Kabar Terkini

Duo Ykeda di IFI Jakarta


Banyak yang beranggapan bahwa tata akustik di auditorium gedung IFI Jakarta kurang menunjang untuk mementaskan pertunjukan musik klasik. Namun, apa yang terjadi hari Minggu, 1 November 2015 yang lalu seakan mematahkan anggapan tersebut. Duo Ykeda—Patrick Zygmanowski dan Tamayo Ikeda—dari Perancis dapat menggetarkan seisi auditorium dengan permainan memukaunya. Seluruh suara, dari kehalusan pianissimo sampai blok nada tone cluster yang intimidatif mampu dihantarkan dengan baik ke setiap telinga. Tidak ada kursi kosong tersisa malam itu, sampai-sampai direktur IFI saat memberikan sambutan sempat berseloroh bahwa pertunjukan tahun depan duo ini harus diadakan dua malam. Memang, pasangan suami-istri ini memiliki tempat tersendiri di hati pecinta musik klasik Jakarta, karena setiap tahun duo ini selalu menyempatkan diri untuk mengadakan resital di Jakarta, dan konsernya November tahun lalu di Goethe Institut Jakarta juga menuai sukses, seperti tahun-tahun sebelumnya.

Masih dalam rangkaian Four-Hands Piano Festival, duo ini memuaskan hasrat penonton akan pertunjukan piano empat tangan; setelah semalam sebelumnya para penonton dihibur kompatriotnya dari Perancis, duo Pascal dan Ami Rogé di Auditorium Bimasena. Jika Duo Rogé memberi serangkaian master class di Sekolah Musik Gitanada, Duo Pascal membagi ilmunya di Sekolah Musik Indonesia Piano Art.

4hands

Resital malam itu menampilkan karya tiga komponis yang uniknya bukan berasal dari Perancis, yaitu Johannes Brahms, George Gershwin, dan Igor Stravinsky. Repertoire pertama yang dimainkan adalah 3 Hungarian Dance—nomor 1, 4, dan 5—dari total 21 nomor Hungarian Dance karya Brahms. Meskipun karya tersebut sudah sering kita dengar puluhan kali, interpretasi Duo Ykeda yang segar dan sedikit berbeda membuat kita seakan baru pertama kali mendengarnya.

Patrick yang duduk sebagai secondo membuka Hungarian Dance 1 dengan ekspresif dan hangat, ditingkahi konfigurasi seperti air yang jernih oleh Tamayo sebagai primo. Tempo permainan sangat dinamis, dengan rubato yang tertakar dengan sempurna. Saat kekelaman g minor disejukkan dengan sepenggal bagian bes mayor, terdengar beberapa desahan luluhan hati penonton yang mungkin dapat menggambarkan betapa manisnya bagian tersebut dimainkan.

Masih dengan nuansa yang sama seperti nomor 1, Hungarian Dance 4 kembali menunjukkan kepiawaian duo ini dalam mencuri waktu melalui rubato, seakan penonton diajak ikut bergerak bersama mereka, bahkan menahan nafas bersama mereka, tanpa menciptakan kesan erratic. Tremollo-tremollo dapat dimainkan dengan halus dan jernih tanpa kehilangan unsur pembentuk dramatis, sebuah kontrol yang luar biasa.

Pada nomor berikutnya, Hungarian Dance 5, giliran Tamayo yang lebih banyak mengeksekusi melodi. Permainannya yang impulsif, diimbangi dengan ketenangan Patrick, menjadi tontonan menarik tersendiri. Nomor yang paling populer itu pun mendapat sambutan meriah dari penonton segera setelah akor terakhir selesai dibunyikan.

Duo Ykeda di IFI Jakarta (tim)

Rhapsodie in Blue karya Gershwin merupakan karya yang cukup menantang, terutama untuk versi empat tangannya. Dibuka dengan intro glissando klarinet yang terkenal itu, Tamayo mengawali karya ini dengan permainan solo yang memukau. Aksen dan nafas swing jazz segera terhadir, membuyarkan bayang-bayang tarian Brahms sebelumnya, dan selama sekitar 15 menit berikutnya penonton dihibur dengan suguhan “konserto jazz”.

Secara keseluruhan karya ini dimainkan dengan menarik, hanya sayang permainan duo ini sempat terganggu oleh pembalik halaman yang salah membalikkan halaman beberapa kali, sampai-sampai Patrick dan Tamayo harus membalikkan sendiri ke halaman yang benar. Tentu permainan tidak serta-merta menjadi kacau, Duo Ykeda tetap terlihat menikmati permainan mereka sendiri, dan sejak insiden-insiden itu Patrick selalu memberi kode berupa anggukan kepala kepada si pembalik halaman untuk membalik halamannya.

Setelah Gershwin, penonton diberi waktu untuk beristirahat sejenak selama sekitar 5 menit, karena baik Duo Ykeda maupun kuping penonton harus dipersiapkan untuk program berikutnya: Le Sacre du printemps, musik balet karya Stravinsky, dalam versi empat tangan. Jika malam sebelumnya Duo Rogé memainkan bagian pertamanya, L’adoration de la Terre, malam itu Duo Ykeda memainkan kedua bagian secara utuh.

Duo Ykeda - Rite of Spring

Kali ini Duo Ykeda bertukar posisi, Patrick yang mengambil posisi primo. Karya ini boleh dibilang merupakan salah satu tonggak musik modern, baik dari segi harmoni maupun tekniknya. Penuh dengan akor disonan dan permainan perkusif, penonton diajak untuk melihat kembali paganisme Rusia abad primitif. Bagian kedua, Le Sacrifice, benar-benar meneror penonton. Permainan ekspresif keduanya sangat membawa suasana. Saat memasuki bagian-bagian kontemplatif, misalnya, terlihat Patrick ikut merenung sambil melipat tangannya di dada, atau meluruskan kaki ke depan. Menjelang bagian penutup, Tamayo juga seperti masuk ke dalam kondisi trance. Adegan sang gadis yang terus menari hingga ajal menjemput pun segera terbayang, membawa sensasi kengerian tersendiri.

Duo Ykeda Hormat

Tepuk tangan meriah membuat Duo Ykeda kembali ke atas panggung, memberikan encore andalan mereka yang hampir selalu dimainkan setiap kali mereka konser di Jakarta, Sabre Dance karya Aram Khachaturian. Seperti biasa, versi mereka akan karya ini selalu menarik untuk dilihat karena menampilkan banyak atraksi di atas piano.

Menghadiri konser malam itu mengingatkan kembali mengapa dahulu kita jatuh cinta pada Duo Ykeda, dan mengapa kita akan jatuh cinta berulang kali pada mereka. Mengutip kalimat Emmanuel Reibel, kritikus musik Perancis, mengenai Duo Ykeda, “It’s not enough to listen to them – you really have to see them.” (tim)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: