Kabar Terkini

Meracik Nuansa Prancis Nan Memikat: Konser Pascal dan Ami Rogé

Pascal Roge and Ami Roge rehearse before a performance of composers Debussy, Chaminade and Ravel during the second 'It's All About Piano!' festival at Institut Francais on April 6, 2014 in London, United Kingdom. (Photo by Amy T. Zielinski)

Memesona, penuh warna, dan rancak adalah beberapa dari banyak kata-kata yang pantas menggambarkan resital duo Pascal dan Ami Rogé secara keseluruhan, dari dentingan nada pertama Petite suite karya Claude Debussy yang dengan lembut menerpa telinga, hingga dentuman muluk nan meriah yang mengakhiri “Feria” dari Rapsodie espagnole karya Maurice Ravel. Alangkah beruntungnya saya berkesempatan untuk menyaksikan konser yang dirancang sedemikian intim dan penuh kehangatan ini, karena sesungguhnya ini adalah salah satu konser terbaik yang pernah saya hadiri tahun ini.

Resital ini adalah titik kulminasi dari rangkaian acara “2015 Jakarta Piano Camp” yang diselenggarakan oleh sekolah musik Gitanada. Selama seminggu penuh, tim duo Pascal dan Ami Rogé mengadakan kegiatan master class dan seminar yang dihadiri banyak murid dan guru piano dari beberapa institusi di Jakarta. Saya sendiri sempat ikut hadir di salah satu seminar bertajuk “Musik Prancis” yang sudah saya ulas sebelumnya (lihat di sini). Konsep dari resital ini tergolong cukup unik: resital diselenggarakan di ballroom (ruang serbaguna) dengan penataan interior yang sederhana namun nyaman, dan di belakang penonton tersaji juga berbagai macam makanan ringan. Penataan ini mengingatkan saya pada Schubertiade pada abad ke-19, yang adalah acara musik yang sengaja dirancang secara informal supaya ada pendekatan antara komponis, pemain, dan penonton.

Penataan panggung

Karya pertama yang dibawakan oleh duo Rogé adalah Petite suite gubahan Claude Debussy. Karya yang judulnya bermakna “suita kecil” melukiskan dunia luar yang begitu luas dan penuh warna, seperti lukisan-lukisan impresionis ciptaan Watteau, Monet dan Gauguin yang sebagian besar mengangkat tema kehidupan dalam pedesaan penuh ketenangan dan rasa rindu. Gerakan pertama berjudul “En bateau” (Di Perahu) menggambarkan suasana di dalam kapal yang terombang-ambing di tengah danau permai. Suara ombak yang direpresentasikan oleh rangkaian arpeggio yang pasang surut dimainkan dengan penuh ekspresi oleh Ami. Pascal yang memiliki melodi utama dengan mudah memainkannya dengan  bahasa tubuh yang santai dan gerakan tangan yang secara perlahan terbenam di tuts piano, bak pisau memotong sebatang mentega. Gerakan ini disusul dengan tiga gerakan lainnya yang masing-masing berjudul: “Cortège” (Arak-arakan), “Menuet”, dan “Ballet”.

Karya Debussy yang berisikan banyak simbolisme ini kemudian dilanjutkan dengan dua karya kecil gubahan Erik Satie berjudul Gymnopedie 1 dan Gnossienne 5. Kedua lagu tersebut secara bersama merupakan suatu renungan melankolis yang memerlukan kesabaran dan daya imajinasi yang sangat tinggi dari sang pianis, dan saya rasa Pascal berhasil menghembuskan nafas hidup pada kedua lagu ini. Penggunaan tempo rubato (mencuri dan mengembalikan waktu) yang fleksibel dan pelantunan frase musik yang terkesan organik mentransformasikan not-not balok menjadi puisi dengan bentuk kalimat yang terdengar nyata, seolah-olah ada percakapan antara berbagai macam karakter dalam musik tersebut.

Selain memiliki kemampuan pelantunan melodi yang begitu alamiah, Pascal juga memiliki kemahiran luar biasa dalam menguasai teknik jari dan tangan. Hal ini bisa diamati lewat permainan karya berikutnya berjudul Sonatine gubahan Maurice Ravel. Terdiri dari tiga bagian pendek, karya ini dinilai sangat menantang karena banyaknya pergerakan nada yang akrobatik dan pentingnya bermain dengan tone (jenis suara) yang bulat dan hangat. Ravel sendiri diberi julukan “The Swiss watchmaker” (pembuat jam tangan Swiss) karena perhatian penuh terhadap detail pada harmoni, melodi, artikulasi, dan nuansa musik. Maka daripada itu, bagian pertama (“Modéré”) dan terakhir (“Animé”) yang bertempo cepat harus dimainkan dengan clarity (kejernihan) pakem tanpa harus bergantungan pada pedal kanan. Pascal mampu mengeksekusi semua itu dengan permainan yang santai dan terkendali.

Babak pertama ditutup oleh permainan Le Sacre du printemps: “L’adoration de la Terre” (Ritual Musim Semi: Pemujaan Bumi) karya komponis berkebangsaan Rusia Igor Stravinsky. Karya ini dikonsep Stravinsky sebagai komposisi balet dengan iringan orkes, dan konser perdana Le Sacre di Theatre du Champs-Elysées pada tahun 1913 sempat diwarnai aksi ricuh oleh beberapa orang yang mendukung dan yang menentang Stravinsky. Versi empat tangannya digubah Stravinsky sekitar setahun sebelum konser perdana yang kontroversial tersebut, dan dikabarkan bahwa versi empat tangan tersebut diperdanakan oleh Stravinsky sendiri dan Debussy, yang adalah sahabat dekat Stravinsky. Pembawaan duo Rogé yang sungguh bergairah dan perkusif menjadi sorotan yang ditunggu-tunggu oleh para penonton. Harmoni-harmoni yang bisa dibilang sangat kompleks dan disonan dengan mudah dikuasai oleh Ami dan Pascal, yang tangan-tangannya dikoreografi dengan sangat baik dan menawan. Artikulasi nada yang cenderung sangat berat dan keras pun dieksekusi dengan baik oleh Ami yang memegang bagian secondo (bagian bawah), seolah-olah terdengar suara timpani dan tutti orkestra (waktu semua alat musik dalam orkes bermain bersama) yang berkarakter.

Koreografi balet Le Sacre du printemps

Di babak kedua, duo Rogé kembali menempati bangku piano, dan kali ini berkolaborasi bersama musisi Bali, I Ketut Budiyasa, yang melengkapi karya yang akan dimainkan dengan iringan perkusi Bali. Karya ini bertajuk Gunung Agung: Babak I “Joy of Life” gubahan salah satu komponis terkemuka Indonesia, Trisutji Kamal, yang juga turut hadir di acara resital ini. Ami dan Pascal memainkan rangkaian nada ostinato (pengulangan motif yang tiada henti) yang meniru suara gangsa, sedangkan Ketut membumbui kotekan gangsa tersebut dengan suara gendang dan gong. Terdapat juga beberapa momen yang diseling dengan melodi sinden Bali yang dilantunkan Ketut dengan sangat hangat dan meditatif.

Selanjutnya, Ami dan Pascal masing-masing membawakan dua karya pendek untuk piano solo yang melintas waktu dan budaya. Ami membawakan komposisi yang segar dan jenaka berjudul Tobor: Tiring karangan almarhum Slamet Abdul Syukur. Karya ini dipasangkan dengan komposisi Henri Dutilleux, komponis Prancis modernis, berjudul Resonance yang kali ini dipersembahkan oleh Pascal. Sebelum Pascal bermain, dia sedikit bercerita di depan para penonton bahwa karya ini dikarang khusus untuk Pascal, waktu dia masih mengenyam pendidikan musik di Paris Conservatoire. Karya yang belum dipublikasikan ini menggunakan teknik pedal tengah yang jarang digunakan di literatur piano. Dengan menggunakan pedal tengah, kita bisa memilih dan menahan nada-nada yang dapat bergaung dengan bebas apabila dimainkan. Dan dengan gaung tersebut, efek misterius harmonics (permainan nada tambahan berfrekuensi tinggi) pun bisa dihasilkan secara efektif.

Empat buah Préludes karya Debussy–“Voiles” (Kain Layar/Kerudung), “Le vent dans la plaine” (Angin di Dataran), “La fille aux cheveux de lin” (Perempuan dengan Rambut Kuning Muda), dan “Minstrels” (Penyanyi)–dipertunjukkan kemudian oleh Pascal dalam permainan yang spontan dan penuh warna. Di seminar yang Pascal berikan tentang estetika musik klasik Prancis beberapa hari sebelumnya, dia menjelaskan bahwa musik Prancis sesungguhnya jangan dimainkan terlalu “mendalam”, dan sekarang saya mengerti apa yang dibicarakan setelah menikmati permainan Prélude-nya. Setiap kalimat musik dilantunkan Pascal dengan kontrol yang baik dan emosi yang betul-betul terjaga tanpa harus mengorbankan arah aliran melodi. Nada pianissimo yang terlembut pun terdengar bulat dan jernih, dan gebuan fortissimo di beberapa titik tensi juga disuarakan dengan sensitivitas yang besar sehingga tidak nyaring sama sekali.

Sebagai penutup program, duo Rogé kembali ke tengah panggung dan memainkan sebuah kumpulan lagu bernuansa Spanyol bertajuk Rapsodie espagnole gubahan Ravel. Seperti Le Sacre, Rapsodie espagnole adalah lagu orkes yang juga memiliki versi empat tangan. Karya ini terdiri dari empat bagian yang masing-masing berjudul “Prélude à la nuit” (Pembuka Malam), “Malagueñas”, “Habanera”, dan Feria (Festival). Kedua bagian di tengah adalah jenis-jenis dansa khas Spanyol yang memiliki karakteristik irama yang luwes dan sensual, dan Ravel yang berketurunan Basque, etnik yang sekarang ditemukan di daerah Spanyol utara, mampu menggubah harmoni-harmoni kromatis yang tensi dan resolusinya mencerminkan gerakan tubuh yang elok nan memukau.

Seiring dengan sorakan para penonton yang betul-betul mengapresiasi hasil jerih payah duo Rogé di tengah panggung, pasangan suami istri ini juga berbalas budi dengan membawakan dua encore yang bagi mereka memiliki nilai sentimental dan emosional yang tinggi. Karya yang pertama adalah bagian pertama dari Sonata untuk Empat Tangan gubahan Francis Poulenc, diikuti dengan sebuah transkripsi musik gamelan Bali untuk dua piano, yang diaransemen untuk satu piano empat tangan oleh duo Rogé, berjudul “Pemoengkah” dari suita Balinese Ceremonial Music karangan etnomusikolog sekaligus komponis Kanada, Colin McPhee.

Sepanjang konser berlangsung, duo Rogé tampil dengan hangat dengan penuh kuasa atas permainan papan nada. Permainan mereka berdua sungguh menyatu dari segi tone (suara) hingga pembentukan kalimat musik yang bermulai dan berakhir bersamaan. Adalah satu kehormatan bisa menyaksikan kedua musisi papan atas ini dari dekat, dan penataan ruang yang terkesan intim juga sangat berpengaruh terhadap kebetahan para penonton yang sungguh mengapresiasi permainan mereka. Terima kasih Ami dan Pascal Rogé atas musiknya yang indah.

About Hazim Suhadi (12 Articles)
I'm a classical pianist, but in my spare time I'd like to do things that musicians don't normally do, like rock climbing in the highlands of Dieng or eating at kaki-lima by the dusty streets saturated with commuters. I enjoy a drink or two with good company. So hit me up!

1 Trackback / Pingback

  1. Duo Ykeda di IFI Jakarta | A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: