Kabar Terkini

Dalam Dekapan Damai: Perayaan Persahabatan yang Hangat


¬oleh Jonathan C.T. Wibowo

“Bleib bei uns, denn es will abend werden…!”
(Tinggallah bersama kami karena malam telah tiba…!)

Inilah bisik nyanyian yang sayup-sayup terdengar membuka konser di Aula Simfonia Jakarta, Rabu malam (21/10) kemarin. Ajakan untuk tinggal sejenak, melupakan segala yang ada di luar sana, dan pindah ke dimensi lain. Dimensi di mana melodi dan harmoni menyatu menjadi santapan yang menyegarkan jiwa… Dan ya, kami sungguh beruntung menerima ajakan Rundfunkchor Berlin tersebut! Bersama menikmati sajian yang berkesan dan penuh kehangatan.

Tahun ini, Indonesia mendapat kehormatan menjadi tempat diselenggarakannya Jerman Fest 2015. Jerman Fest merupakan sebuah inisiatif dari Kementerian Luar Negeri Jerman yang dirancang untuk memperkuat hubungan Indonesia dan Jerman, serta menjadi fondasi yang kokoh untuk bersama menuju masa depan, gemeinsam richtung zukunft[1].

Bagian dari Jerman Fest, para pecinta musik ibukota dihadiahkan kesempatan untuk menyaksikan salah satu paduan suara kampiun dunia, Rundfunkchor Berlin (Berlin Radio Choir). Tiga Grammy Awards menjadi jaminan mutu paduan suara yang telah berdiri sejak tahun 1925. Repertoar yang luas dan karakteristik suara yang fleksibel membuat paduan suara ini menjadi mitra berbagai orkes dan dirigen kawakan dunia, antara lain Simon Rattle, Christian Thielemann, dan Daniel Barenboim. Dalam misi kebudayaan ini, Rundfunkchor Berlin tampil di tiga kota besar di Indonesia, yakni Jakarta, Medan, dan Bandung. Di masing-masing kota, Rundfunkchor Berlin mengajak paduan suara lokal untuk berkolaborasi bersama mengangkat esensi utama Jerman Fest: perayaan persahabatan. Di Jakarta kemarin, mereka menggandeng Paduan Suara Mahasiswa Universitas Indonesia Paragita. Membawakan konser bertajuk “Hülle dich in Frieden” (Dalam Dekapan Damai), mereka tampil di Aula Simfonia Jakarta membawakan berbagai khazanah karya komponis Jerman dan Indonesia.

Dengan senyum hangat tersungging di bibirnya, Simon Halsey, sang pengaba, menggerakan tangannya dan membuka seluruh rangkaian konser dengan Abendlied, Op. 69 No. 3 karya Joseph Gabriel Rheiberger. Keheningan malam itu kini diisi bisikan lembut nan merdu Rundfunkchor Berlin dan Paragita, mengajak pendengar larut dalam romantisme Jerman yang pekat. Terbuai dalam harmoni indah nyanyian malam yang menyentuh sukma, kita diajak mundur lebih kurang 200 tahun ke belakang dengan karya renaisans “Die mit Tränen säen” gubahan Heinrich Schütz. Pesan Mazmur 126 : 5—“Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.”—berhasil disampaikan dengan lugas dan hidup, mengisi ruang kosong dalam benak penonton.Rundfunk Paragita2

Ternyata kejutan kolaborasi Rundfunkchor Berlin tidak hanya sampai di situ! Dalam pagelaran kemarin, tak dinyana, mereka juga mengajak penonton untuk menyanyi bersama (mitsingen). Dua buah karya mereka nyanyikan bersama suara-suara dari bangku penonton: Nachtlied, Op. 138 No. 3 karya Max Reger dan Waldesnacht, Op. 62 No. 3 karya Johannes Brahms. Maestro Halsey tampil dengan enigma yang menguasai seluruh “paduan suara penonton” yang memenuhi tribun di belakang panggung. Suasana baru terjalin lebih intim di mana penonton kini menjadi bagian dari sajian itu sendiri. Sebuah pengalaman yang tak mungkin terlupa; semua melebur menjadi satu dalam gerak pandu sang pengaba. Harmonis. Coba bayangkan apabila “paduan suara penonton” ini bukan hanya mengisi tribun belakang panggung, melainkan juga duduk tersebar di seluruh penjuru Aula…

Rundfunkchor Berlin dan Paragita kembali menguasai panggung dengan Fünf Gesänge Op. 104 dari Johannes Brahms. Lima buah karya pendek dengan nuansa berbeda menghadirkan warna tersendiri dalam konser kemarin. Simplisitas Brahms dalam karya-karya ini menjadi tantangan besar bagi paduan suara untuk menyajikannya sebagai suatu kisah bersambung, bukan sekedar kompilasi cerita pendek. Masih dalam kiblat romantisme Jerman yang menggebu, Franz Schubert “Der Tanz” menjadi sajian berikutnya. Dalam karya ini musisi kawakan Indonesia, Budi Utomo Prabowo, didaulat mendampingi Maestro Halsey mengiring Rundfunkchor Berlin dan Paragita melalui denting pianonya. Permainan piano Tommy—sebutan akrab sang pianis—yang lincah dan hidup memperkaya warna dalam karya ini. Rundfunkchor Berlin dan Paragita juga aktif merespon antusiasme konduktor dan pianis, sampai-sampai tak ada yang menyangka bahwa karya ini telah mencapai akhirnya.

Sekarang giliran Paragita yang menampilkan kebolehannya. Membawakan dua buah karya Indonesia, “Sahabat Setia” aransemen Budi Susanto Johanes dan penulis syair Tengsoe Tjahjono, serta “Indonesia Bumi Persada” aransemen Binsar Sitompul. Dengan yakin Aning Katamsi naik ke podium dan membimbing Paragita mendendangkan bagiannya. Karya-karya ini dibawakan dengan pendekatan yang amat personal. Karya pertama yang begitu kontemporer dibawakan dengan lincah namun mesra, menggambarkan ikatan jiwa yang bersatu dalam bingkai persahabatan. Paragita mampu menyajikan degup kontemporer yang perkusif, namun tetap diimbangi dengan alur melodi yang musikal. Sebuah sajian yang impresif! Begitu pula dengan karya kedua yang lebih liris. Interpretasi yang reflektif dan introspektif begitu terasa mengisi kalbu. Iringan piano Tommy yang sensitif dan melankolis juga menambah keintiman dalam karya ini.

Menanggapi penampilan Paragita membawakan karya Indonesia, Rundfunkchor Berlin kini juga ikut naik ke panggung, membawakan karya “Pagi Bening” gubahan Mochtar Embut. Karya Embut yang terkenal dengan introversitasnya mampu disajikan dengan apik oleh mereka. Kebersahajaan menjadi titik temu Rundfunkchor Berlin dan Paragita dalam menginterpretasikan karya ini. “Lukisan Tanah Air” karya Yongki Djauhari aransemen Ken Steven merupakan sajian berikutnya. Terlihat kematangan Rundfunkchor Berlin dan Paragita dalam berkomunikasi satu sama lain. Efek-efek bunyi seperti siulan burung, decak tari kecak, serta potongan-potongan lagu tradisional menambah nuansa di dalamnya. Solis Adjie Kasyono juga membawakan karya ini dengan amat mendalam, menggugah jiwa seluruh isi Aula untuk turut serta menggumamkan melodi indah lagu ini. Warna suara Adjie begitu melekat dengan karya ini. Membekaskan ruang impresi yang menggurat senyum.

Apabila konon Dewa Kama memiliki anak panah yang mampu menaklukkan hati insan dalam buaian cinta, Zigeunerlieder, Op. 103 karya Johannes Brahms malam itu menjadi anak panah Rundfunkchor Berlin dalam menaklukkan hati semua yang mendengar. Kumpulan lagu-lagu gypsy yang dikemas dalam format paduan suara dan piano oleh Brahms membawa atmosfer baru dalam konser malam itu. Rundfunkchor Berlin berhasil membawa suara-suara indah Eropa ke Aula Simfonia Jakarta. Didukung permainan piano Tommy Prabowo yang virtuostik namun tetap dalam pagar konservativitas Brahms, Maestro Halsey memimpin Rundfunkchor Berlin membawakan lagu-lagu bernuansa gypsy dengan tetap bergaya Jerman. Semuanya masih tergambar jelas hingga kini…

Konser malam itu ditutup dengan karya akbar Arnold Schönberg “Friede auf Erden”, Op. 13. Kembali berkolaborasi dengan Paragita, Rundfunkchor Berlin menutup pagelaran malam itu dengan salah satu komposisi paduan suara yang paling sulit—menurut sang pengaba. Gaya musik kontemporer dengan pelbagai kompleksitasnya menjadi tantangan setiap musisi untuk membawakannya. Tangga nada, ritme, serta warna musikal, semuanya berbeda dari gaya musik sebelumnya. Menyiratkan sebuah tanggung jawab besar untuk membuat pendengar tetap menikmati sajian ini. Dan malam itu, Rundfunkchor Berlin dan Paragita menunaikan tanggung jawab ini dengan paripurna. Penulis sendiri tidak pernah menyangka bahwa Schönberg bisa semelodius itu! Atonalitas[2] yang menjadi karakter Schönberg seolah “bertransformasi” menjadi melodi indah khas Mozart dua ratus tahun sebelumnya. Miris apabila diketahui bahwa karya ini ditulis tahun 1907 berdasarkan puisi Conrad F. Meyer: “Peace on Earth”, beberapa tahun sebelum pecah Perang Dunia I.

Tak diragukan lagi, Rundfunkchor Berlin dan Paragita telah menorehkan kisah baru dalam sejarah pagelaran musik ibukota. Kolaborasi yang begitu hangat dan memikat menjadi kenangan manis setiap pecinta musik yang hadir malam itu. Tajuk konser, “Hülle dich in Frieden” (Dalam Dekapan Damai) telah berhasil ditunaikan oleh Rundfunkchor Berlin dan Paragita. Kini tugas tajuk konser tersebut pindah ke kita, para saksi konser malam itu. Mewujudkan friede auf erden (damai di dunia), mampukah kita?Rundfunk Paragita 3

[1] Motto Jerman Fest 2015, “Bersama Menuju Masa Depan”

[2] Karakter musik kontemporer dimana tidak ada tangga nada yang jelas yang digunakan dalam suatu karya.

¬Jonathan C. T. Wibowo adalah pianis muda dan paedagog asal Jakarta yang kini aktif mengajar di Sekolah Musik Yayasan Pendidikan Musik. Jonathan mengucapkan terimakasih kepada Sukma Widi Mardyanto atas kesempatan yang diberikan untuk menonton konser ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: