Kabar Terkini

Il Ritorno: Kembalinya Farman Purnama dan Ayke Agus


~oleh Lisa Supadi (ed. Teo Minaroy)

Sabtu, 14 November 2015, Balai Resital Kertanegara menjadi saksi bisu konser memukau oleh tenor Indonesia Farman Purnama dan pianis kelas dunia Ayke Agus. Konser yang bertajuk ‘IL RITORNO’ ini diselenggarakan dalam rangka kepulangan Farman ke tanah air, setelah menyandang gelar master dari Utrecht Conservatory Belanda, di bawah arahan maestra Henny Diemer.

Farman yang juga adalah seorang sarjana arsitektur ITB ini sudah banyak membintangi opera baik di dalam maupun luar negeri, seperti di Belanda, Singapura, Macau, dan Jepang. Bahkan bersama dengan Dutch National Opera Academy, ia pernah memerankan tokoh Admeto dari opera Alceste karya C. W. Gluck, yang merupakan salah satu peran tersulit di dunia opera bagi seorang tenor pada bulan April silam. Tidak hanya terbatas dalam ranah klasik, Farman juga pernah berkolaborasi dengan nama-nama besar industri musik seperti Elfa Secioria, Andi Rianto, dan Addie MS.

Dengan suara jernih dan nyaring, Farman melantunkan sembilan Art Songs karya Reynaldo Hahn, Paolo Tosti, dan Roger Quilter, yang dibuat berdasarkan puisi-puisi karya Victor Hugo, Guillot de Saix, Leopold Dauphin, Carmelo Errico, Gabriele D’Annunzio, Alfred Tennyson, William Shakespeare, dan Percy B. Shelley. Setiap karya dimulai dengan sedikit penjelasan lisan mengenai arti puisi, kemudian dinyanyikan dengan penuh penghayatan dan didukung oleh permainan piano Ayke Agus yang luar biasa. Bakat vokal Farman terlihat menonjol, terutama dalam kemampuannya melafalkan kata-kata dari berbagai bahasa seperti Perancis, Italia, Inggris, dan Jerman dengan sangat jelas.

Namun sangat disayangkan pada akhir babak pertama, Farman sedikit lengah sehingga harus memulai kembali lagu yang telah dimulainya. Meskipun demikian ia berhasil menyelesaikan lagu tersebut dengan memukau. Juga disayangkan, narasi yang dibawakan dalam bahasa sehari-hari dan sedikit terburu-buru ini membuat konser terkesan santai. Alangkah baiknya jika ada narasi tertulis yang dibagikan untuk membantu penonton menikmati keindahan lagu-lagu tersebut.

Farman Purnama Ayke 1 (2)

Babak kedua dibuka dengan permainan piano solo Ayke Agus membawakan karya George Gershwin, Prelude No. 1, yang terdengar sangat berkarakter dengan interpertasinya sendiri, terlihat jelas bahwa ia adalah seorang musisi kelas dunia. Segera setelah duduk di bangku piano, tanpa berlama-lama ia langsung memainkan intro karya yang terkenal itu. Dengan mengambil tempo sedikit di bawah, permainannya terlihat tenang tak terburu-buru tanpa kehilangan spontanitas dan sentuhan jazz. Perlu diketahui bahwa Ayke Agus juga merupakan seorang concert violinist yang masih aktif memberikan konser baik piano maupun biola di Asia, Eropa, dan Amerika. Ia berguru, berkolaborasi, mengiringi dan memiliki hubungan abadi dengan maestro biola Jascha Heifetz selama 17 tahun sampai saat terakhirnya. Ayke juga menyelesaikan transkripsi Heifetz akan karya Gershwin yang belum sempat terselesaikan karena Heifetz telah tiada.

Kemudian konser dilanjutkan dengan dua aria dari opera Don Giovanni karya W. A. Mozart dan opera Mignon karya A. Thomas yang dilantunkan Farman dengan indah dan betul-betul menggambarkan tokoh yang ia perankan.

Konser malam itu ditutup dengan manis oleh duet Farman Purnama dan Brigitta Sisca, seorang soprano yang aktif bernyanyi sejak tahun 2010 di bawah arahan Avip Priatna. Mereka menyanyikan aria dari opera Die Entfuhrung aus dem Serail karya Mozart yang membawa warna lain dalam penghujung konser ini. Keduanya nampak serasi bersama, memerankan perannya masing-masing, ditambah dukungan permainan piano Ayke yang menyentuh jiwa. Sebuah encore karya Franz Lehár, Dein ist mein ganzes Herz, menjadi penutup malam itu. Meskipun tanpa didahului narasi, penonton segera mengenali lagu tersebut begitu Ayke memainkan akor pembuka. Aria dari opera Das Land des Lächelns yang menjadi salah satu karya favorit pilihan para tenor tersebut dibawakan dengan apik. Stamina Farman tetap terjaga, dan tuntutan rentang dinamik yang lebar dapat dieksekusi dengan prima. Selain teknik vokal Farman, tentu kredit tersendiri patut diberikan kepada akustik ruangan yang sangat baik, sehingga pianissimo sehalus apapun, bahkan desahan nafas sang vokalis, dapat terhantar sempurna ke telinga pendengar. Dan kesemuanya itu mewujudkan sebuah konser musik yang menyegarkan hati di akhir pekan.

~ Lisa Supadi adalah seorang harpis muda Indonesia lulusan Conservatorium van Amsterdam Belanda dan kini aktif sebagai pendidik di Yayasan Pendidikan Musik dan Gitanada Music School.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: