Kabar Terkini

Dalam dan Luar: Memandang Manusia sebagai Obyek


Tiga orang penampil berada di dalam tiga buah kotak kaca di tengah ruangan yang diterangi cahaya lampu di mana penonton melihat mereka di dalam ruangan yang hitam pekat bergerak. Masing-masing memegang instrumen Đàn Tranh (kecapi), Đàn Bầu (kecapi satu senar) dan Đàn Tỳ bà (lute/gitar empat senar Vietnam) dan bersandangkan pakaian bangsawan Vietnam. Ketiganya bergerak memainkan musik dalam gerakan yang seakan terkoreografi, terkadang bergantian, sedang suara instrumen yang dimainkan terproyeksi lewat pengeras suara dan manipulasi komputer. Gerakan mereka memainkan alat musik eksesif, berlebihan, sesekali bercampur seperti sebuah tarian, seakan mencoba meninggalkan sebuah pesan. Sesekali mereka berdiri, bergerak, bergelinjang, gemetaran, menyapu sekitar dengan kibasan pakaian yang lebar dan kemilau diterpa sorot cahaya.

Di samping kotak mereka tergantung headphone yang dapat digunakan penonton, persis seperti yang didapati di museum. Penonton dapat bergerak mendekat dan menjauh dari setiap kotak, di dalam ruangan yang tidak memiliki tempat duduk. Juga mendengar dari headphone untuk mendengarkan suara sang kurator imajiner, yakni sang penampil di kotak kaca itu sendiri, berbicara tentang makna penampilan mereka.

Musiknya bercitra improvisatoris, namun padu bercampur dengan nuansa dasar yang digarap di atas komputer dengan empat pengeras suara di sekeliling ruangan. Seketika ketiganya berdiri bergerak dalam sinkronisasi, menanggalkan instrumen mereka di sisi. Lalu perlahan masing-masing menggenggam kembali instrumen mereka, dan penonton dipaksa untuk memberi mereka ruang untuk tampil di dalam kotak kaca mereka, tampil sebagai solois, yang bergantian menjelajah instrumennya sedang yang lain duduk mematung. Suasana semakin mencekam dalam gumpalan suara yang pekat hingga akhirnya tinggal ditemani suara elektronik yang mendengung lembut di penghabisannya.Inside Outside2

Menempatkan manusia sebagai sebuah obyek tontonan, dianggap sebagai ‘yang lain’, memandangnya sebagai sebuah pemuas hasrat dan alat, adalah kritik yang diangkat oleh ketiga penampil malam ini yang tampil di Theatre One, Goldsmiths University of London. Dan hal tersebut bukanlah sebuah hal yang jauh, melainkan dekat dan terjadi di sekitar kita. Manusia ditempatkan sebagai sebuah tontonan. Salah satu pemainnya, seorang pria kaukasian memainkan Đàn Tỳ bà, dalam narasi kurasinya merasa sebagai seorang yang aneh, seorang Barat dan pria yang mau belajar instrumen tradisi Vietnam, bahkan dipandang berbeda oleh masyarakat Vietnam ketika ia datang ke Hanoi. Di sisi lain, seorang wanita muda melihat perubahan sikap dalam musisi Vietnam. Dahulu hanya pria yang bermain musik tradisi, hingga sekitar 50 tahun lalu. Kini wanita bisa tampil mengemuka. Namun keresahan juga terjadi, bahwa wanita yang bermain musik dilekatkan dengan permainan cantik, memakai pakaian tradisional, bergerak anggun tanpa makna musikal, hanya demi sebuah imaji semata. Sebuah imaji yang dipopulerkan lewat televisi Vietnam, dan kini telah mendunia.

Pada akhirnya manusia hanya sebagai sebuah obyek pandangan sebagai sosok ‘yang lain’ yang diamati untuk dinilai dan dihakimi. Sebuah catatan yang mengemuka membawa penonton kembali pada sebuah masa di Eropa di mana ‘human zoo’ adalah sebuah kelaziman — memandang manusia sebagai sosok yang aneh, diamati bagai sebuah binatang di dalam kurungan dan obyek kekaguman. Yang di luar merasa raja dan benar, yang di dalam ditempatkan sebagai hamba untuk memuaskan hasrat kekaguman sang penonton.”Inside/Outside” adalah nama karya ini.

Dikonsepsi oleh Nguyen Thanh Thuy, karya ini adalah sebuah karya pertunjukan dan instalasi. Dengan koreografi dari Marie Fahlin, dan musik oleh ketiga musisi The Six Tones — Nguyen Thanh Thuy, Ngo Tra My, dan Stefan Östersjö — dan Matt Wright yang digarap atas dua buah karya tradisional Vietnam. Karya ini mengundang decak kagum dan tanya akan tradisi Vietnam dan cengkeraman globalisasi.

Di babak kedua, ‘Post Human Computation’ karya Pierre Jodlowski dibawakan oleh Stefan Östersjö. Kini kedua kotak telah kosong, sedang satu menjadi sebuah layar di mana citra hitam putih wanita-wanita Vietnam lama, yang cantik serta kuat, diimajinasikan oleh komunisme Vietnam dalam rekaman-rekaman tentara, berpadu dengan citra wanita Vietnam baru Nguyen Thanh Thuy dan Ngo Tra My terdistorsi, terputus di antara imaji lama. Gedung-gedung tua, gelegak berpendar. Berhenti, terputus, maju dan mundur. Sedang di sisi lain Stefan Östersjö memainkan gitar elektrik, masih di dalam kotak kacanya tapi kini dengan pakaian ala rocker, membaca partitur mengiringi gerak di atas layar. Tidak sekalipun ia menengok ke layar. Ia hanya seorang musisi yang sedang solo sendiri, namun setiap kerlip adegan di layar selalu berespon dengan gegap dan distorsi gitarnya, seakan sedang berduet soliter. Kenyataan juga dipertanyakan, manakah? Citra global, sang imaji Vietnam, atau sang pria rocker di dalam kotak kaca?

Semuanya lagi-lagi hanya sebuah tanya yang dikemukakan Sabtu malam ini di sebuah ruang gelap di tenggara London.Posthuman1

 

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Comments on Dalam dan Luar: Memandang Manusia sebagai Obyek

  1. Wismojo Sumali // 27 November 2015 pukul 12:47 pm //

    Dulu ada ben The Step, ban Dara Puspita juga Kus plus juga Rinto Harahap,Kroncong, Orchestra,kroncong Mus Mulyadi,kroncongnya wong Solo juga Kroncong Asli, Dapatkah anda meng-Aransir lagi menjadi music yg berbudaya Khas INDONESIA.Cokrokembang Foto Kronologi

  2. Menurut saya untuk menjadi berbudaya bukan cuma sekedar mengaransir tapi sungguh melihat perkembangan sosial secara umum dan bagaimana mereka menangkap tentang musik Indonesia dan potensinya. Ini bukan berarti musik kini tidak berbudaya, tapi apakah musik kini sebagai bagian dari budaya cenderung mengukung keberagaman selera…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: