Kabar Terkini

Raja Singa di Malam Halloween


Di malam yang ramai dengan pemuda dan remaja bermain kostum dan berbagi tawa, Lyceum Theatre tetap dengan keseharian mereka dengan mementaskan drama musikal The Lion King di malam Minggu ini. Diadaptasi dari film animasi The Lion King produksi Walt Disney yang meledakkan box office di tahun 1994, drama musikal produksi Disney ini diluncurkan tahun 1997 di New York dan telah ditampilkan tanpa terputus di London sejak Oktober 1999.

Malam ini, di tahun yang ke 17, kisah sang Raja Singa masih memukau penonton. Sebagai salah satu dari 9 pertunjukan per minggu, kisah si anak singa pewaris raja hutan Simba tumbuh dalam perseteruan sang raja hutan Mufasa dengan adiknya Scar yang ingin merebut tahta. Dengan musik dari Elton John dan lirik Tim Rice dan didukung aransemen paduan suara Lebo M dan orkestrasi Hans Zimmer dan David Metzger, The Lion King memang memberi warna yang kuat dari corak musik lewat kolaborasi yang kuat dari banyak pekerja musik yang mendukung acara ini sejak konsepsinya 20 tahun yang lalu.

Dengan gaya Afrika yang kuat, perkusi menjadi sentral dalam musik teater ini. Dua perkusionis ditempatkan di balkon terdepan kiri dan kanan yang membangun interaksi nyata lewat permainan mereka, sedang orkestra pit semalam dipimpin oleh konduktor tamu Fraser Skeoch. Lebo M juga menata paduan suara dengan apik, memberikan warna Afrika yang kental dalam pertunjukan semalam.

Dipenuhi warna, itulah mungkin kesan pertama dari musikal yang kini telah menuai pendapatan terbesar di sepanjang sejarah ini. Drama musikal ini juga kental dengan tari-tarian yang lincah, baik bercorak jazz ballet maupun tarian bergaya Afrika. Namun yang menjadikannya istimewa adalah bagaimana para pelakon bergerak menirukan hewan-hewan dan bergerak dan mengoperasikan kostum binatang yang unik dan juga rumit. Para aktor bernyanyi dan bermain, tetapi tetap mengedepankan kostum mereka sebagai sang tokoh. Konsepsi ini adalah yang unik dari produksi yang digagas oleh Julie Taymor selaku sutradara utama, desain kostum, desain kostum dan penulis lirik yang membawanya memenangkan Tony Award 1998.

Ntsepa Pitjeng sebagai Rafiki tampil dengan menarik, demikian juga Howard Gossington yang kali ini berperan sebagai Zazu dengan lincah dan meyakinkan dengan penguasaannya pada boneka burung di tangannya. Richard Frame dan Keith Bookman sebagai Timon dan Pumbaa juga berperan maksimal dalam pertunjukan malam ini. Nic Vani sebagai Simba memberikan sentuhan muda pada tokoh Simba sedang Ava Brennan memberikan sentuhan kedalaman pada singa betina Nala. Shaun Escoffery menyumbang nuansa kebapakan pada Mufasa dan Mark McGee menjadi sang tokoh Antagonis yang congkak.

Penggunaan panggung yang maksimal dan desain kostum yang luar biasa hingga kini masih menjadi ciri khas dari pertunjukan drama musikal The Lion King yang menuai banyak pujian. Areal penonton dan balkon pun menjadi arena bermain yang indah di mana burung-burung layang beterbangan dan binatang-binatang besar membelah penonton. Tata cahaya berpadu dengan sisi mekanik panggung, menjadikan panggung bagai layar kelir di mana para pemeran bertanggung jawab atas wayang masing-masing.

Pertunjukan ini pun juga pada masanya menggebrak dengan skrip yang menuntut pemeran dari kalangan kulit berwarna dan penggunaan bahasa Afrika yang hingga kini tetap dipertahankan dan mendominasi panggung. Ini menjadi nilai tambah tersendiri karena dunia teater dan drama musikal masih kental dengan dominasi pemain berkulit putih dan dalam drama musikal ini, para pemain dari latar Afrika mendapat tempat yang istimewa dan mendominasi daftar pemain.

Namun demikian terasa pertunjukan malam ini berjalan dengan sangat cepat dan cenderung mekanistik tanpa nafas yang berarti. Beberapa peran pun terasa masih dalam fase laga sehingga kurang berkesan mendalam, padahal kisah The Lion King mengutamakan sifat kemanusiaan yang lekat dalam tokoh hewan ini. Hanya Timon, Pumbaa, Zazu dan Nala yang sungguh hangat dan memberi waktu tokoh yang diperankannya tumbuh dan berkesan di mata penonton. Beberapa pemain dari lapis kedua masih terkesan mencari bentuk

Sebuah pengalaman yang berbeda memang menyaksikan drama musikal di areal teater West End, London dengan gedung-gedungnya yang bersejarah. Tapi sebagaimana pertunjukan ini telah menjadi sebuah rutin, kita pun menyadari bagaimana tidak setiap waktu garapan terbaik yang kita saksikan dengan pemeran terbaik pula.

Lionking 2 lyceum

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: