Kabar Terkini

Gamelan, Karya Kini dan Universalitas


Perjumpaan dengan gamelan Jawa bisa jadi saat yang membawa kesan berbeda akan khasanah bunyi di telinga kita. Pada saat itulah yang kemudian membawa banyak penikmat bunyi kemudian mendekat kepada perangkat instrumen perunggu yang seringkali malah jadi tamu di negeri sendiri. Kali ini, lima komponis dari berbagai belahan dunia yang terpesona dengan ‘orkestra’ ini kemudian menuliskan karya komposisi untuk gamelan yang diperdanakan malam Minggu ini dalam Gamelan Composers’ Forum yang diadakan untuk mendorong penciptaan musik baru gamelan.

Ears to Earth karya Susan Brewster menjadi pembuka konser yang diikuti dengan diskusi ini. Karyanya dimulai  dengan manipulasinya pada ‘lagu’ elektromagnetik bumi dalam rupa bunyi-bunyi desis dan sferik yang menemani di sepanjang karya. Gamelan pun kemudian masuk menjawab dengan bukaan klasik, dengan slenthem dan bonang membuka dengan balungan, yang kemudian diikuti permainan gender dan kendang dengan permainan gongan layaknya sebuah permainan gamelan klasik, namun apabila cermat terasa bahwa karya ini adalah sebuah gubahan  baru yang berbeda. Brewster yang adalah komponis AS yang kini bermukim di London mengungkapkan senandung bisikan batin untuk mendengarkan alam. Lewat pesindhen Cathy Eastburn yang dengan warna suara Jawa menyanyikan teks berbahasa Inggris dan menyajikannya dengan referensi konsep teoritis pada karawitan klasik yang cukup kental meskipun teknik gembyang yang dibutuhkan bukanlah teknik yang mudah dan natural, sebut seorang pemain dalam diskusi.

Dennis Reyes seorang komponis Filipina yang kini berkarir di Amerika Serikat memiliki konsep yang berbeda. Permainannya pada tempo, ia kemudian memodifikasi konsep keleluasaan pada gamelan dan mencocokkannya dengan soundscape yang ia ciptakan lewat manipulasi suara gamelan yang telah diolah sebelumnya. Ticker kemudian menempel di telinga yang memberi arahan tempo musik yang dimainkan, sebuah konsep yang bahkan asing dan mengikat bagi pemain-pemain gamelan asal Eropa ini. Potongan dan manipulasi dari karya gamelan tradisi — Wilujeng kemudian berbaur dalam musik yang mereka mainkan secara hidup. Nada-nada berulang berturutan dengan suksesi cepat dimainkan pada slenthem, sebuah permainan yang di luar kebiasaan. Di bagian akhir Reyes yang berada di balik kendali elektronik kemudian menangkap suara yang dimainkan kemudian mengolahnya dan memberikan amplifikasi pada seluruh ruangan.

Karya Charles Matthews malah berbeda sama sekali, di mana kegelapan dan cahaya menjadi bagian yang utuh dari karya gamelannya. Sebagai seorang komponis yang pernah menempuh pendidikan di ISI Surakarta, Matthews malah membuka kebebasan yang luas bagi para pemain, untuk menafsirkan karya yang ia buat, lewat instruksi yang cukup minimal. Charles Matthews yang juga adalah anggota Southbank Gamelan Players yang bermain malam ini kemudian berkonsentrasi mengolah kethuk kempyang dengan perlengkapan ciptaannya yang merespon pada cahaya dan membunyikan dengung di atas kempyang bersama dengan Jonás Bisquert. Dengung kethuk pun berpendar cahaya, menciptakan efek yang magis. Cahaya kemudian sambil lalu, berpendar dan berdengung lirih menjawab permainan ensembel yang mendengungkan nada jarang-jarang. Kesunyian yang transparan pun bercampur dengan dengung, menciptakan ilusi aural. Karyanya ini diberinya tajuk Brief Transparancies.Southbank Gamelan Composers1

Patrick Hartono, komponis asal Indonesia yang kini bermukim di Belanda memberikan warna yang berbeda. Dalam komposisinya Circles, Hartono merentang batas kebebasan dari pemusik yang identik dengan permainan gamelan untuk semakin lebar. Terkesima dengan Cathy Eastburn yang mampu membangun pendengaran absolut untuk karya gamelan dengan menanggalkan pendengaran absolut musik baratnya, sebuah langkah paradox yang jarang terjadi, Hartono kemudian menciptakan sebuah ruang spektral elektronik. Ruang maya ini diisi dengan manipulasi suara yang hanya dapat dipicu oleh frekuensi nada tertentu yang dinyanyikan oleh pesindhen. Di dalam ruang inilah Eastburn dengan intonasi sempurnanya dalam menyindhen dapat bermain dengan bebas dan berimprovisasi menentukan sendiri bentuk karyanya sembari bermain dengan wahana suara yang dibangun oleh komponis elektroakustik ini, sebuah alam permainan yang menurut komponis muda kelahiran Makasar ini, diciptakan khusus untuk Eastburn yang memanipulasi suaranya dalam auditorium yang kembali menggelap dan hanya diterangi proyeksi cahaya spektral yang disusun sang komponis.

Karya yang terakhir dari Teruo Yamasaki bertajuk Crossing kali ini berfokus pada permainan gamelan akustik tanpa manipulasi elektronik. Yamasaki yang tertarik mengawinkan estetika musik Jawa dan Jepang, dalam karya ini mencoba menyeberang lewat karyanya. Laras slendro kuno yang dipercaya diciptakan oleh Sang Hyang Hendra dimainkan dan membangun kekhusyukan yang padu. Meninggalkan instrumen kendang dan gong, karya bersahut di udara, dengan bonang, gendher, dan slenthem berbaur jadi satu. Tak berapa lama, dengan sebuah nada titian, karya kemudian berbalik menggunakan laras pelog, sebuah laras yang lebih bersifat keduniawian dengan permainan yang sedikit lebih menjejak bertenaga, berjawab secara sekuensial, porsi potongan slendro dan pelog perlahan memendek seiring dengan pergantian keduanya, yang kemudian berbalas satu dengan yang lain ketika potongan frase masing-masing berjawab pendek, menciptakan suasana yang berbeda, seakan dua orang yang saling berpapasan, serupa tapi asing satu dari yang lain.

Penampilan malam ini tidak akan mungkin tanpa nayaga (pemain gamelan) Eropa yang telah fasih bermain gending dan tergabung dalam ensembel gamelan Southbank Gamelan Players yang beranggotakan Robert Campion, Cathy Eastburn, Charles Matthews, Bradley Smith dan Aris Daryono yang juga bertindak sebagai tutor. Jonás Bisquert yang adalah yogo dari Ensemble Gending asal Belanda juga memperkuat barisan semalam. Nyatanya gamelan perunggu yang kaya juga bersahut dengan bebunyian elektronik yang hangat, menjadikan Gamelan Composers’ Forum London ke-3 ini tontonan yang mencerahkan menyajikan dimensi universal kini dari sebuah tradisi.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: