Kabar Terkini

Pariwisata: Orang dan Budaya ke Mana?


World Travel Market 2015 Rabu lalu di London memang membawa pengunjungnya seakan terbang dari satu negara ke negara yang lain. Di sini negara-negara membuka stan yang hebat dan megah, yang masing-masing mengangkat objek wisata yang mereka unggulkan. Dan Indonesia pun lewat Kementerian Pariwisata Indonesia juga turut serta dalam acara yang berpangku pada relasi business-to-business antar negara ini yang berlangsung selama 4 hari. Puluhan persero dari setiap negara turut serta memeriahkan stan negara pengusung. Namun menarik apabila melihat stan Indonesia yang tahun ini mengangkat tema Kemaritiman.

Dengan stan yang terbilang cukup besar, dengan desain perahu phinisi yang terkesan hebat berlapis keindahan terumbu karang Indonesia yang warna-warni. Di sisi lain terpampang pandangan mempesona akan birunya laut dan bebatuan yang menjulang berwarna kehijauan, pasir yang putih. Ya, pesona Raja Ampat memang begitu mencengangkan. Tari piring dan pertunjukan angklung sesekali mewarnai. Namun menarik bahwa desain stan menunjukkan bagaimana sebuah Kementerian Pariwisata dalam sebuah event internasional mengemas negaranya.

Dalam desain stan yang megah ini ada satu yang menarik di mata seorang pengamat awam. Di manakah letak budaya dan manusia Indonesia dan budaya maritimnya?

Ya, stan yang dikunjungi ribuan orang baik pelaku pariwisata, pejabat pemerintahan negara sahabat maupun pengunjung umum di hari Kamisnya, memang mencerminkan Indonesia yang indah alam bahari yang tidak tersangkal. Namun di sisi lain, betapa juga dalam desain yang pasti diulas dan disetujui oleh Kementerian Pariwisata ini, dapat dilihat bagaimana kementerian sangat mengandalkan nilai jual dari alam Indonesia yang luar biasa ini. Namun yang mengherankan adalah bagaimana peran manusia dan budaya maritim Indonesia tampaknya tidak mendapat peranan yang besar dalam promosi ini.

  
Sulit rasanya menemukan wajah Indonesia yang terkenal ramah dan murah senyum tercermin dari desain stan yang megah. Hanya wajah petugas stan saja yang duduk dan menjelaskan inilah yang terlihat sebagai orang Indonesia. Wajah seorang Indonesia hanya tersempil di bagian pinggir stan, sedang yang lainnya keindahan bahari Nusantara menjulang dan mencengangkan. Padahal dibandingkan keindahan alam, sentuhan wajah manusiawi yang hangat adalah modal mendasar dalam pariwisata bahkan wisata bahari sekalipun. Dan pula keragaman manusia Indonesia yang 250 juta juga mampu menjadi daya tarik tersendiri yang dapat dibangun. Dengan desain yang juga didominasi warna putih bersih dengan gaya minimalis seakan menambah dinginnya stan Indonesia ini.

Apabila manusia tidak menjadi salah satu fokus dalam promosi pariwisata dan desain stan, sebenarnya kita pun dapat perlahan melihat bagaimana peran budaya bahari dalam promosi pariwisata ini. Selain kapal Phinisi yang bergantung menjadi atap, dan layar sekunder dengan stupa Borobudurnya, tidak didapati bagaimana budaya maritim dapat menjadi salah satu bagian yang begitu erat dalam pariwisata kita. Tidak tentu disadari juga bagaimana Phinisi menjadi bagian dari kekayaan budaya bahari Indonesia apabila dijelaskan lebih lanjut. Terlebih dengan seluruh badan kapal ditutupi potret terumbu karang warna-warni yang cerah ceria. Memang di penghujung hari terdapat pertunjukan tari piring dan musik angklung yang menarik, tapi tidak juga mencerminkan kekayaan Indonesia. Jangankan budaya urban Indonesia yang semakin berkembang akhir-akhir ini, budaya tradisi yang unik saja tidak mendapat preferensi yang utama dalam merancang stan.

Dibandingkan sementara di antara stan-stan negara tetangga, terlihatlah Indonesia dengan keunggulan alamnya, namun sepertinya tidak dengan manusianya dan budayanya. Thailand and Malaysia mengangkat alam, budaya dan manusianya secara berimbang lewat desain. Mesir, mengunggulkan aspek historis lewat desain-desain kayu sebelum masehi. Apabila dibandingkan dengan sekilas Indonesia mengutamakan alam sebagaimana Uganda mengutamakan savanah yang menjadi ciri khas wisata safarinya, dan negara bagian Florida AS yang mengutamakan wisata baharinya, dan liburnya.

Jadi tidak heran apabila citra Indonesia lekat dengan hutan hujan dan pantai yang putih berpasir. Dan mungkin ini menjadi sedikit renungan bagaimana ke depan kita pun harus semakin berbangga dengan kebudayaan Indonesia, juga dengan kemanusiaannya sebagai aset terbesar pariwisata nasional. Dan mungkin sedikit bertanya, walaupun kita menjual keindahan wisata bahari, benarkah bangsa kita sudah menjadi bangsa yang mempunya budaya maritim yang kuat di mana pariwisata bisa bersandar ataukah hanya sekadar menjual keindahan alam? 

 
Foto oleh Fadilah Arief

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: