Kabar Terkini

Membangun Fasilitas Seni, Rancang Bangun Komunitas


Mimpi membangun gedung konser yang layak di Jakarta tampaknya menjadi salah satu keinginan yang tiada henti diperjuangkan oleh banyak pihak di Ibukota. Inisiatif ini mungkin menarik. Tapi seringkali tidak diikuti oleh perencanaan yang menyeluruh dan akhirnya hanya berujung pada buang-buang uang dan menghasilkan bangunan mati yang mahal harganya.

Lantas apa yang sebenarnya terluput dalam perencanaan yang dilakukan tersebut? Kisah fasilitas pembangunan fasilitas seni yang mahal sebenarnya bukan sebuah nyanyian baru untuk Indonesia dan komunitas seninya. Dan seringkali wacana pembangunan fasilitas sebenarnya diangkat oleh para seniman dan pemerintah daerah namun seringkali pada prakteknya tidak terlihat berguna penuh. Dan hal ini dialami oleh oleh hampir semua jenis gedung fasilitas penunjang kegiatan seni seperti studio, galeri, teater dan gedung konser.

Apabila melihat fasilitas seni pertunjukan musik, inisiatif membangun gedung konser yang layak sebenarnya sudah bertahun didengungkan oleh banyak seniman, salah satunya konduktor Addie MS. Namun entah sudah lama tidak banyak mendengar tuntutan dari tokoh ini akan sebuah gedung konser baru yang layak, mungkin karena di satu sisi telah terjawab oleh pembangunan Aula Simfonia Jakarta. Stephen Tong lewat gerakan Mandat Budaya di gerejanya sedikit bernasib berbeda. Dengan dukungan jemaat, ia berhasil mendirikan Aula Simfonia Jakarta sebagai satu-satunya gedung konser akustik di Ibukota dengan kapasitas di atas 1000 orang dengan kualitas yang baik. Namun beberapa waktu terakhir, pendeta pun mengeluhkan di depan jemaatnya bahwa gedung konser ini merugi.

Yayasan Klasikanan pun punya warna lain. Sebagai sebuah organisasi seni musik yang banyak diawaki musisi, yayasan ini masih melihat bahwa Jakarta belum memiliki gedung konser independen dari musisi untuk musisi yang memiliki kelayakan yang tinggi sembari juga memiliki independensi dalam menyusun program yang tidak terikat aturan-aturan religius tertentu seperti di Aula Simfonia Jakarta yang meskipun terbuka namun secara moral masih memiliki ikatan kuat dengan gereja yang berafiliasi dengannya. Karenanya yayasan ini pun bergerak untuk menekankan pentingnya sebuah gedung konser independen sembari terus merangkul publik dalam menggalang dana membangunnya.

Kesulitan yang dihadapi banyak gedung konser di dunia salah satunya bisa dikatakan sebagai sebuah gejala yang cukup mewabah, yakni pembangunan fasilitas seni tidak tentu didukung dengan membangun komunitas yang kemudian akan mampu memastikan hidupnya fasilitas tersebut. Banyak pembangunan gedung konser hanya berfokus pada pembangunan beton saja namun lupa akan perlunya membangun awareness sekitar akan seni dan kemudian mendorong terbentuknya kelompok pemakai yang dapat mengutilisasi gedung konser tersebut. Alhasil yang terbangun adalah gedung konser yang gelap.

Kasus ini juga terjadi di bidang olahraga beberapa waktu lalu dan diangkat oleh harian Kompas mengenai fasilitas PON di berbagai kota di provinsi yang kemudian bukannya berfungsi sebagai arena pemberdayaan olahraga untuk sekitarnya, malahan menjadi seonggok gedung yang menelan miliaran rupiah seperti di Riau dan bahkan triliunan di Kaltim. Kenyataannya setelah digunakan untuk peristiwa PON ternyata tidak diikuti dengan perencanaan penggunaan yang lebih jelas. Pacuan kuda tanpa kuda, velodrome tanpa balap sepeda dan kolam renang tanpa air adalah kenyataan yang berbicara banyak. (Baca selengkapnya di Kompas)

Namun demikian, yang lebih sentral sebenarnya bukanlah permasalahan perencanaan penggunaan, melainkan lemahnya perencanaan pengembangan komunitas di daerah tersebut. Henri Lebevre dalam bukunya The Production of Space menyatakan bahwa ruang adalah sebuah produk sosial yang di dalamnya terjalin set hubungan sosial. Pendekatan materi akan sebuah ruang melihat bahwa ruang adalah sebuah morfologi sosial. Baginya representasi ruang dapat membuka banyak simbolisme yang dimana digarap secara ekstensif dalam ruang pertunjukan.

Pekan Olahraga Nasional (PON) sebenarnya dapat digunakan sebagai momentum daerah tersebut untuk membina relasi sosial dan menciptakan relasi sosial lewat instrumen kegiatan olahraga. Momentum ini juga dapat mengembangkan komunitas di daerah tersebut dengan cabang olahraga tertentu dan untung telah difasilitasi dengan gedung-gedung olahraga yang layak melalui PON. Alhasil, bagaimana lapangan tembak tidak ditumbuhi ilalang apabila memang tidak ada penggunanya dan bagaimana mau didukung DPRD kalau memang cabang itu tidak ada peminatnya. Dapat dikatakan bahwa penciptaan ruang atas produk sosial tersebut belumlah berhasil.

Di London pun juga memiliki tantangan serupa dengan Olympic Park yang mereka miliki saat ini yang dibangun untuk mendukung penyelenggaraan Olimpiade London 2012. Kini selain berfungsi sebagai taman kota dan sarana olahraga, pemerintah kota London sedang merencanakan pembangunan pusat budaya di tempat tersebut sebagai kelanjutan dari kegiatan olimpiad seni di kota ini yang berlangsung bersamaan dengan Olimpiade 2012 lalu. Saat ini pemerintah kota tengah mematangkan kerjasama dengan berbagai organisasi seni antara lain, Victoria & Albert Museum, Sadler’s Wells Theatre, dan juga institusi pendidikan University College London untuk membangun prasarana di sana dan menghidupkan kegiatan seni di sekitar kompleks olahraga tersebut lewat kegiatan mereka. Masing-masing dari mereka dituntut untuk menghidupkan wilayah tersebut dengan dukungan subsidi pemerintah daerah dan juga uang yang mereka investasikan sendiri. Sebuah strategi yang tergolong menarik untuk memastikan kehidupan dan makna sebuah kompleks olahraga bersejarah.

It points out how vulnerable organizations are when moving into a major capital commitment and stresses the need for realistic financial planning beyond the scope of the building project.
~Janet Brown, President and CEO of Grantmakers in the Arts

Kisah ini sebenarnya juga serupa dengan keadaan gedung konser di Jakarta, termasuk di antaranya Aula Simfonia walaupun untuk ASJ, biasa gedung ini disebut, keadaannya sedikit lebih baik. Menurut Frumkin dan Kolendo dalam buku Building for the Arts: The Strategic Design of Cultural Facilities, menekankan pentingnya koherensi dan kecocokan antara misi, kapasitas, pendanaan dan juga komunitas dalam merealisasikan sebuah proyek. Menurut Linda Essig kepala program seni di Arizona State University, AS, diperlukan juga keikutsertaan komunitas-komunitas untuk terlibat secara aktif dalam proses desain strategis yang dilakukan. Menurutnya administratur seni haruslah proaktif melibatkan komunitas dalam rancang bangun desain strategis.Aula Simfonia2

ASJ sebenarnya tergolong berhasil dikarenakan Pendeta Stephen Tong berhasil mengawinkan misi, kapasitas dan pendanaan dari jemaat gerejanya untuk mendukung kegiatan seni yang diusungnya. Demikian juga komunitasnya yang terdiri dari jemaatnya sudah cukup mendukung gedung ini walaupun bisa lebih ditingkatkan. Komunitas pun dibangun, dan digabungkan dalam ruang lingkup ASJ, seperti STRII dan juga Sekolah Calvin yang terletak di gedung yang sama. Beberapa paduan suara yang bernaung di bawahnya, komunitas orkes remaja, komunitas orkestra profesional adalah yang bernaung langsung di ASJ.

Alangkah pun demikian, baik dari segi kualitas komunitas belum terlibat secara mencukupi untuk sebuah rancang bangun gedung konser dengan kapasitas sebesar dan berkualitas baik seperti ASJ. Konser sebulan sekali Jakarta Simfonia Orchestra dan terkadang beberapa orkes tamu lain tentu tidak dapat menopang kehidupan ASJ hari demi hari. Pun dari banyak orkestra lain, tidak banyak orkestra ataupun paduan suara yang menggunakan secara tetap tempat ini. Sebelumnya Jakarta Chamber Orchestra kerap mengadakan konser di sini, namun kini banyak berpindah ke gedung pertunjukan lain, demikian juga Twilite Orchestra. Jarangnya acara di banyak venue juga dapat menyebabkan harga sewa meroket disebabkan acara yang jarang-jarang itu terpaksa harus penopang operasi venue sehari-hari. Ketika harga tidak dapat lagi naik, alhasil pemilik lah yang merugi untuk menutup ongkos operasional ini. Jujur saja keikutsertaan berbagai komunitas lain dalam rasa kepemilikan bisa jadi di awal tidak terlalu dibangun dalam rancang bangun strategis untuk mengurangi konflik kepentingan di kemudian hari.

Dengan dilibatkannya komunitas-komunitas dan kepala-kepalanya, hampir pasti konflik akan terjadi namun bagaimana penanganan konflik lah yang harus dipikirkan jalan yang terbaik. Walaupun Taman Ismail Marzuki tidak memiliki gedung konser akustik namun kompleks seni ini mampu menggalang dukungan banyak komunitas seni untuk menanamkan kegairahan di tempat ini. Dewan Kesenian Jakarta menjadi salah satu pintu masuk berbagai komunitas seni Indonesia untuk terlibat di strategi baik secara keterwakilan maupun ikut serta menyumbangkan program untuk venue ini. Berbagai komite bergantian menggerakkan berbagai galeri, diskusi, pertunjukan tari, pelatihan, teater, musik , dan film di tempat ini dan tidak luput dari konflik dan penyelesaiannya. Selain itu juga diperkaya oleh kegiatan dari mahasiswa dari Institut Kesenian Jakarta yang terletak di kompleks yang sama. Namun demikian mereka berhasil di satu sisi ini walaupun dari segi maintenance  fasilitas masih perlu diperhatikan secara lebih.

Ada satu hal yang harus diingat bahwa seni ada dalam pengembangan komunitas dan keikutsertaannya dalam rancang bangun strategis memerlukan pemahaman dari komunitas. Juga harus dicatat bahwa keikutsertaan komunitas adalah sebuah proses. Frumkin dan Kolendo menyatakan bahwa keikutsertaan komunitas bukanlah sebuah hal biner yang diukur terhadap waktu, melainkan sebuah kontinuitas yang dibangun bersama dan berkembang. Karenanya sebuah niatan untuk mengikutsertakan komunitas haruslah didukung dengan strategi menjaring aspirasi dan penanganan konflik yang tepat agar dapat bertumbuh. Akan semakin menantang apabila beragam komunitas dilibatkan berasal dari latar belakang, pemikiran yang berbeda satu dengan yang lain. Namun pada akhirnya keterlibatan mereka akan mendukung rancang bangun sekaligus pemanfaatan fasilitas ini ke depan.

Besarnya pertumbuhan minat di Indonesia akan sebuah fasilitas pertunjukan seni sebenarnya memampukan sebuah fasilitas seni bergerak dengan leluasa. Di awal Agustus lalu, penulis berbincang dengan pihak teknisi Goethe Haus dan beliau menyatakan 3 bulan ke depan mereka penuh di setiap akhir pekan dan jadwal pertengahan pekan pun padat. Kapasitasnya yg kecil menengah dengan 303 orang dengan harga sewa yang relatif terjangkau mampu menggaet minat komunitas untuk menggunakan gedung tersebut selain digunakan oleh komunitas Goethe Institut untuk kegiatan-kegiatan internal, eksternal mereka. Panggungnya yang fleksibel dapat mengakomodasi pemutaran film, pertunjukan musik, tari, teater hingga talkshow memudahkan mereka untuk menangkap komunitas-komunitas di sekitar. Namun demikian adalah legacy mereka yang mampu membuat fasilitas ini hidup dan bergulir. Terlebih mereka hadir di Indonesia ketika gedung pertunjukan masih sangat minim di Jakarta, letak strategis dan tumbuh bersama kota ini dengan pemeliharaan yang baik dan kualitas yang juga tidak kalah, pun fasilitas ini juga dapat digunakan dalam kegiatan pelajaran bahasa Jerman di Goethe Institut. Namun belum terdengar sebenarnya apakah dari dulu hingga kini tempat ini melibatkan komunitas di sekitarnya untuk aktif berpartisipasi dalam rancang bangun desain strategis.

Berhasilnya upaya ini dapat kemudian mendukung penggunaan dan operasi gedung pertunjukan dan bahkan mendukung tujuan pendirian gedung pertunjukan tersebut. Bukan cuma beton terlantar tapi sungguh menjadi fasilitas seni pertunjukan yang hidup dan ditunjang geliat komunitas di sekitarnya.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Trackback / Pingback

  1. Bandung Menggandeng Zaha Hadid Untuk Gedung Kesenian – A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: