Kabar Terkini

Gairah Salonen, Steinbacher dan Philharmonia yang Memikat


Sinkopasi dan gelagat yang penuh gairah kemudian berselang dengan kesenyapan, inilah karya Caprice for Orchestra No.1, Op.72 No.1 dari Richard Dubugnon yang membuka konser di Royal Festival Hall, London di Minggu sore kemarin. Karya yang dipersembahkan untuk Philharmonia Orchestra yang kemarin berjajar di panggung ini memang menuntut kecakapan dari masing-masing pemain. Gejolak sinkop mengingatkan penulis akan riff-riff musik rock dan jazz yang gegap, sebuah pengaruh yang mungkin secara tidak sadar mempengaruhi komponis asal Swiss kelahiran tahun 1968 ini.

Konser kemudian dilanjutkan dengan keanggunan solis biola muda Arabella Steinbacher. Violin Concerto dalam D Mayor, Op.77 karya Johannes Brahms yang berat dan menantang dilibasnya dengan membara dibarengi dengan kontrol yang luar biasa. Di tangannya, biola Stradivarius ‘Booth’ (1716) menyanyi dengan lepas juga cemerlang. Pebiola kelahiran tahun 1981 dari ayah seorang Jerman dan ibu seorang Jepang ini tampil dengan memukau di hadapan karya yang digarap komponis Brahms dan didedikasikan untuk pebiola Joseph Joachim menjadi rekannya ketika menggarap karya ini di tahun 1878. Dan Steinbacher sungguh menyajikan permainan yang apik dan representatif untuk karya yang berkarakter ini, halus dengan melodi membius namun juga garang dan ekspresif. Philharmonia Orchestra pun mengimbangi permainan Steinbacher dengan permainan yang terukur. Melodi indah di bagian kedua diperkenalkan dengan agung oleh oktet tiup kayu.

Adalah Esa-Pekka Salonen yang memimpin Philharmonia Orchestra dalam konser ini. Konduktor yang kini menjabat sebagai konduktor utama dan juga penasihat artistik orkestra ini memang tidak setengah-setengah dalam menyampaikan musik. Di atas lustrum, Salonen yang berusia 58 tahun ini tampak segar. Dari belakang sosoknya mengingatkan penulis akan sosok seorang Bruce Lee yang bermain double-stick yang mahir. Dengan sabetan tongkat dirigennya memacu orkestra berjalan dengan derap langkah teratur dan mengisi karakter dari setiap frase yang disampaikan orkestra ini, selain karena personanya yang musikal.

Ada kerenyahan yang berbeda dengan orkestra lain di London dari Philharmonia yang tahun ini berusia 70 tahun, di mana Philharmonia mampu menjaga kejernihan permainan sembari mampu memaksimalkan keheningan dengan padat. Tentunya karakter ini tidak bisa dilepas dari peran Salonen yang tenar lewat kepemimpinannya sebagai direktur musik yang luar biasa selama 17 tahun di Los Angeles Philharmonic (1992-2009) ini yang berhasil mengangkat reputasi dan kualitas orkestra di Pantai Barat, Amerika Serikat ini.

Belum lengkap apabila seorang Salonen yang dibesarkan di Finlandia apabila tidak memainkan karya komponis Finlandia, Jean Sibelius. Pun tahun ini bertepatan dengan 150 tahun kelahiran sang komponis. Symphony No.5 dalam Es Mayor, Op.82 dimainkan di babak kedua. Esensi kegelapan yang mencerminkan kegamangan situasi politik Finlandia yang diambang perang saudara ketika karya ini ditulis tahun 1918 sungguh nyata. Kegamangan seakan mengintip dari jauh menggambarkan pertama karya ini di bagian pertama, hingga kemudian berbalas gerak dalam paruh kedua bagian pertama ini. Bagian kedua yang tenang kemudian mengarah pada kemegahan di bagian terakhir yang dipandu oleh alunan repetisi tiup logam yang mengingatkan pada dentang lonceng yang berulang berbalas permainan cepat di seksi lain. Karya pun ditutup dengan spektakuler oleh Salonen dan Philharmonia lewat kord-kord final terbata-bata yang seakan menghentikan ruang dan waktu. Penonton pun terperanjat dan menantikan resolusi yang tertunda, jawab yang tak kunjung datang dari Sibelius. Kord terakhir ditutup dengan paripurna, menghentak Royal Festival Hall hingga riuh.

Sajian yang asyik di Minggu siang ini. Philharmonia Orchestra menunjukkan kalibernya sebagai tuan rumah di Royal Festival Hall yang tergabung dalam pusat kebudayaan nasional Inggris Raya, Southbank Centre ini.Philharmonia Salonen2

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: