Kabar Terkini

Pianis Kelas Dunia Pascal dan Ami Rogé Datang ke Indonesia

Pascal menjawab pertanyaan moderator (foto dari Gitanada)

“Jangan terlalu meromantisasi musik Prancis!”

Inilah kata-kata yang digarisbawahi pianis kawakan Prancis, Pascal Rogé, yang masih terngiang dalam benak pikiran saya setelah menyaksikan seminar yang diberikannya hari Rabu kemarin di Bimasena (The Mines & Energy Society) di Jakarta. Seminar ini terbuka untuk umum dan merupakan bagian dari rangkaian acara bertajuk “2015 Jakarta Piano Camp” yang diselenggarakan oleh sekolah musik Gitanada. Ide untuk membawa Pascal beserta partner duo pianonya, Ami Hakuno Rogé, ke tanah air adalah inisiatif seorang gitaris dan pedagog Sudirman Leman, pendiri sekolah Gitanada, yang berimpian besar untuk mewujudkan dan membangun pendidikan musik berkualitas di Indonesia.

Nama Pascal Rogé bukanlah nama asing di dunia musik klasik. Pianis yang berambut ikal panjang ini diterima di Conservatoire de Paris pada usia 11 tahun dan memberikan konser tunggal pertamanya pada usia yang sama dengan membawakan karya Préludes gubahan Claude Debussy. Dilantik secara tidak resmi sebagai duta besar musik klasik Prancis, Pascal dikenal akan interpretasi yang dilakukannya dalam lagu-lagu yang mengangkat karya sejumlah komponis besar Prancis seperti Debussy, Ravel, Poulenc, Satie, dan banyak komponis lainnya. Dia juga dianugerahi sejumlah penghargaan bergengsi, di antaranya dua Gramophone Awards, Grand Prix du Disque, dan Edison Award untuk rekaman album konserto piano Ravel dan Saint-Saëns.

Pascal juga turut merekam dan tampil bersama istrinya bernama Ami Hakuno Rogé, juga seorang pianis handal lulusan Juilliard School dan Mannes College. Tidak dinyana Ami berdarah campuran Indonesia-Jepang, dan kunjungannya ke Indonesia merupakan peristiwa amat istimewa baginya. Dalam acara Jakarta Piano Camp ini, tim duo Pascal dan Ami Rogé mengadakan beberapa sesi master class dan rangkaian seminar dengan topik yang berbeda di setiap harinya. Di hari Kamis ini, Pascal dan Ami akan membahas secara mendalam tentang repertoar piano empat tangan, diikuti dengan diskusi bebas di esok hari.

Pascal dan Ami Rogé (dari musicvinearts.com)

Pascal dan Ami Rogé (foto dari musicvinearts.com)

Sebagai puncak acara, Pascal dan Ami akan menyuguhkan acara resital piano yang menarik dan mengasyikkan di hari Sabtu besok. Mereka akan membawakan sejumlah karya Prancis dan juga Indonesia; ada dua karya Indonesia yang dimainkan yaitu Tobor – Tiring karya mendiang Slamet Abdul Sjukur dan Gunung Agung: Act I  “Joy of Life” karya Trisutji Kamal. Kebetulan Ibu Trisutji turut hadir di seminar bersama saya dan sempat bercerita tentang proses latihan lagu Gunung Agung hari Selasa kemarin. Karya ini menampilkan tiga pemain: dua pianis dan satu pemain perkusi Bali, sebuah ansambel yang menarik karena memperpadukan alat musik barat dengan timur.

Seminar yang diberikan hari Rabu kemarin bertema “Musik Prancis” dan dimoderatori oleh Iswargia “Lendi” Sudarno, direktur akademik Jakarta Conservatory of Music (JCoM). Walaupun jumlah penonton tidak begitu banyak mengingat seminar diselenggarakan pada jam kerja, pendar antusiasme dari wajah Pascal memberikan kehangatan dan keakraban suasana pada ruangan. Lendi pun melontarkan pertanyaan pertama yang membuat Pascal sedikit bertafakur: “Apa yang dimaksud dengan bermain dengan gaya Prancis?” Adalah pertanyaan sederhana yang sulit dijawab. Lendi kemudian menerangkan bahwa di dunia musik, kadang kita mendengar musisi yang mengikuti aliran sekolah Rusia, sekolah Jerman, sekolah Prancis, atau sekolah Amerika. Aliran, atau mungkin lebih tepatnya “mazhab”, yang berbeda ini mencerminkan estetika permainan yang menjadi ciri khas di masing-masing negara. Sebagai contoh, menurut tradisi sekolah Prancis ada penekanan pada jeu perlé, keseimbangan artikulasi yang sempurna bagai mutiara. Tangan pada umumnya tidak banyak bergerak dan artikulasi dihasilkan hanya dengan ujung jari. Di sisi yang lain, sekolah Rusia mengutamakan teknik dan latihan-latihan khusus yang menguatkan otot-otot jari, tangan dan lengan.

Menurut Pascal sendiri, mazhab-mazhab tersebut lahir lantaran estetika dan jenis teknik permainan yang tersirat dalam lagu yang bersangkutan. Sebagai contoh, karya-karya Rusia romantik seperti kumpulan prelude gubahan Rachmaninoff atau Concerto Piano No. 1 karya Tchaikovsky memiliki jangkauan dinamika yang sangat luas, ekspresi tinggi, dan energi menggebu yang dengan cepat dapat menguras tenaga sang pianis apabila dimainkan secara gegabah. Oleh karena itu permainan sekolah Rusia dapat mendidik pianis-pianis belajar bermain dengan teknik yang mapan dan sesuai.

Pascal sebagai pembicara (foto dari Gitanada)

Walaupun demikian, Pascal menjelaskan bahwa beberapa sekolah permainan tersebut mulai terkikis sejak memasuki era globalisasi dan informasi. Konektivitas antar negara dan pertukaran budaya yang semakin terbuka memudahkan para musisi untuk mempelajari berbagai macam jenis dan estetika permainan dari seluruh penjuru dunia yang dapat memperkaya interpretasi lagu mereka. Imajinasi mereka pun semakin terbuka karena ada peluang untuk menyerap beberapa pandangan yang berbeda: saya mungkin menggabungkan teknik permainan sekolah Rusia dan Prancis, atau yang lain mungkin memadukan semua mazhab yang ada sekaligus. Alhasil lahirlah sekolah “internasional”.

Biarpun begitu, Pascal bertutur bahwa sangatlah penting bagi kita untuk menghormati style (gaya) dan identitas musik itu sendiri secara tiap wilayah memiliki ciri khas yang berbeda. Kalimat ini mendorong Lendi untuk bertanya: “Apa yang terpenting dalam bermain musik Perancis?” Pascal dengan sigap menggarisbawahi kaya “warna”, seolah-olah adalah kata sakral.

Bagi Pascal, tidak diragukan lagi bahwa musik harus dimainkan dengan warna indah, tetapi bermain dengan indah selalu menjadi tantangan bagi sebagian besar musisi muda maupun berpengalaman. Akan lebih mudah apabila kita mengenal sedikit tentang sejarah seni Prancis. Tidak sedikit komponis Prancis dipengaruhi oleh seni lukis dan literatur, dan pada pergantian abad ke-20, muncul gerakan seni bernama Impresionisme yang lahir sebagai reaksi ketidakpuasan terhadap seni akademis yang dinilai terlalu “klasik” pada masa itu. Karakteristik utama lukisan impresionisme adalah goresan kuas yang lebar, penggunaan warna-warna cerah, dan penekanan pada pencahayaan. Untuk memproduksikan warna pada permainan kita pun harus bisa “merasakan” warna yang ada di balik notasi musik, seolah-olah kita dapat merasakan goresan kuas yang menoreh kanvas. Bayangkan terlebih dahulu warna yang ingin digunakan sebelum mendentingkan nada pertama.

Pascal menjawab pertanyaan moderator (foto dari Gitanada)

Pascal menjawab pertanyaan moderator (foto dari Gitanada)

Menyikapi pembawaan musik Prancis (abad ke-19 sampai dengan awal abad ke-20), Pascal juga menganjurkan permainan yang terkendali dan tertahan, terutama waktu melantunkan musik Debussy dan Poulenc. Berbeda dengan musik Jerman dan Rusia, Pascal menyingkap bahwa tidak ada yang namanya musik Prancis yang profound (mendalam). Bukan berarti musik Prancis itu tidak memiliki luapan perasaan yang nyata, melainkan perasaan tersebut lebih pantas dimainkan secara ringan tanpa ada rasa khawatir atau gairah yang berlebihan. Permainan terkendali dan tertahan ini bisa dipahami sebagai antitesis dari pembawaan musik Jerman yang cenderung lebih berhasrat. Dengarkan saja Concerto Piano No. 1 gubahan Johannes Brahms yang banyak menggunakan interval terts dan sekt, tekstur orkes yang sangat tebal dan menggelegar ruangan, dan harmoni-harmoni yang kuat akan tensi dan resolusi. Bisa dibilang musik Jerman, seperti musik Brahms, memiliki beberapa momen “gelap”. Pascal menyatakan bahwa momen gelap tidak ada tempat di musik Prancis, dan jangan terlalu meromantisasi musik Prancis!

Aspek yang juga harus diperhatikan adalah pentingnya clarity (kejelasan/kejernihan) dalam pengertian penggunaan pedal damper (pedal kanan) yang tidak berlebihan. Banyak yang mengidentikkan musik Prancis, terutama musiknya Debussy, dengan injakan pedal kanan yang dalam dan lama. Pascal sendiri menyadari kesalahpahaman ini. Apabila diamati dengan seksama, Debussy sendiri menulis tanda artikulasi dengan sangat detil dan beragam: ada banyak tanda staccato, tenuto, aksen marcato, aksen baji, dan juga kombinasi antara dua jenis artikulasi yang berbeda. Seperti yang diutarakan Pascal, Debussy secara langsung menginstruksikan pemain untuk menghormati artikulasi-artikulasi tersebut dengan kejelasan sepenuhnya. Penggunaan pedal yang bijak juga membantu pemain untuk mendengarkan harmoni-harmoni yang kaya dan berwarna.

Saya kira seminar ini membawa manfaat yang besar bagi penonton, baik itu guru musik maupun murid. Pascal sendiri adalah sosok yang sangat berwibawa di depan umum dan dapat menuturkan pikiran dan perasaannya dengan sangat lancar. Semoga banyak yang turut hadir di seminar berikutnya pada hari Kamis ini tentang repertoar piano empat tangan dan resital Pascal dan Ami di hari Sabtu besok. Jarang sekali musisi kelas dunia yang berkesempatan dan berkeinginan untuk berbagi ilmu di sini, dan saya harap kita bersama dapat memajukan pendidikan dan apresiasi musik klasik di Indonesia.

Hazim mengucapkan terimakasih kepada Sudirman Leman atas kesempatan yang diberikan untuk meliput rangkaian acara 2015 Jakarta Piano Camp.

Iklan
About Hazim Suhadi (14 Articles)
I'm a classical pianist, but in my spare time I'd like to do things that musicians don't normally do, like rock climbing in the highlands of Dieng or eating at kaki-lima by the dusty streets saturated with commuters. I enjoy a drink or two with good company. So hit me up!

1 Trackback / Pingback

  1. Meracik Nuansa Prancis Nan Memikat: Konser Pascal dan Ami Rogé | A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: