Kabar Terkini

Panas-Dingin Demam Panggung


‘Deg-degan’, sepertinya kata ini sering sekali dipakai oleh para musisi yang akan tampil dalam sebuah konser. Lalu jawaban pamungkas yang biasanya dipakai oleh orang-orang untuk menenangkan diri adalah “tenang saja, pasti bisa” dan “semangat!”. Menurut Paul Lehrer, seorang psikolog klinis dari New Jersey, menyatakan bahwa semua orang pasti pernah mengalami kecemasan, tetapi orang-orang yang perlu tampil di depan umum (seperti musisi) lebih sering mengalaminya. Istilah yang sering dipakai untuk para musisi yang merasa tegang, cemas, atau takut ketika akan tampil di depan umum biasa disebut sebagai demam panggung atau stage fright. Dalam dunia psikologi musik, istilah yang sering dipakai adalah music performance anxiety. Faktanya semua musisi, baik profesional maupun amatir, pasti pernah mengalami rasa cemas ini dan hal tersebut merupakan hal yang wajar. Salah satu tokoh terkenal yang memiliki kecemasan yang cukup parah adalah Frederic Chopin. Menurut laman Classic FM (http://www.classicfm.com/composers/chopin/guides/chopin-appreciation/#zB7FrDadm3ksVbRH.97), beliau hanya pernah tampil 30 kali di depan umum dalam hidupnya karena merasa kehadiran penonton mengintimidasinya.

Ilustrasi musisi tampil di atas panggung

Seseorang yang cemas akan mengalami beberapa gejala dalam dirinya. Pertama adalah gejala fisiologis, seperti meningkatnya degup jantung, berkeringat, sakit perut, dan otot-otot menjadi sangat tegang. Kedua adalah gejala kognitif, yaitu pikiran-pikiran negatif, kekhawatiran bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi, khawatir akan dikritik orang lain, dan tidak bisa berpikir secara jernih. Ketiga adalah gejala yang muncul dalam tingkah laku, seperti menggoyang-goyangkan kaki, berkeliling ruangan, menghindari untuk melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan, pergi dari panggung di tengah penampilan, dan berpura-pura bermain alat musiknya jika bermain dalam kelompok.

Banyak faktor yang memungkinkan demam panggung atau kecemasan dalam bermusik terjadi. Menurut Glenn D. Wilson, terdapat 3 faktor penyebab kecemasan tersebut. Pertama adalah sifat dari musisi itu sendiri, jika musisi memang seorang pencemas maka dia akan cenderung khawatir terhadap penampilannya. Kekhawatiran bisa terjadi karena musisi merespon tekanan sosial sebelum penampilannya dimulai, misalnya ada seorang kritikus yang hadir dalam konser atau gugup akan menghadapi audisi. Kedua adalah persiapan musisi terhadap penampilannya, jika musisi kurang berlatih dan merasa tidak siap untuk tampil maka tingkat kecemasannya akan lebih tinggi dibandingkan yang banyak berlatih. Ketiga adalah tekanan dari sosial maupun lingkungan, misalnya ketika akan audisi dan penampilannya akan dinilai maupun udara yang terlalu panas atau dingin ketika tampil. Masih banyak faktor lain yang memungkinkan terjadinya demam panggung. Ditambahkan oleh Andrew Evans, psikolog dan juga pemain bass dan keyboard lulusan Royal Academy of Music London, menambahkan hal-hal seperti khawatir alat musik rusak, lupa bagian yang harus dimainkan, akustik ruangan yang buruk, bahkan kursi yang tidak nyaman juga bisa menyebabkan seseorang demam panggung. Beberapa penelitian menujukkan bahwa demam panggung akan lebih mungkin terjadi ketika akan tampil sebagai solois dibandingkan dengan penampilan berkelompok atau dalam situasi latihan.

Rasa cemas memang memiliki banyak dampak yang merugikan terhadap penampilan seseorang, tetapi rasa cemas tetap perlu dimiliki agar penampilannya maksimal. Menurut Wesner dan para koleganya, dampak merugikan dari kecemasan khususnya jika berlebihan adalah stres, permainan musik tidak maksimal, berdampak negatif terhadap karir, rasa malu, dan menghindar untuk bermain musik. Di sisi lain, tingkat kecemasan yang tidak terlalu tinggi atau tidak terlalu rendah memiliki dampak yang positif dalam penampilan seseorang. Kurva Yerkes-Dodson merupakan kurva yang dikenal untuk menjelaskan dampak dari kecemasan dan performa seseorang. Berdasarkan kurva tersebut, jika musisi tidak memiliki kecemasan maka dia akan menjadi terlalu santai dan penampilannya menjadi tidak maksimal karena mungkin musisi meremehkan apa yang akan ditampilkannya. Jika musisi terlalu cemas maka akan sangat takut dengan apa yang akan ditampilkan dan pada akhirnya penampilannya juga menjadi tidak maksimal. Tingkat kecemasan yang berada di tengah-tengah merupakan keadaan yang sangat ideal sehingga penampilannya akan menjadi optimal.

Yerkes-Dodson Curve

Lalu apa yang perlu dilakukan jika musisi mengalami demam panggung atau cemas dengan apa yang akan ditampilkannya? Andrew Evans memberikan beberapa solusi yang bisa dilakukan:

  • Berbicara dengan para musisi lain sehingga bisa saling mendukung
  • Membayangkan situasi tempat musisi akan tampil. Menurut Andrew, terkadang membayangkan ‘skenario terburuk’ dan memikirkan solusi untuk menghadapi masalah tersebut dapat mengurangi kecemasan.
  • Melakukan relaksasi. Cara paling sederhana adalah dengan mengambil dan membuang nafas perlahan-lahan, sambil menutup mata dan membayangkan hal-hal yang menyenangkan.
  • Mengadaptasi teknik ‘terapi kognitif’. Caranya adalah dengan mengidentifikasi masalah yang membuat cemas, menganalisa lebih lanjut masalah tersebut lebih dalam, dan mengubah pikiran diri menjadi sesuatu yang lebih baik. Misalnya, musisi memiliki pikiran “jika saya salah 1 nada, maka seluruh lagu akan berantakan”. Analisa lebih lanjut pikiran tersebut “memang penampilan saya akan berantakan hanya karena 1 nada? Apakah penonton akan sadar jika saya salah 1 nada?”. Lalu ubah pikiran menjadi sesuatu lebih baik “saya tidak akan salah 1 nada pun dan memainkan semua dengan sempurna.” Hal ini mungkin sulit dipraktekkan, tetapi jika berhasil maka dapat efektif mengurangi kecemasan.
  • Istirahat yang cukup dan menjaga kesehatan baik fisik maupun mental untuk dapat tampil dengan baik.
  • Memperhatikan postur ketika bermain musik. Postur yang salah dapat membuat tubuh tegang dan ketegangan biasanya diasosiasikan dengan rasa cemas. Salah satu bentuk terapi postur tubuh yang terkenal adalah Alexander Technique. Terapi tersebut dikatakan dapat membantu tubuh untuk lebih ergonomis dan santai ketika akan tampil. Informasi lebih lanjut dapat dibaca di http://alexandertechnique.com/
  • Menggunakan obat penenang. Salah satu obat yang biasa musisi gunakan adalah beta-blocker yang berfungsi untuk menghambat reaksi adrenalin di dalam tubuh, sehingga mengurangi ketidaknyamanan karena cemas seperti jantung yang berdebar dan gemetar. Musisi yang menggunakan beta-blocker biasanya sadar bahwa menggunakannya bukan solusi yang terbaik dan dapat menyebabkan ketergantungan.

Semua musisi mengalami kecemasan dalam penampilannya, meskipun dalam derajat yang berbeda-beda. Rasa cemas dalam kadar yang tepat tetap diperlukan agar seseorang dapat memberikan performa yang maksimal. Bila demam panggung sudah cukup parah, rasa cemas perlu diatasi dengan solusi yang mungkin berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Jika memang kecemasan sudah sangat parah dan mengganggu kehidupan sehari-hari, ada baiknya untuk merujuk kepada psikolog agar mendapatkan penanganan yang tepat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: