Kabar Terkini

Murahnya Waktu Seniman Kita


Pengalaman beberapa waktu terakhir ini mengarah pada satu kesimpulan yang sedikit banyak hampir menyerupai. Waktu para musisi di Indonesia itu murah. Kesimpulan yang terasa menohok bisa jadi. Tapi benar, murah.

Kita bisa beralasan dengan berbagai macam dalih bahwa pendapatan perkapita kita masih jauh dari tenaga-tenaga di luar. Banyak juga yang beralasan bahwa taraf hidup penduduk Indonesia juga masih beragam dan cukup rendah dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Tapi bukan itu keprihatinan utama penulis. Senyatanya, perilaku seniman kitalah yang menegaskan rendahnya harga waktu kita.

Suka tidak suka, harga waktu kita hanyalah kita yang menentukan. Dan seringkali penghargaan terhadap waktu hanyalah dapat diukur melalui kedisiplinan yang mampu dibangun. Seorang konduktor asing pernah mengeluhkan mengenai rendahnya mutu kedisiplinan para pelajar musik muda yang mengikuti sebuah orkestra pemuda, sehingga ia naik pitam. Demikian juga soal kedisiplinan ini yang walaupun bukan faktor utama tapi perlahan menggerogoti orkestra remaja Twilite Youth Orchestra sebelum akhirnya membubarkan diri.

Di dunia profesional pun juga tidak kalah hebat. Sebuah gladi resik bisa sangat terlambat dibandingkan jadwal semula, seperti yang disaksikan dalam salah satu pagelaran drama musikal beberapa waktu lalu. Rencana gladi resik yang dibarengi media preview yang seharusnya pukul tujuh malam bisa bergeser ke pukul sepuluh malam lebih dikarenakan coba panggung dan latihan blocking yang bahkan dilakukan di hadapan wartawan dan kritikus yang harus menunggu di dalam auditorium menonton mereka berlatih.

Kejadian lain di dunia orkestra juga tidak jarang kita melihat latihan orkestra yang bisa lebih dari 10-12 jam sehari dikarenakan sang konduktor sibuk mengatur mixing sound system. Bisa jadi karena tidak ada tenaga ahli selain sang konduktor yang kebetulan sangat ternama ini adalah sound engineer ulung ini harus turung tangan. Tapi memang di sisi lain tidak ada usaha dari para penata suara untuk dapat mengerjakan mixing dengan lebih tangkas. Belum lagi kita melihat musisi-musisi yang datang terlambat untuk berlatih ataupun ketiadaan peraturan waktu lembur bagi para musisi kita yang menjadikan manajemen waktu seakan sekenanya.

Masalah sarana dan infrastruktur memang memiliki pengaruh seperti yang diungkapkan Andreas Arianto dalam wawancara dengan A Musical Promenade beberapa waktu lalu. Dan bagaimana industri kini sudah menerapkan sistem sanksi baik sosial maupun profesional kepada musisi yang tidak tepat waktu ini. Seniman kita tidak bisa disalahkan sepenuhnya akan permasalahan ketepatan waktu dikarenakan infrastruktur yang saat ini kita miliki memang belum mendukung sehingga ketepatan waktu juga tidak bisa berlaku secara saklek.

Kedisiplinan nampaknya juga belum menjadi bagian dari budaya yang ada dalam banyak institusi pendidikan seni. Bagaimana tidak, di sebuah institusi pendidikan seni di salah satu kota di selatan pulau Jawa masih didapati ujian semester yang seringkali mulur-mulur dan kalender akademik yang tidak menentu, padahal institusi ini adalah institusi yang terpandang di Indonesia. Kecenderungan tidak berlakunya sistem pengawasan dan assessment dalam kegiatan akademik maupun kesenian menjadi cikal-bakal rendahnya disiplin ini yang berujung pada penghargaan waktu yang rendah dan akan berakibat pada apresiasi finansial yang juga sama.

Murahnya waktu para seniman kita juga memberikan dampak yang mungkin tidak kasat mata, yakni juga rendahnya apresiasi terhadap profesi seniman. Banyak pula yang mengira bahwa melakukannya demi cinta akan seni dan rela bekerja hingga tidak berkondisikan manusiawi menjadi inti dari perjalanan mereka sebagai seniman yang berkorban demi profesi mereka, sebagai pahlawan bagi seni yang mereka junjung. Padahal hal ini justru semakin merendahkan profesi ini secara umum dan menimbulkan pandangan bahwa seni hanyalah sebuah hobi yang penting pelaku senang bisa mengerjakannya. Padahal banyak pelaku yang sungguh hidup dari seni saja. Di satu sisi ada yang ingin melakukannya demi cinta, di sisi lain ada juga mereka yang memperalat kecintaan tersebut.

Apabila serikat buruh dahulu tidak angkat suara untuk perbaikan kebijakan keselamatan kerja, mungkin akan masih banyak pemberi kerja yang tidak memperhatikan aspek keselamatan pekerjanya. Beberapa waktu lalu wacana tentang serikat musisi sempat diangkat namun sepertinya tenggelam begitu saja tanpa adanya peminat, demikian juga dengan banyak serikat seniman lainnya. Padahal bisa jadi serikat ini mungkin membantu perbaikan kondisi kerja bagi banyak seniman.

Selain itu perlu juga dicermati hadirnya tenaga murah seni dari para pelajar seni yang secara tidak langsung bekerja sebagai sambilan dalam proyek murah meriah untuk menambah pengalaman ataupun belum mengerti harga pasar. Tanpa perlindungan pekerja yang tepat, harga para pelajar seni yang di bawah standar seperti ini mampu mempengaruhi harga pasar pekerjaan secara umum. Perlunya kontrol baik terhadap penyedia lapangan kerja yang mungkin mempekerjakan tenaga di bawah standar ini, maupun pasokan tenaga murah ini haruslah dilakukan. Di beberapa negara, asosiasi pekerja maupun pengusaha, ataupun pemerintah dapat memberikan peringatan dan bahkan denda bagi penyedia lapangan kerja yang bandel membayar di bawah standar upah minimum pekerja seni yang layak.

Sebenarnya banyak pekerjaan rumah dalam ketenagakerjaan yang harus digarap di bidang kesenian, terutama yang berkenaan dengan organisasi seni dan pekerja-pekerjanya. Melihat standar di lapangan dan standar pasar pekerjaan. Dan apabila seniman sendiri berani berdiri dengan standar profesionalitas tinggi dan dibarengi dengan kesadaran melindungi profesi pekerjaan mereka, mungkin waktu seniman tidak akan semurah itu.

 

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: