Kabar Terkini

Dua Wanita Mimpi Jadi Band Tenar: Drama Musikal Mini yang Keren


Ide untuk tulisan lagu melayang-layang di kepala dua orang wanita muda yang berangan membentuk band. Mereka belum punya apa-apa, alat musik tidak punya, cuma berdua dan ide musik yang seakan tidak habisnya. Inilah adalah ‘Awful Things Can Happen at Any Time — An Uplifting Musical’.

Dua orang wanita muda, berkisah tentang mimpi mereka untuk jadi tenar lewat karya mereka. Di ruang studio hitam berkapasitas 30 orang, duo Ixchel R Martinez dan Gemma Rowan penulis sekaligus pemeran drama musikal ini, bercerita tentang hidup mereka dan pengalaman masa kecil yang mungkin ya mungkin tidak, akan menjadi inspirasi mereka akan sebuah lagu andalan mereka di album perdana yang belum diluncurkan untuk band mereka yang juga belum bernama. Ide-ide nama bermunculan bertubi-tubi untuk nama band baru mereka, beberapa aneh, beberapa konyol beberapa kocak, beberapa tak bermakna, disebutkan dan dipampang di layar hitam di belakang.

Hidup menggelandang di sebuah tenda dengan berbekal sebuah kamera dan berpura-pura saling mewawancara layaknya seniman tenar, duo ini seakan menghidupkan mimpi akan tenar dan berbicara pada para penonton seakan berkisah seluk beluk hidup mereka. Duo ini juga berkisah tentang kebersamaan, dekat di antara keduanya tapi juga persaingan yang membuat mereka berdua terkesan jauh.

Inilah potret pemuda Inggris yang ingin menjadi seorang rockstar. Dengan ide segunung dan mimpi selangit, juga dengan kemampuan ‘seadanya’, musikal selama sejam ini menghibur penonton lewat absurditas yang ditampilkan. Bermodal iPad yang dicorongkan ke mic dan instrumen kardus, seakan mereka mencoba menarik penonton untuk masuk ke dalam mimpi dan alam kreativitas mereka, lewat lagu-lagu pop dan rock yang mereka ciptakan, kadang belum bernada karena baru tertulis liriknya, ada yang aneh karena terkesan lirik dipaksakan, ada yang bernada indah dan menyentuh tapi berhenti di tengah jalan karena ternyata bait keduanya belum ditulis. Juga tari-tarian mereka seakan menambah ‘aneh’-nya mereka dan perjuangan mereka.

Mungkin bagi banyak penggemar teater dan drama musikal di Indonesia, teater musical bergaya fringe/pinggiran ini sangat tidak biasa. Dua pemeran, dua kru dan 30 penonton di salah satu teater daerah ternama the Albany di Deptford, London adalah hal biasa. Mengambil tempat di the studio dengan kapasitas 30 orang duduk, memang lebih intim dibandingkan dengan Teater utama mereka dengan kapasitas 250 orang. Namun karenanya pertunjukan dari keduanya terasa begitu intim dan hidup. Penonton begitu dekat dikarenakan tidak ada batas panggung di teater hitam ini. semua duduk manis di ruang sebesar ruang kelas sekolah SD. Kaleng bir yang dibuka terdengar dengan jelas, bahkan ketika isinya dituang ke lantai oleh Ixchel untuk membangunkan Gemma yang mendadak menari bersamanya, cipratannya mengenai penonton di baris terdepan.

Tokoh Ixchel Martinez yang cuek berpadu dengan Gemma Rowan yang lebih gemar berbicara masing-masing memerankan dirinya dalam lakon. Mimpi musisi rock amatir digarap dengan profesional sembari melibatkan penonton, kedua pelakon seakan bercerita tanpa henti kepada penonton tentang mimpi dan hidup mereka. Di dalam hati kita mengamini, bahwa kedua tokoh ini memang terlalu mentah dan aneh untuk bisa jadi band terkenal.

Dengan profesionalitas dan akting yang meyakinkan, kedua aktris membuat 30 orang penonton ini tergelak, namun juga kemudian serius dibawa pada peristiwa sulit hidup mereka. Penonton pun jadi sulit membedakan apakah kisah yang dikembangkan sebagai bagian dari Open Lab di Barbican/Guildhall yang mereka ceritakan itu benar sekadar rekaan atau nyata. Dan hingga usai penonton dihibur dan tertawa, tapi tanya itu masih tersisa sembari menyaksikan musisi ini menantikan big break/ngetop mereka. Inilah kisah sebuah drama musikal di Jumat malam di mana penonton diperkenankan membayar seikhlasnya, lagi-lagi sebuah konsep seru yang ditawarkan the Albany.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: