Kabar Terkini

Penggunaan Big Data dalam Seni


Bagi banyak dunia kreatif seni, Big Data bisa jadi adalah jargon yang jauh dari pikiran. Namun nyatanya Big Data mampu memiliki pengaruh pada dunia seni secara besar. Dunia IT terutama di segmen finansial dan pemerintahan di Indonesia sudah sejak 3 tahun lalu melirik Big Data sebagai salah satu solusi dalam bisnis mereka. Dan kini Big Data sudah mendatangi bidang seni kreatif termasuk organisasinya.

Apa itu Big Data?

Big Data adalah sebuah konsep dalam IT di mana terjadinya ledakan data yang luar biasa terjadi sejak jaman internet terutama di era web2.0 di mana web memungkinkan kita sebagai orang biasa turut serta membagikan data dan konten ke dalam dunia maya. Ledakan penggunaan media sosial adalah salah satu faktor pendorong percepatan penggunaan Big Data tersebut di mana pengguna bisa membagikan tulisan, data, gambar, video dengan mengunggahnya ke dalam jejaring. Dari data yang didapat dari SINTEF ICT, salah satu lembaga survey dan riset IT, 90% dari data yang ada di dunia saat ini diciptakan 2 tahun terakhir (klaim ini dilakukan tahun 2013).

Dari sisi infrastruktur, ledakan informasi itu tentunya menuntut diadakannya media penyimpanan untuk data tersebut. Beragam datacenter didirikan dan banyak perusahaan kemudian membuka layanan cloud, di mana pelanggan boleh menyewa tempat penyimpanan data mereka. iCloud, Dropbox, Youtube, Facebook, Google, OneDrive dan banyak produk lainnya adalah mereka yang kemudian menggunakan ledakan ini sebagai peluang bisnis.

Banyak problematika dalam bisnis sebenarnya dapat dijawab apabila mereka mempunyai data yang cukup untuk mengambil keputusan (seperti dalam piramida di atas). Di satu sisi, banjir data ini adalah sebuah berkah, di mana banyak bisnis dimampukan untuk melihat dunia secara lebih luas. Namun demikian, banjir data ini hanyalah banjir data dan bukanlah informasi ataupun knowledge yang dapat ditarik darinya. Diperlukan proses analisa lebih lanjut agar data ini dapat disaring untuk membentuk informasi yang lebih selektif dan berguna dan diolah lebih lanjut lagi untuk naik ke dalam piramida hingga menjadi keputusan/decision.

Dan untuk mengolah data tersebut dilakukan analisa yang lebih dan sebisa mungkin terotomatisasi hingga level tertentu karena diperlukan proses map and reduce di mana data yang ada diremukkan jadi satu (crunching), dipilah (filter) dan kemudian ditarik jadi satu kesimpulan. Hal ini menarik karena sebenarnya dilakukan manusia dalam proses analitis dan bahkan proses kreatifnya, namun kini berusaha untuk diotomatisasi oleh mesin terutama untuk mendapatkan efisiensi dari proses tersebut terlebih dengan merebaknya data lewat Big Data ini. Data-data ini kemudian diproses dan dianalisa untuk kemudian memberikan informasi yang sesuai kepada pengguna data untuk kemudian menerjemahkannya menjadi sebuah pengetahuan untuk mengambil keputusan dalam organisasi.

Penggunaan Big Data

Data ini hadir dalam dunia kreatif juga namun banyak industri kreatif termasuk seni belum menggunakannya dengan optimal. Banyak insan kreatif lebih senang sebagai pencipta dan pengisi konten dari media ini daripada sungguh mengenali lingkungan sekitar mereka dengan menggunakan konsep big data ini.

Dalam dunia pengembangan audiens, big data menjadi hal yang terutama untuk mengenali karakteristik penikmat seni dan level apresiasi yang ada. Dalam hal ini bukan hanya mengacu pada data demografi semata, tapi dapat sungguh menghubungkan konsep data secara umum dengan level kualitatif yang mungkin bisa ditarik dalam mengenali siapa audiens mereka, apa yang mereka pikirkan dan apa yang mereka harapkan dari sebuah pergelaran seni.

Dengan big data ini, sebenarnya dapat dikonstruksikan sebuah model segmentasi audiens serta preferensi mereka. Di mana mereka tinggal dan bahkan latar belakang sosio kultural mereka dapat dilihat, bahkan kecenderungan selera yang terpampang lewat media sosial juga bisa digali lewat proses data mining.

Sayangnya sedikit yang menyadari pentingnya hal Big Data di dalam industri di tanah air, bahkan termasuk industri for-profit sekalipun. Banyak keputusan yang diambil dalam bisnis masih berbasis intuisi dan bukan manajemen berdasarkan bukti empiris. Seni pun sebagai salah satu segmen juga terjerembab dalam posisi yang sama. Intuisi jadi landasan nomor satu dalam mengambil keputusan tanpa ada basis informasi yang sesuai. Seberapa banyak organisasi seni yang melihat pasar hanya dari kacamata intuisi saja, tanpa melihat kenyataan empiris di lapangan dan bahkan kenyataan empiris di dunia maya. Kalaupun ada, proses pengambilan keputusan tersebut umumnya tidak dapat pertanggungjawabkan secara ilmiah.

Contoh dashboard analytics dalam Big Data

Fungsi dari Big data dan analitik itu sendiri sebenarnya untuk memperkuat proses pencarian informasi dan dalam pengambilan keputusan. Pun mampu mengungkap ceruk-ceruk informasi yang mungkin saja terlewatkan karena dianggap tidak signifikan padahal sebenarnya dapat mempengaruhi pengambilan keputusan. Hal sederhana adalah sebenarnya mengetahui seberapa sering para pengunjung Anda datang ke venue Anda dan dari mana sajakah mereka tinggal dan menentukan cara promosi yang paling tepat bagi mereka untuk lebih sering datang adalah beberapa cara pengolahan big data ini.

Sedikit banyak dari kita sebenarnya tahu bahwa Indonesia sebagai salah satu negara pengguna media sosial terbanyak membutuhkan strategi media yang yang baik, tapi sedikit dari kita yang sungguh memikirkan bagaimana kita bisa menggunakan apa yang orang-orang pikirkan tersebut dan tercermin dalam sosial media sebagai salah satu penopang dalam proses kreatif. Penyusunan program ataupun pembuatan karya yang berbasis audiens dapat dimungkinkan dengan konsep big data ini.

Tantangannya bagi kita di Indonesia adalah masih rendahnya data-data macam ini yang tersedia dan akurat. Konsep big data mengharuskan subset data yang besar dalam datawarehouse sehingga meminimalisir penyimpangan dalam data. Semakin besar datanya, semakin beragam informasi dan keterkaitan satu dengan yang lain semakin tepat data dan pengolahan informasi yang akan diolah.

Konsep big data ini secara mengejutkan sudah diadopsi oleh Arts Council England untuk mendukung manajemen organisasi-organisasi seni daerah baik besar maupun kecil dalam pengambilan keputusan mereka. Sebuah organisasi The Audience Agency telah dipekerjakan untuk memaintain dan menyediakan jasa konsultasi bagi berjalannya proyek dunia maya ini dan untuk mengumpulkan dan membersihkan data. Pun organisasi-organisasi besar maupun kecil sudah merelakan data mereka dibagikan kepada semua dalam datawarehouse supaya masing-masing dari mereka dapat membandingkan data yang ada pada mereka dengan data yang dikumpulkan oleh organisasi lainnya sehingga mereka dapat memetakan apa yang harus mereka lakukan dalam merancang strategi di masa depan.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: