Kabar Terkini

Seni untuk Mencipta Ruang Urban: Kota Tua Jakarta


Dalam praktek kebijakan budaya, menarik bagaimana seni ditempatkan sebagai sebuah sarana untuk menciptakan sebuah wilayah yang hidup dan bahkan memberikan pengaruh baik bagi sekitar dan karenanya seringkali dimasukkan dalam kebijakan urban dan perencanaan tata kota. Nyatanya dengan demikian, seni menjadi salah satu instrumen utama dalam pengembangan kota.

Seni dalam perannya di bidang arsitektur dan perencanaan urban menjadi salah satu daya tarik yang tinggi untuk masyarakat. Logika yang digunakan dalam perencanaan urban ini mungkin di awal terasa terbalik. Di mana pun ketika pelaku seni mencari tempat kegiatan mereka, seringkali mereka mencari tempat yang ramai yang baik aksesnya dan dapat memastikan penonton yang banyak. Namun demikian, tempat yang sudah ramai dan hidup pastinya mahal. Di sinilah logika terbaliknya berjalan. Di banyak strategi perencanaan kota, seni malah dibantu oleh pemerintah dalam bentuk subsidi untuk menempati tempat yang mungkin tidak begitu populer, tidak terlalu mahal ataupun tempat yang memiliki sejarah agak gelap atau bahkan cenderung rawan. Pelaku seni didorong untuk menempati daerah yang mungkin bukan daerah yang utama, tapi daerah dengan potensi berkembang yang ‘baik’. Nyatanya ‘baik’ tidaknya perkembangan daerah sebenarnya malah ditentukan oleh seberapa baik kegiatan seni tersebut menghidupkan daerah itu.

Kegiatan seni itu menghidupkan sebuah wilayah. Seluruh kegiatan seni mendatangkan penonton. Penonton pun bisa jadi berasal dari berbagai kalangan, dari yang berdomisili dekat hingga berdomisili jauh, yang kesemuanya menciptakan keramaian di sekitar kegiatan seni yang dimaksud. Semuanya datang untuk menikmati karya seni yang dipertontonkan yang pada akhirnya menghidupkan kegiatan ekonomi di sekitar kegiatan seni tersebut. Kegiatan ekonomi yang sifatnya sementara pun perlahan menjadi lebih permanen. Selain itu keramaian dari penikmat seni mampu menjauhkan ‘penyakit’ masyarakat. Lapangan kosong pun bisa jadi hidup dan dipenuhi kios-kios pedagang apabila dihidupkan dan digiatkan lewat kegiatan seni. Daerah yang rawan pun perlahan terkesan lebih berwibawa apabila dilakukan kegiatan kesenian secara rutin.

Di banyak perencanaan kota, pembangunan sentra seni yang permanen mampu menghidupkan sekitarnya. Di siang hari seniman dan para pekerja seni menghidupi daerah tersebut, sedang di malam harinya para penonton berdatangan untuk menikmati pertunjukan seni. Menjadikan daerah tersebut hidup dan sibuk, apalagi apabila sudah direncanakan dengan baik, yakni dengan koneksi transportasi yang memadai, kehidupan senipun bisa dengan leluasa bermekaran di daerah tersebut sekaligus dengan kehidupan ekonomi dan kesejahteraan penduduk di sekitarnya. Inilah yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai sebuah strategi ‘placemaking‘ atau penciptaan ruang.

Penciptaan ruang dengan bersentral pada kegiatan seni adalah khas perencanaan urban. Dan menarik apabila kita menelusuri langkah yang diwacanakan untuk Kota Tua Jakarta. Kota Tua Jakarta beberapa tahun terakhir tumbuh menjadi salah satu objek wisata yang populer di antara banyak kalangan di Jakarta. Dikarenakan aksesnya yang cukup mudah lewat TransJakarta dan Commuter Line yang berhenti di Kota Tua, daerah yang sempat keropos dan hilang tertelan gemerlapan kota yang lebih muda di sisi selatan. Gedung-gedung megah peninggalan kolonial lebih banyak teronggok tak bernyawa di daerah yang dahulu menjadi sentral pemerintahan dan ekonomi 200 tahun yang lalu di Batavia.

Joko Widodo, gubernur DKI Jakarta di tahun 2014, mencanangkan untuk menghidupkan kembali Kota Tua di Jakarta Barat ini sebagai tindak lanjut restorasi Taman Fatahillah di tahun 2006. Basuki Cahaya Purnama, kemudian melemparkan wacana membangun pusat kesenian dan kebudayaan di daerah ini untuk melengkapi sarana kesenian di Taman Ismail Marzuki di Cikini dan juga Gedung Kesenian Jakarta yang keduanya berada di bawah pengawasan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata DKI. Ia pun mengungkapkan perlahan akan memindahkan Institut Kesenian Jakarta ke Kota Tua. Salah satu langkah pertama yang dilakukan adalah pembelian Gedung Cipta Niaga oleh badan miliki DKI, yakni PT Pembangunan Kota Tua Jakarta yang didirikan khusus sebagai pengelola restorasi ini (lihat di sini). Target pun mencapai tujuh gedung bersejarah (lihat di sini) yang akan dialihfungsikan.

Wacana ini sebenarnya tidak bisa dilihat hanya sebagai perhatian Pemerintah Daerah untuk memberikan dukungan lebih kepada seni seperti yang diungkapkan Goenawan Mohamad (lihat di sini), tapi juga sebuah instrumentalisasi kegiatan seni untuk menggiatkan kehidupan di daerah Kota Tua. Kota Tua yang kini bisa dikatakan hanya hidup di akhir pekan ketika turis domestik berdatangan menikmati hingarnya Lapangan Fatahillah bersama dengan kehadiran beberapa museum tua di kawasan ini. Namun demikian di sepanjang pekan, kawasan ini lebih dikenal sebagai kawasan pergudangan yang tidak ramah di siang hari dan mencekam dan rawan di malam hari. Kegiatan seni budaya yang mampu menghidupkan akhir pekan Kota Tua seyogiyanya akan dipercantik dan diperluas sehingga mampu mengubah wajah daerah yang unik namun terkesan terlantar ini sehingga menjadi ruang urban yang hidup dan berwarna dengan alih fungsi beberapa gedung menjadi tempat konferensi, pertunjukan seni, pendidikan dan kegiatan seni lainnya. Rencana pun pembangunan akan selesai di tahun 2017 untuk siap menyambut Asian Games 2018 di Jakarta (lihat di sini dan di sini).

Menciptakan ruang urban seperti ini memang menarik, namun lagi-lagi harus kembali dilihat bagaimana agar gedung bersejarah ini sekalipun sudah berdiri tegak karena restorasi dan alih fungsi, tidak kosong melompong dan jadi gedung pertunjukan yang gelap tanpa kegiatan. Lagi-lagi komunitas seni dituntut untuk mampu menghidupkan tempat ini, karenanya perlu strategi penggiatan komunitas kesenian yang matang dan terencana, juga kegiatan yang berkesinambungan. Seni dan budaya kini menjadi senjata utama bagi Pemerintah Daerah DKI Jakarta untuk Kota Tua. Apabila seni dan budaya tidak hidup di daerah ini, strategi membangun Kota Tua pun secara umum berakhir percuma. Nyatanya bangunan hanyalah langkah pertama saja. 

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: