ya buat pamer aja sih :p

  2. hehehe. semua orang pernah kok seperti itu, bahkan anak2 yang merengek dibeliin game console ataupun mainan karena temen2nya pada punya pun ada faktor ini juga…😀

  3. Sebagai pelaku seni, untungnya gw ngga merasa terganggu dengan fenomena pamer ini. Apresiasi dangkal masih lebih baik daripada ngga ada apresiasi sama sekali, apalagi di dunia tari yang kayak anak tiri dalam bidang kesenian, hampir dimana pun di seluruh dunia😛

    Tapi tentu aja dengan segala cara dan strategi gw berusaha untuk berbagi informasi tentang seni yang gw geluti & cintai, mungkin dengan alasan yang sama blog A Musical Promenade ini dibuat, which is a joy to read. So, thank you for coming up with this🙂

  4. sama2, anindochka. Memang tidak ada yang salah dengan perilaku ini. Tapi ya memang harus diawasi saja sih supaya ga bablas… hahaha… Terimakasih sudah berkunjung ya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: