Kabar Terkini

Musik Feldman di Titik Ekuilibrium


Kemarin sedikit beda. Menonton sebuah resital di Amaryllis Fleming Concert Hall di Royal College of Music, auditorium utama di salah satu konservatori musik kenamaan London, menjadi sebuah pengalaman yang lain. Empat orang musisi memasuki panggung, Katherine Tinker pada piano, biolinis Johannes Marmén, biolis Clarice Morrish Rarity dan cellis Deni Teo berbekal sebuah karya yang terbilang enigmatik namun indah.

Karya untuk empat instrumen ini membuka wawasan. Kesederhanaan menjadi sajian utama, repetisi namun seakan tidak pernah habis, namun pergerakan tetap terjadi namun tidak pernah sungguh berlari. Semua terpaku dalam nuansa lembut yang padu, sesekali menjawab namun selalu halus. Nada-nada tinggi tersusun jarang-jarang, hanya sesekali berbunyi membentuk harmoni, namun entah tetap terasa berkait satu sama lain. Tidak ada bas menggelegar, hanya lesatan nada yang terasa.

Duapuluh menit pertama hanya nada-nada tinggi piano bergemerincing, bersama dengan paduan nada-nada tinggi halus con sordine (teredam) dari posisi nada harmonik dan harmonik buatan (artificial harmonics) pada biolin, biola dan cello. Terkadang cello berusaha menjejak dengan nada C# bawahnya namun sesekali saja, sedang nada-nada jarang di atasnya hanya bercengkrama dalam sunyi. Setelah lebih dari separuh karya, sesekali muncul petikan di atas instrumen gesek, namun sekali lagi tidak berbuah ke mana, bergerak seakan asimetris satu dengan yang lain. Nada-nada dan harmoni semakin padat namun lagi-lagi tidak Di sepanjang 75 menit, karya ini tidak menampakkan sekalipun klimaks yang membara, tidak ada gerakan hebat.

Tidak ada birama-birama aneh dan berubah-ubah, namun dibaliknya sulit untuk menangkap sebuah pola yang berulang, seakan semua terus bergerak hingga pola dasar birama pun hilang dari pandangan. Di sepanjang musik bagaikan ekuilibrium yang terus terjaga, sesekali bergeming, namun tanpa campur tangan selalu bergerak kembali ke equlibriumnya. Namun demikian musiknya terus terasa intens, menggenggam penontonnya sekalipun membawa penontonnya melayang tapi tidak pernah hilang dari dekapan. Di permukaan terasa monoton tapi di dalamnya menyisakan tanya yang mengundang penonton untuk terus terjaga dan mengamati pergerakannya, bahkan hingga nada terakhir dimainkan hingga lenyap dalam sunyi. Penonton menahan nafas lebih dari 20 detik sebelum tepuk tangan membahana.

Karya komponis Morton Feldman berjudul ‘piano violin viola cello’ lah yang dimainkan keempat musisi muda dari Royal College of Music ini. Ditulis di tahun 1987, karya ini memberi warna yang berbeda. Bukan sebuah karya minimalis yang terdiri dari nada-nada berulang yang tetap berusaha menciptakan dramaturgi dalam pengulangannya yang kerap, karya ini seakan menggaris bawahi minimalis yang lain, yang lebih menuju sebuah ketiadaan gerak. Perubahan tetap ada, dengan pergerakan harmoni yang asing namun semua emosi hanya bersifat intrinsik yang menjadikan karya ini unik untuk disaksikan kemarin. Karya ini adalah salah satu dari karya-karya akhir dari komponis AS yang menjadi salah satu tokoh musik abad ke-20 yang meninggal di bulan September 1987 akibat kanker.

Keempat musisi dari kelompok ‘explorensemble’ ini bermain dengan sangat tanggap, sekaligus dengan cakap menjaga ketenangan dan sikap dan konsentrasi di sepanjang karya. Keempatnya seakan menjadi satu kesatuan yang rapat di hadapan musik dengan nada-nada yang jarang, dengan masing-masing menunjukkan kemahirannya mengenali instrumen yang mereka mainkan. Nada-nada harmonik yang membutuhkan ketepatan dimainkan dengan eksekusi yang jernih dan transparan. Mereka pun menjaga alur karya yang sedemikian panjang dan membawakannya dengan utuh kepada audiens. Sebuah pertunjukan yang layak ditonton bagi mereka yang ingin mencicipi sebuah pengalaman baru dalam musik.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: