Kabar Terkini

Budaya Kritik Kaleng, Anonim yang Menjerumuskan


Senang tidak senang, kini corong ada di mana-mana. Kebebasan membangun jejaring adalah keniscayaan lewat media yang berserakan saat ini. Komentar dalam bentuk kata, video, audio, jempol dan ikon lainnya berseliweran, belum lagi tagar (#) dan retweet dan repost yang seakan menggandakan banyak informasi yang beredar. Baik yang bernama maupun anonim, semuanya berbaur jadi satu, memperebutkan ruang pikir dan diskursus.

Namun demikian, apakah anonimitas dapat menyehatkan dunia kritik seni kita? Hingga kini masih banyak mereka yang memilih untuk melakukan kritik musik di dunia maya bagaikan menulis surat kaleng. Sebuah blog memfasilitasi hal yang demikian dan berkonsentrasi dalam kritik musik populer yang cukup berkualitas namun tidak berani menampakkan batang hidung dengan alasan industri musik Indonesia memandang muka siapa yang berbicara dan akan didengarkan. Demikian disampaikan oleh admin dari blog ini. Padahal dalam sebuah kesempatan, sang admin menyatakan bahwa blog kritik musik populer ini didukung oleh para ahli dan akademisi. Namun tidak sekalipun kelompok penulis blog ini menampakkan muka ataupun nama.

Memang, internet sebagai media terdahulu dibina sebagai jaringan bawah tanah yang menjunjung anonimitas. Namun 40 tahun kemudian perlahan internet berubah. Pseudo identitas yang dahulu memisahkan kehidupan daring dengan kehidupan nyata seakan lama-lama terkikis ketika dunia maya berintegrasi dengan budaya nyata. Mereka yang dahulu membagikan pikiran dalam komentar tak bernama kini mengemuka dengan halaman profil yang berteriak lantang akan siapa mereka. Ranah daring pun menjadi ranah perjuangan membangun identitas yang lekat dengan keseharian, bukan lagi sebuah kecenderungan bawah tanah yang tersembunyi. Nama dan ID menjadi rekat dalam identitas manusia.

Anonimitas dalam melemparkan kritik meskipun dapat dilakukan dan dimungkinkan pada dasarnya tidak dapat memajukan dunia kritik seni kita. Karena sebagaimana sebuah surat cinta kaleng, surat ini tiada jelas siapa sang pengirim pesan. Apalagi pesan kritik dalam seni adalah sebuah pesan yang sangat sensitif dan rentan yang harus mampu disampaikan secara baik dan juga diterima dengan baik pula.

Kritik pun menohok pembaca dan memprovokasi pelaku untuk melihat kejadian seni secara lebih objektif dan mencoba memandangnya dari sudut pandang si kritikus. Membaca kritik adalah sebuah aktivitas yang menuntut pelaku maupun penikmat menanggalkan keakuannya dan masuk ke dalam alam pikir orang lain, sebuah hal yang tidak mudah dilakukan. Dan tidak mengherankan, banyak yang gagal menanggalkan subjektivitas diri ini dan terjebak pada ketersinggungan dalam menerima kritik.

Anonimitas dalam kritik seni justru menegasikan efek positif dari kritik itu sendiri, meskipun kritik yang disampaikan adalah berbobot. Pendapat yang bisa jadi menelanjangi pembaca dan pelaku justru disampaikan oleh mereka yang bahkan tidak sudi membuka topinya untuk sekedar berkenalan. Ketidaktahuan pembaca akan siapa penulis kritik bukannya semakin membuat pernyataan yang dibuat bernilai, malah seakan kehilangan pengaruhnya. Nyatanya kritik yang bagaikan surat kaleng itu hanya berasal dari ia yang berani memandang dari menara gading tanpa berani turun, dikenali dan berdiskusi dengan mereka yang berpandangan berbeda. Yang demikian justru menjerumuskan kritik dalam jurang penilaian negatif.Important opinion

Kritik yang baik justru memicu sebuah diskusi atau bahkan debat, sesuatu yang hilang apabila anonimitas dalam kritik dipertahankan. Berdebat dengan siapa, toh lawan bicara saja tidak diketahui. Meskipun dapat dilakukan dalam dunia daring, hal yang demikian malah justru mengecilkan peran krtik dan bahkan mematikan apresiasi terhadap dunia kritik seni yang masih sangat hijau di dunia musik Indonesia seberapa baik ide dan wawasan yang dipertunjukkan, ataupun seberapa nyata borok yang disingkap.

Banyak pihak yang lupa bahwa kredibilitas itu dibangun atas fundamen identitas. Kualifikasi pun menempel pada identitas tersebut. Tanpa fundamen identitas dan berani untuk berbicara dan menerima akibat dari pembicaraan tersebut, kredibilitas kritikus tidak akan dapat dibangun. Sedemikian juga dengan mereka yang mengaku kritikus tapi hanya berani berbicara baik dan mengikut arah tanpa ada pendirian yang jelas.

Surat cinta kaleng bisa jadi hanya sebagai mainan remaja. Sebuah ungkapan cinta yang tertulis jelas dan bisa jadi indah menawan hati namun sering berakhir di tempat sampah karena tidak diketahui siapa penulisnya. Demikian juga kritik yang berkualitas sering hanya ditepis begitu saja karena tidak dibangun di atas kredibilitas yang tegap dan identitas yang jelas. Kritik yang bermutu akhirnya berubah menjadi klaim-klaim dari tokoh maya yang tidak diketahui asal-usulnya. Dan apa efeknya bagi kemajuan seni? Hampir tidak ada dan kritik bermutu itu hanya buang-buang tenaga tanpa ada nilai kredibilitas di dalamnya.

Alangkahpun demikian, penulis angkat topi bagi mereka yang telah berusaha menulis untuk menggiatkan dunia kritik musik populer kita lewat media online, dibandingkan oleh mereka yang lebih memilih untuk tutup mulut karena pendapat mampu mengancam karir mereka. Tapi kritik akan paripurna apabila sang kritikus pun juga menampakkan diri untuk juga berani dikritik. Kritik bagai bermain bola tenis, kedua pemain harus berada di dalam lapangan berhadapan. Bagi yang bermain tidak boleh takut untuk terkenal bola, karena kritik balik dan respon pembaca dan pendengar adalah kenyataan yang harus dihadapi.

~mengkritik rekan sejawat, blog kritik musik populer

Iklan
About mikebm (1238 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Comments on Budaya Kritik Kaleng, Anonim yang Menjerumuskan

  1. Saya tahu blog yang dimaksud, mengikuti blog itu dan membaca tulisan-tulisannya. Tapi tidak bisa dipungkiri ada satu jargon peninggalan orba yang masih kuat bercokol di benak manusia Indonesia: kritik yang membangun. Seolah-olah kritik yang tidak memberikan solusi ada adalah nonsense. Jadinya orang nggak berani melontarkan kritik terang-terangan karena takut mendapat boomerang balik: solusinya mana? Ada lagi boomerang ‘situ cuma bisa main kritik, lah karyamu mana?’ Padahal kritik itu ya salah satu bentuk karya.

  2. iya banyak yang tidak sadar bahwa kritik adalah sebuah karya intelektual yang sungguh jelas… Mereka lupa bahwa terbangunnya pandangan teoritis yang baik karena kritik yang juga berjalan baik….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: