Kabar Terkini

Masa Depan Konser Musik Klasik: Masihkah akan Diminati?


“Loh belum boleh tepuk tangan? Memang kapan boleh tepuk tangan sih?” tanya teman saya ketika bersiap-siap bertepuk tangan ketika selesai mendengarkan gerakan pertama dari Beethoven Symphony no. 5. “Kita tidak bisa masuk? Kan kita tidak berisik masuknya.” Kata teman saya yang terlambat datang untuk menghadiri sebuah konser musik klasik. “Kok kalau kita tepuk tangan terus, itu konduktornya bolak-balik keluar masuk panggung?” tanya teman saya di tengah riuh tepuk tangan di akhir konser.

Pertanyaan-pertanyaan ini adalah pertanyaan yang benar-benar ditanyakan kepada saya oleh kebanyakan teman-teman saya yang baru pertama kali menonton konser musik klasik. Dibandingkan dengan konser musik pop, memang dapat dikatakan konser musik klasik memiliki beberapa etika yang mungkin tidak tertulis. Penonton konser musik klasik bisa dikatakan lebih sedikit dibandingkan konser musik pop dan dapat dikatakan kapasitas gedung konser juga menjadi salah satu faktornya. Jika konser musik klasik biasanya diadakan di gedung konser di Taman Ismail Marzuki, konser pop diadakan di Gelora Bung Karno. Banyak orang, khususnya anak-anak muda, yang kurang tertarik hadir di konser musik klasik. Hal ini sebenarnya perlu dikhawatirkan khususnya oleh para musisi yang berkecimpung dalam dunia musik klasik.

sta24david3_325646k

Ilustrasi Pop VS Klasik

Faktanya ternyata peminat konser musik klasik di dunia, termasuk opera dan balet, mengalami penurunan di berbagai negara di dunia. Berdasarkan data National Endowment for the Arts yang berbasis di Amerika Serikat, terjadi penurunan 30% pada kehadiran penonton dalam konser musik klasik dalam 25 tahun terakhir. Hal yang menarik adalah penurunan pengunjung tidak terjadi pada kegiatan seni lain, seperti konser musik pop, teater, dan museum serta galeri. Menurut John Sloboda, seorang psikolog yang aktif berkecimpung di Guildhall School of Music and Drama, jika hal ini terus terjadi maka ada kemungkinan konser musik klasik tidak akan ada peminat lagi di masa depan. Hal ini tentunya akan sangat merugikan dan sangat besar pengaruhnya khususnya kepada musisi profesional. Oleh karena itu dalam dunia psikologi musik, semakin banyak penelitian yang meneliti musisi dan juga penonton konser. Salah satu yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah penelitian dari John Sloboda yang sampai sekarang masih terus berlangsung berjudul Musicians and their live audiences: dilemmas and opportunities.

Cara penonton menonton konser musik secara langsung dulu dan sekarang bisa dibilang mengalami suatu perubahan. Sloboda mengatakan terdapat empat komponen yang menentukan apakah para penonton jaman hadir dalam sebuah konser. Empat komponen tersebut adalah

  1. Musik yang sudah ada VS Musik baru: Apa repertoir yang dibawakan adalah komposisi yang sudah ada dari komposer-komposer jaman dahulu atau komposisi yang baru dan komposernya masih hidup.
  2. Dapat diprediksi VS Tidak bisa diprediksi: Apakah lagu akan dibawakan seperti biasanya atau akan ada improvisasi atau inovasi dalam permainan yang ditampilkan.
  3. Personal VS Tidak ada ikatan: Apakah penonton dapat berinteraksi langsung dengan pemain musik atau akan ada jarak antara pemain musik dan penonton .
  4. Aktif VS Pasif: Apakah penonton dapat secara aktif berpartisipasi dalam konser (bertepuk tangan, bersorak sorai, mengambil foto) atau pasif karena ada aturan-aturan yang mengikat.

Empat komponen ini dapat diaplikasikan dalam berbagai tipe pertunjukkan. Contohnya konser musik jazz seperti Java Jazz Festival dan Jazz Goes to Campus. Musik yang dimainkan bisa saja musik yang sudah ada atau musik yang baru, tetapi permainannya tidak bisa diprediksi karena biasanya banyak improvisasi dalam konser musik jazz. Konser juga terasa personal karena jarak antara musisi dan penonton sangat dekat dan musisi dapat berinteraksi kepada penonton ketika berada di atas panggung, misalnya dengan menanyakan kabar atau menceritakan sesuatu sebelum tampil. Penonton juga ikut turut aktif dalam konser karena bisa bertepuk tangan, menari, ikut bernyanyi, dan berbagai hal lain yang dapat digunakan penonton untuk mengekspresikan kegembiraannya.

Sekarang mari bandingkan dengan konser musik klasik. Musik yang dimainkan kebanyakan adalah komposisi dari komposer-komposer dari jaman yang berbeda. Permainan musiknya kemungkinan besar bisa diprediksi, karena biasanya tidak ada improvisasi dalam pemainan musik klasik. Mungkin perbedaan interpretasi dari konduktor atau cara pemain membawakannya yang dapat membuatnya berbeda. Pada umumnya konser musik klasik terdapat jarak antara musisi dan penonton. Tidak ada interaksi antara penonton dan pemain musik, karena musisi hanya akan datang, duduk dan bermain, dan hormat ketika sudah selesai bermain. Penonton juga menjadi pasif karena tidak boleh bertepuk tangan jika semua gerakan dalam suatu komposisi belom selesai dan tidak boleh berisik ketika konser berlangsung.

Masalah lain juga terdapat pada kurangnya ketertarikan anak-anak muda dalam menonton konser musik klasik. Bila menggunakan contoh di Eropa, tidak banyak anak muda yang tertarik untuk hadir dalam konser musik klasik karena anak-anak muda berpikir jika ingin menonton konser musik klasik, maka diperlukan pengetahuan mengenai musik yang mencukupi agar dapat menikmati musiknya. Etiket dalam menonton konser musik klasik yang tidak banyak diketahui oleh anak-anak muda, jarak yang ‘jauh’ antara musisi dan penonton, serta kurangnya kesempatan bersosialisasi ketika konser juga menjadi halangan bagi anak-anak muda.

Menurut Whitaker dan Philiber dari Knight Foundation, Amerika Serikat, terdapat 3 hal yang dapat dilakukan untuk menarik minat anak-anak muda. Pertama dengan melakukan inovasi pada konser musik klasik, seperti mengintegrasikan dengan karya seni lain dan mengambil tema sesuai kultur pop. Kedua adalah melakukan suatu aktivitas yang dapat membina hubungan antara penyelenggara musik dengan para penonton potensial.  Terakhir dengan mengadvokasi strategi pendidikan untuk meningkatan pengetahuan anak-anak muda terhadap musik klasik.

Selain menarik minat anak-anak muda, masih adakah hal lain yang bisa dilakukan agar konser musik klasik bisa menarik penonton? Salah satu rekomendasi dari Sloboda adalah dengan meningkatkan interaksi antara musisi dan penonton. Hal ini dilakukan untuk agar penonton yang awalnya tidak memiliki ikatan dan pasif dalam konser menjadi lebih personal dengan para musisi dan aktif. Strategi yang bisa diadaptasi adalah bincang-bincang sebelum konser (pre-concert talk) dan diskusi pasca konser (post-concert discussion). Beberapa konser musik klasik, khususnya di Indonesia, sepertinya sudah ada yang menggunakan cara bincang-bincang sebelum konser, tetapi diskusi pasca konser memang belum banyak dilakukan. Bincang-bincang sebelum konser digunakan untuk konduktor atau pemain dari konser tersebut untuk menceritakan komposisi-komposisi yang akan dimainkan. Dapat dijelaskan filosofi dibalik pemilihan repertoar, kisah mengenai komposisi yang dimainkan, sampai perjuangan latihan para musisi. Bila memainkan komposisi baru, pada bincang-bincang ini adalah kesempatan komposer untuk bisa menjelaskan secara langsung apa maksud karyanya sehingga penonton memahami musik yang ditampilkan. Penonton kemudian bisa bertanya kepada para musisi tentang hal-hal yang dibelakang panggung, mengenai musik yang akan dimainkan, maupun hal lain yang menggelitik rasa penasaran. Diskusi pasca konser biasanya lebih banyak digunakan ketika screening film dan drama, tetapi belum banyak dilakukan dalam konser musik klasik. Diskusi ini dapat digunakan untuk konduktor dan para musisi mendengarkan pendapat dari para penonton mengenai musik yang baru saja dimainkan dan mendapatkan masukkan langsung dari penonton agar ke depannya bisa menampilkan yang lebih baik lagi di konser selanjutnya. Dengan begitu, penonton dapat merasa terlibat aktif dalam konser dan memiliki keinginan untuk datang pada konser selanjutnya untuk melihat perkembangan para konduktor dan musisi.

pre-show-wide

Gambaran Pre-Concert Talk yang dilakukan Santa Barbara Symphony

Banyak pihak yang perlu terlibat agar konser musik klasik bisa terus bertahan dan tidak tertelan oleh jaman. Para komposer, pemain musik, promotor musik, orang-orang yang bekerja di bidang manajemen musik, dan orang-orang yang melakukan riset perlu saling bekerja agar mengetahui selera musik dan seperti apa konser musik yang diminati oleh orang-orang jaman sekarang. Di Indonesia sendiri, aktivitas konser musik klasik memang masih terpusat di pulau Jawa dan tidak mungkin memaksakan untuk seluruh warga Indonesia dapat mendengarkan musik klasik. Komunitas musik klasik memang tidak sebesar genre musik lainnya, tetapi eksistensinya dalam dunia musik harus terus dipertahankan agar peminatnya tidak terus merosot. Apa yang telah disampaikan merupakan suatu rekomendasi yang mungkin bisa diadaptasi dalam budaya musik di Indonesia. Mungkin tidak hanya untuk musik klasik, tetapi juga jenis musik lainnya maupun bentuk seni lainnya. Melakukan perubahan memang akan sulit dilakukan, namun dengan semakin berkembangnya jaman maka perubahan dalam dunia seni menjadi semakin tidak teralakkan.

 

Jika tertarik membaca laporan John Sloba selengkapnya, dapat dibaca di http://www.gsmd.ac.uk/fileadmin/user_upload/files/Research/UA_Working_paper_Spring_2013.pdf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: