Kabar Terkini

Kota Musik dan Implikasinya


Kini kota Bandung sebagai kota metropolitan di Indonesia sedang berkejaran untuk segera merebut titel sebagai kota musik, seperti dituliskan di Tribun news beberapa waktu lalu. Didorong oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, deklarasi kabarnya akan segera dilakukan. Dari berbagai media yang memuat (Metrotvnews, Sindo), nampak deklarasi ini didorong pada hadirnya pelaku musik mainstream maupun indie yang mewarnai kota Bandung. Persoalan untuk menciptakan sebuah kota seni musik tentunya memiliki implikasi yang tidak main-main. Geliat kota Bandung sebagai kota kreatif memang terlihat sejak lama. Dengan basis industri pendidikan yang kuat mengakar di Bandung, termasuk semakin bermunculannya pendidikan musik baik formal maupun informal tingkat dasar hingga pendidikan tinggi, sebenarnya ibukota provinsi ini sudah selangkah lebih dekat. Namun demikian, pekerjaan rumah masih menggunung untuk mampu membentuk kota musik.

Infrastruktur

Pembangunan infrastruktur pertunjukan tampaknya memang menjadi langkah pertama yang dilakukan. Dengan kabar akan bekerja sama dengan arsitek asing, Bandung nampak bersiap untuk membangun gedung pertunjukan kelas internasional dengan kapasitas raksasa. Namun, jangan dilupakan bahwa sebuah gedung besar tidak bisa mengubah sebuah kota menjadi lebih artistik. Pengembangan infrastruktur akar rumput juga perlu dikembangkan bahkan di tingkat kecamatan dan kelurahan.

Dan seperti yang diungkapkan, bahwa kegiatan seni musik di Bandung bukan hanya adanya studio musik dan kafe-kafe yang berjamuran bersama dengan turis akhir pekan, namun juga infrastruktur spesifik yang aktif menggelar kegiatan kesenian dengan berbagai faset seperti baik yang mainstream dengan underground, kontemporer dengan klasik, tradisi dengan populer, lokal dengan internasional sembari mengaktifkan infrastruktur ini sebagai ruang publik. Satu gedung baru khusus untuk degung tentunya tidak bisa mengubah seluruh kota berpenduduk 2.4 juta orang (BPS 2011) menjadi sebuah kota musik.

Di sisi lain, infrastruktur bukan hanya sekedar infrastruktur fisik. Program pemberdayaan masyarakat di industri musik juga harus diikuti dengan kebijakan fundamental yang jelas akan perkembangan musik baik sebagai industri kreatif maupun sebagai bagian dari kesenian dan kebudayaan. Kebijakan itu bukan hanya dalam bentuk regulasi, namun kebijakan yang mampu mengasuh pertumbuhan kreativitas dan juga apresiasi dari masyarakat dan menjadikan kota ini sebagai hub dari musik dan para pelakunya. Bagaimana menciptakan Bandung yang mempertemukan pelaku, akademisi, fasilitator dan penikmat juga menjadi peranan sentral. Banyak sumber daya manusia yang memilih untuk tinggal di kota-kota pusat budaya seperti New York, Tokyo, London, Paris, Berlin dan baru-baru ini Hongkong dan Singapura dikarenakan kesempatan mereka untuk bersentuhan langsung dengan berbagai elemen dan aktor seni yang lain.

Peran pemerintah tidak lagi hanya membuka ruang, tapi sungguh menjadi fasilitator dengan terjun secara langsung pada kebijakan pembinaan dan berperan sebagai inkubator. Sebagaimana Bandung berkomitmen mengembangkan entrepreneurship dengan aktif, juga menciptakan hub industri kreatif, diperlukan juga inisiatif untuk membuat forum yang serupa dan terkonsentrasi pada musik. Selain daripada itu, birokrasi haruslah dapat dipangkas agar memampukan musik dapat berkembang lebih leluasa dan mendapat percepatan yang diperlukan. Pun banyak penciptaan ruang publik yang unik di segi tata kota masih hanya berupa kebijakan periferi.

Seberapa jauh pemberdayaan komunitas musik dan sepak terjangnya serta intensitas dan jangkauan kegiatannya memang harus dilihat secara lebih menyeluruh dan seksama. Aspek sumberdaya manusia di sini menjadi fokus. Musik memiliki dimensi yang kurang intangible dibandingkan seni lainnya, sehingga pemberdayaan komunitas kreator, musisi, fasilitator selain dari industri juga harus digerakkan lebih jauh. Kota Bandung juga harus menciptakan kondisi lapangan kerja yang juga kondusif untuk mampu memikat pekerja-pekerja seni musik untuk hadir dan berkarya di kota Bandung.

Tantangan

Di sela itu semua, tantangan juga akan hadir. Bandung yang sudah mendeklarasikan diri sebagai kota kreatif, bukan hanya perlu memperhatikan aspek ekonomi kreatif tapi juga kebudayaan secara umum sebagai sebuah aset. Penggunaan kacamata kreativitas untuk mendukung ekonomi kadang menyebabkan fokus pemberdayaan seni musik hanya bersentral pada pengembangan nilai ekonomi semata tanpa visi artistik yang jelas. Pengembangan yang seperti ini hanya akan pincang sebelah dan malah perlahan akan menggerus kreativitas yang ada. Di sisi musik juga demikian, karena pertunjukan berbagai seni di luar bendera mainstream bukanlah atas asas nilai rupiah semata.

Menyebut diri kota musik juga harus secara penuh disadari bahwa kota tersebut harus merangkul ide multikulturalis secara serius. Musik macam apapun harus menjadi tuan rumah di kota yang menyebut diri kota musik. Kota musik tidak bisa hanya menjadi rumah untuk musik golongan tertentu saja, tapi untuk seluruh jenis musik. Terpenuhinya juluk sebuah kota sebagai kota musik hanya ketika kota tersebut mampu mendorong bergeraknya kreasi dalam berbagai perspektif dan genre. Pertanyaan apakah Bandung memiliki keterbukaan untuk seni musik yang terkadang ofensif, bisa jadi satu hal yang perlu dijawab ketika melihat juga aspek keterbukaan dan multikulturalis. Di sisi lain, multikultural juga berarti harus menyediakan sarana pendukung untuk seluruh musik-musik itu. Hingga kini Bandung masih kekurangan venue untuk mampu menampung keberagaman seni musik dalam bingkai pertunjukan.

Persoalan sumber daya manusia juga harus menjadi perhatian utama. Dan bagaimana Bandung menempatkan diri sebagai kota musik juga terletak dari bagaimana Bandung mampu menjadi kota yang bukan hanya memfasilitasi lapangan kerja, tapi juga memfasilitasi pendidikan musik yang berkualitas. Kota musik tidak akan sempurna apabila kota Bandung tidak mampu menjadi magnet talenta terbaik dan tidak mampu menciptakan seniman dan pemikir seni budaya yang terbaik pula. Akhirnya seberapa jauh perhatian kota ini kepada pendidikan seni musik juga harus diperhitungkan baik dari sisi akademik keilmuan maupun pelatihan keterampilan.

Pertanyaan yang mungkin berbau politis namun sungguh layak untuk disampaikan. Banyak pelaku musik di Bandung, geliat cepat musik kali ini disebabkan oleh eklektiknya seorang Ridwan Kamil sebagai seorang walikota yang mempunyai visi pembangunan urban yang jelas dan mengikutsertakan aspek seni budaya di dalamnya. Pertanyaan sederhana adalah bagaimana kalau walikotanya bukan lagi Ridwan Kamil? Ridwan Kamil (RK) diangkat tahun 2013 dan akan menjabat hingga 2018, namun dengan skema pilkada serentak yang dimulai tahun 2015 ini mungkin masa jabatan RK akan lebih pendek. Apabila demikian, bagaimana nasib Bandung apabila pucuk pimpinan tidak lagi dipegang oleh seorang walikota yang memperhatikan seni dan budaya? Tentunya diperlukan semacam kebijakan jangka panjang yang mengikat untuk kepada daerah sebagai pamong seni dan budaya. Apakah inisiatif permusikan tersebut sudah digariskan dalam tata kerja dinas di tingkat kotamadya harus dapat terlihat secara jelas.

Yang pasti tidak ada dari kita yang ingin melihat Bandung Kota Musik hanya sebagai slogan belaka. Banyak kota di Indonesia dan sebutannya bukanlah sesuatu yang diraih atas usaha, melainkan diberikan dan bahkan karena keadaan alamnya. Kota musik adalah sebuah hasil rekayasa urban yang amat rumit dan tidak sesederhana kota hujan ataupun kota batik.  Dan di balik itu semua, pekerjaan rumah yang besar masih menanti untuk dapat menghadirkan kota musik yang sesungguhnya di Indonesia, dan untuk Bandung. selamat berjuang!

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: