Kabar Terkini

Musisi dan Ide ‘Otherness’


Musisi Indonesia, bahkan termasuk musik seni tidak sedikit yang sibuk membangun kubu. Satu bisa jadi tidak akur dengan yang lain dan seringkali mencederai seni yang mereka bina sendiri. Padahal di bidang yang tidak banyak pelakunya dan bukan bidang yang populer di kalangan masyarakat, kerjasama dan saling dukung adalah hal yang kudu dilakukan. Dalam tulisan pendek ini, mari kita melihat isu ini dari kacamata ‘Otherness’ yang kental dalam pemikiran para seniman, tapi bisa jadi tidak sadar.

Konsep ‘otherness‘ adalah sebuah konsep yang lahir karena filsafat identitas dan interaksinya dengan kehidupan dan pandangan sosial. George Wilhelm Friedrich Hegel, seorang filsuf Jerman, menulis tentang bagaimana konsep ini terbentuk dari konsep identitas dan pengenalan akan identitas itu kemudian menjadi sebuah titik tumpu mengenali diri dan mengenali sekitarnya, apa yang menjadi bagian dari ‘aku’ dan yang bukan.

Edmund Husserl kemudian juga menulis bagaimana konsep identitas diri ini kemudian juga bercampur menjadi sebuah konsep intersubyektivitas, di mana interaksi dan pengenalan akan identitas kemudian berbuah pada keterkaitan satu pribadi dengan pribadi yang lain lewat sebuah subjektivitas yang dibangun bersama. ‘Aku’ dan ‘kamu’ kemudian bertransformasi menjadi ‘kita’ dibandingkan dengan konsep ‘dia dan mereka’ yang lekat dengan perbedaan. Di sini ‘otherness‘ menjadi lekat dengan Di sini yang menjadi fokus adalah bagaimana identitas sosial terbentuk sebagai sebuah konsensus antar pribadi yang berbagi sebuah sudut pandang subyektif yang sama, merasakan keterikatan antar satu pribadi. Konsep ‘otherness’ kemudian melihat perubahan pandangan identitas diri ‘saya v.s. dunia’ menjadi identitas kolektif ‘kita v.s. dunia’.

Emmanuel Lévinas melihat keterkaitan antara konsep ‘other‘ dengan kekuatan yang lain yang berada di luar kendali kita. Di sini memang Lévinas melihat ‘other‘ secara teologis (merujuk pada Ketuhanan), yang memiliki kuasa yang tidak dapat dicampuri oleh manusia. Namun ada satu aspek dari pemikiran Levinas yang kemudian berkembang tentang konser ‘other being‘ yang semula bersifat transenden, menjadi hal yang sifatnya imanen dan dapat diterapkan di keseharian. Di sini konsep kekuasaan yang akhirnya juga banyak mempengaruhi penggolongan antara kita dan mereka. Perbedaan kekuasaan itu yang akhirnya menciptakan jarak antara ‘kita’ dan ‘mereka’, yang berarti persepsi akan perbedaan kekuasaan akhirnya menentukan konsep ‘otherness‘. Konsep ‘otherness’ oleh para sosiolog Indonesia seringkali diterjemahkan sebagai ‘ke-Yang lain-an’.

Musisi di Indonesia pun sebagaimana seniman lain melihat konsep diri sebagai salah satu kunci utama dalam berkarya. Pengenalan akan identitas ‘aku’ kemudian menjadikannya sebagai manusia yang dapat otentik berkarya. Dalam teori psikologi barat, ekspresi lahir dari sebuah individualitas, di mana individu dicerminkan, dibentuk, diakui, dipandang sebagaimana ia mampu mengekspresikan diri sebagai sesuatu ‘yang lain’ dibanding masyarakat umum. Metafora ‘out-of-the-box’ pun sebenarnya adalah sebuah cara pandang yang menggambarkan konsep ‘otherness‘ di mana ada sekelompok yang di dalam kotak melihat konsepsi akan yang ‘lain’ yang tidak tergabung dalam kotak, bebas, dan bahkan beda sendiri yang seringkali melihat mereka yang di satu sisi kotak punya muatan kuasa yang lain dibanding di sisi yang lainnya.

Ekspresi inilah yang digali tanpa batas dalam banyak pendidikan dan pelatihan kesenian dan kesenimanan di mana setiap pribadi yang ingin menjadi seniman harus menemukan suara dirinya sendiri, menjadi berbeda dari pola pikir yang ada, serta keluar dari konformitas. Dalam hidupnya pribadi-pribadi yang dibesarkan dalam dunia ini berjuang untuk menjadi berbeda, bukan hanya dari segi karya tapi juga dari sisi identitas. ‘Lain dari yang lain’ adalah sebuah mosi yang dibentuk oleh banyak seniman untuk menemukan kekhasan diri, menjadi berbeda dan lepas dari yang umum. Pelatihan ekspresivitas mereka kemudian juga berpengaruh dengan bagaimana mereka mempersepsi diri dan lingkungannya. ‘Saya’ dan ‘mereka’ menjadi percakapan yang lekat dalam diskusi keseharian karena itulah esensi keberadaan seniman yang satu dengan yang lain di mana mereka dituntut untuk pertama berbeda dalam berekspresi, lantas baru ditilik sisi lainnya. Tidak jarang kualitas mereka sebagian dipandang lewat seberapa jauh mereka berbeda satu dari yang lain.

Sayangnya, perjuangan untuk jadi berbeda dan konsep ‘aku dan mereka’ itu pun tetap menjalar pula dengan kuat sejalan dengan bagaimana pribadi-pribadi ini kemudian membentuk komunitas yang sepaham dan menjadikan identitas perbedaan itu sebagai ciri yang utama. Karenanya tidak mudah untuk membangun kolaborasi antar lembaga maupun institusi yang terlalu kental dengan individualitas ataupun identitas kelompok yang mengarah pada fanatisme semu. Kubu-kubu pun terbentuk, terutama ketika kekuasaan dan hegemoni menjadi bumbu pemecah yang lebih hebat.

Seberapa banyak kelompok seniman tidak menyenangi kelompok seniman yang lain karena kekuasaan dan hegemoni yang lekat pada kelompok seniman yang lain. Yang satu kemudian merasa tersisihkan dan merasa tertindas, oleh kuasa yang lain. Bagaimana sebuah kolaborasi kelompok A dan kelompok B kemudian dilihat oleh kelompok C yang merasa tersisih karena tidak diikutsertakan, adalah sebuah permasalahan klasik yang dapat dilihat merebak. Belum lagi soal kekuasaan uang hadir di sana dan munculnya subyektivitas dalam penilaian seni yang kemudian mengaburkan bagaimana kolaborasi tersebut didasarkan. Belum lagi absennya media yang menyoroti permasalahan seni di Indonesia yang semakin memperparah sekaligus mendramatisir fenomena yang terjadi lewat pertukaran kabar burung yang luar biasa riuh.

Uang dan kekuasaan kemudian menjadi topik yang asyik dicermati dalam berkesenian. Kekuasaan kemudian melahirkan kecemburuan yang hebat, satu seniman bertanya apakah dirinya kurang hebat dibanding yang lain yang kebetulan mampu memiliki kuasa yang lebih. Para seniman cemburu melihat dewan kesenian di beberapa daerah tidak tampak bekerja dan hanya sibuk memperkaya diri. Satu komponis marah dan kecewa karena karyanya tidak dipilih untuk masuk dalam simposium dan lokakarya komposisi dibandingkan komponis baru yang punya ‘akreditasi’ lebih rendah darinya. Mosi tidak percaya dilayangkan kepada penyelenggara maupun kelompok komponis yang masuk lokakarya karena dianggap bagian dari hegemoni yang represif. Sebuah pusat musik dianggap menipu karena kebetulan menyebarkan paham tertentu yang bisa jadi berbeda dengan yang dipercayai. Sebuah sekolah mengambil jarak seakan bermusuhan satu dengan yang lain sedang satu media dicaci karena dipandang membagikan kabar yang tidak merujuk, namun ternyata ada pihak yang merasa tersakiti dan tersisih. Kuasa adalah yang diperebutkan bahkan di kalangan para seniman sebagaimana bidang lainnya dan sebagaimana bentukan sosial lain.

Menariknya dalam pemikiran ‘otherness’ yang kental, tidak muncul penengah yang cukup kuat karena ternyata para seniman ini lebih suka untuk berkelahi sendiri dengan berbekal identitas. Berebut kekuasaan yang dapat dipandang sangat luas, seperti akses, uang, dan pengaruh sayangnya tidak disertai kepekaan berpikir secara kritis dan terstruktur untuk membentuk opini dengan sopan dan berwibawa. ‘Otherness‘ akan tetap ada selama pendidikan kreatif menekankan diri pada pengembangan identitas diri yang berbeda dari yang lain.

Dalam sebuah masyarakat, identitas akan tetap ada dan mempengaruhi cara pandang kelompok, baik yang merasa  ada di dalam kelompok, baik di luar; sebuah hal yang biasa. Jadi luar biasa karena para seniman yang kritis dan punya identitas kuat malah kurang kuat dalam bertahan dan berkarya, karena lebih sibuk berebut kuasa dan lebih nikmat merasa sebagai korban. Sebuah romantisme seakan memperkukuh identitas mereka sebagai seniman: seniman yang hebat adalah korban hegemoni yang menderita karena berbeda. Sebuah pandangan yang mungkin lebih mirip sebuah roman picisan dibanding kisah heroik.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: