Kabar Terkini

Dari Malam di Arab Sampai Kemenangan Rusia


~oleh Stefanus Christianto (ed. Michael Mulyadi)

Malam ini, 21 November 2015, Jakarta Simfonia Orchestra mengetengahkan karya komponis-komponis Nikolai Rimsky-Korsakov, Maurice Ravel dan Peter Ilyich Tchaikovsky. Dengan dipimpin oleh konduktor Rebecca Tong, pagelaran dibuka dengan menampilkan Scheherazade, Op.35 karya Nikolai Rimsky-Korsvakov. Karya ini digubah pada tahun 1888 merupakan musikalisasi sajak dalam format orchestra yang berdasar pada kisah Arabian Nights atau dikenal sebagai kisah Negeri Seribu Satu Malam. Karya ini terdiri dari 4 bagian, yaitu “The Sea and Sinbad’s Ship”; “The Story of Kalendar Prince”; “The Young Prince and The Young Princess”; dan “Festival in Baghdad-The Sea-The Ship Goes to Pieces on a Rock”.

Pada bagian pertama “The Sea and Sinbad’s Ship” terdapat pola-pola melodi khas yang diulang-ulang pada masing-masing section alat musik yang berbeda dipadukan dalam balutan melodi bernuansa Rusia. Pada bagian ini Rimsky-Korsvakov juga menonjolkan permainan-permainan solo baik yang dimainkan oleh concertmaster maupun yang dimainkan solo oleh principal-principal instrumen lain, seperti solo fagot, solo cello maupun solo oboe. Disusul dengan bagian kedua “The Story of the Kalendar Prince”, bagian ini menceritakan tentang seorang pangeran yang menyamar sebagai suku pengembara yang dikenal sebagai Prince Kalendar. Bagian ini menonjolkan melodi yang dimainkan oleh seluruh pemain maupun yang dimainkan solo instrumen seperti Basson, oboe, flute, dan juga horn. “The Young Prince and the Young Princess” sebagai bagian ketiga dibentuk dari jalinan melodi oleh instrumen tiup, harpa maupun sesi gesek dan diakhiri dengan irama yang cepat. Sebagai penutup, Rimsky-Korsakov menulis “Festival in Baghdad-The Sea-The Ship Goes to Pieces” yang memiliki ciri permainan solo dengan motif melodi seperti pada bagian pertama. Festival in Baghdad bernuansa tarian-tarian yang disambung dengan motif melodi pada bagian pertama. Tema bagian pertama bisa dirasakan pada permainan solo biola oleh concertmaster. Alur musik dilanjutkan dengan nuansa lautan bergelora yang ditandai alur menanjak dan kemudian menurun kembali sampai pada akhirnya kapal Sinbad menghantam karang dan ditutup dengan alunan biola sang concert master memainkan nada harmonik diiringi akor-akor panjang

“Scheherazade” pada malam hari tadi dibawakan oleh Jakarta Simfonia Orchestra dengan cukup menarik. Konduktor Rebecca Tong dengan pengalamannya bisa menyajikan karya ini dengan baik. Nuansa yang dibentuk sang komponis dapat tersampaikan dengan baik. Demikian juga dengan para pemain Jakarta Simfonia Orchestra bisa memainkan karya yang menantang ini dengan baik. Kemampuan concertmaster dan para principal sungguh diuji pada saat memainkan bagian solo, yang banyak terdapat dalam komposisi ini. Kerja keras mereka patut diacungi jempol yang sebenarnya permainan mereka masih bisa lebih memukau lagi.

Babak kedua konser malam tadi dibuka dengan komposisi orkestrasi yang terkenal dari Maurice Ravel, yaitu Bolero. Karya ini ditampilkan pertama kali pada 22 November 1928 di Paris Opera. Ciri khas komposisi ini adalah motif melodi yang diulang-ulang pada 18 variasi. Dipimpin oleh konduktor DR. Stephen Tong, karya ini dibuka dengan permainan snare drum dengan ritmik yang terus berulang, dilanjutkan dengan instrumen flute, diikuti instrumen-instrumen lain secara bergantian memainkan melodi yang sama sampai seluruh instrumen dimainkan dan berakhir dengan megah. Penulis sungguh beruntung bisa menyaksikan secara langsung permainan Bolero ini, yang sering didengarkan semasa Radio Klasik FM masih mengudara di Jakarta. Penampilan Bolero malam tadi dibawakan dengan menarik. Para pemain, bergantian memainkan solo melodi Bolero dengan berdiri, sehingga penonton bisa menikmati alunan masing-masing alat musik tersebut. Namun sayangnya beberapa pemain sesi tiup logam kurang menguasai panggung sehingga menghasilkan intonasi yang agak kurang yakin dan phrasing yang seolah terputus.

Babak kedua dilanjutkan dengan sebuah penampilan berupa permainan Orgel oleh Organis Martin Stephen yang memainkan Organ Sonata no.2 karya Felix Mendelssohn. Martin Stephen dengan sangat memukau memainkan karya Organ Sonata ini. Suara Orgel yang megah memancar ke seluruh penjuru ruangan. Penulis sangat menikmati suara Orgel, yang jarang dimainkan secara solo pada saat diadakan pagelaran seperti malam hari tadi.

Babak kedua ditutup dengan komposisi 1812 Overture, Op. 49. Karya Tchaikovsky. Karya ini merupakan karya dalam rangka memperingati kemenangan Rusia mempertahankan diri dari serangan Napoleon Bonaparte. Suasana perang yang ditampilkan dalam komposisi ini dapat disampaikan dengan baik. Para pemain dapat bahu membahu membentuk alur musik dengan baik berkat kekompakan mereka. Hal yang memeriahkan konser pada malam tadi dan berkesan bagi para penonton adalah dibunyikannya lonceng yang telah disiapkan di sudut panggung dan penyalaan kembang api di dalam ruangan Aula Simfonia Jakarta.

Konser malam tadi sungguh berbeda dari biasanya, karena Jakarta Simfonia Orchestra menghadirkan lebih banyak pemain, yang tidak selalu muncul pada konser-konser sebelumnya. Juga ada pemain perkusi yang berasal dari panitia Aula Simfonia Jakarta turut memeriahkan konser, sungguh menjadi hal yang menarik dari konser malam tadi.

~oleh Stefanus Christianto adalah pemain biola yang kini aktif mengajar di Sekolah Musik Gloriamus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: