Kabar Terkini

Bekraf Balik Kandang, Kebijakan Baru?


Kegagalan pembentukan Badan Ekonomi Kreatif sebagai sebuah badan tersendiri yang independen memang perlu dicermati bersama. Setelah digadang-gadang oleh administrasi Joko Widodo bahkan pada saat kampanye kepresidenan, fungsi Badan Ekonomi Kreatif akhirnya harus berubah dan kembali ke kandangnya di Kementerian Pariwisata. Mungkin adalah baik apabila kita melihatnya dari kacamata kebijakan terlebih dahulu.

Badan Ekonomi Kreatif yang lebih berfungsi sebagai badan koordinasi antar kementerian terkait soal pengembangan industri kreatif akhirnya harus tertunduk malu. Didirikan oleh Presiden Joko Widodo melalui Peraturan Presiden no.6 tahun 2015 yang disahkan pada tanggal 20 Januari 2015, Badan Ekonomi Kreatif yang dipimpin oleh seorang kepala bertanggung jawab langsung kepada presiden. Berfungsi sebagai badan yang membantu presiden dalam merumuskan, menetapkan, mengoordinasikan, dan sinkronisasi kebijakan ekonomi kreatif, badan ini memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan komunikasi dan koordinasi antar lembaga pemerintah dalam ekonomi kreatif.

Menarik selain kelembagaan dengan dipimpin beberapa deputi yang bertugas mengkoordinasikan lingkup kerjanya dibantu tenaga profesional di bawahnya, Badan Ekonomi kreatif tersusun atas berbagai Satuan Tugas yang tersusun atas tenaga ahli pada bidangnya, menjadikan Badan Ekonomi Kreatif sebagai sebuah rangkaian nuclei yang mampu bergerak dan secara bebas. Sedangkan, struktur hierarkis birokrasi berada terutama pada Sekretariat Utama yang terdiri dari Biro, Bagian dan Sub-Bagian. Dengan hal ini, sebenarnya dapat dilihat bahwa dengan pergerakan yang luas bertumpu pada Satuan Tugas dan tenaga profesional serta bertanggung jawab pada presiden, Badan Ekonomi Kreatif disusun untuk memiliki jangkauan dan fleksibilitas yang besar. Pun perlu dicatat bahwa dalam Perpres tersebut tidak dicantumkan lingkup kerja Bekraf sehingga dapat meluas secara mudah. Tantangan pun terjadi karena hingga beberapa bulan, pejabat eselon I Bekraf belum dipilih dan dilantik.

Namun belum sampai enam bulan, diluncurkan Peraturan Presiden no.72 tahun 2015 yang mengubah posisi Bekraf di dalam struktur pemerintahan. Bekraf kini tidak lagi berada secara mandiri setara dengan kementerian lainnya, namun berpindah posisi kembali ke bawah Kementerian Pariwisata, kembali ke dalam struktur seperti pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono seperti tertera pada pasal 1. Sebuah langkah yang menarik sebenarnya diambil dan diyakini sebagai sebuah jawaban praktis akan persoalan kelembagaan dan budget. Operasional Badan Ekonomi Kreatif menjadi sangat sulit dan tidak masuk logika dikarenakan secara birokrasi, ekonomi kreatif dan alokasi anggaran yang ada masih berada di bawah Kementerian Pariwisata, sehingga sebagai sebuah badan mandiri, Bekraf tidak mendapat akses untuk anggaran tersebut, yang berarti mandeknya pergerakan operasional badan.

Struktur awal Bekraf

Posisi Bekraf pun juga kini dipersempit. Lewat perubahan pasal 3, terjadi pemfokusan makna ekonomi kreatif yang memang memiliki jangkauan yang luas dan bisa mencakup apa saja. Menarik bahwa setiap negara pun berevolusi akan pengertian ekonomi kreatif dan industri kreatifnya. Namun dengan Peraturan Presiden yang baru ini, ekonomi kreatif yang dimaksud menjadi lebih spesifik dan fokus dengan bidang-bidang yang sudah disepakati sebelumnya.

Secara umum juga terjadi kontraksi pada tanggung jawab Bekraf. Bermulai sebagai sebuah badan koordinasi di mana ia mampu campur tangan dan menggerakkan struktur kementerian di sekitarnya untuk pergerakan ekonomi kreatif, kini Bekraf di bawah Kementerian Pariwisata seakan berada dalam struktur yang lebih kecil namun tetap menjalankan koordinasi secara terbatas sebagaimana diatur di perubahan pasal 36. Dalam hal ini memang ada pro dan kontra, di satu sisi terjadi manajemen secara silo yang berpengaruh negatif pada pengembangan ekonomi kreatif, namun di sisi tata negara akan lebih memudahkan untuk pertanggungjawaban dan segregasi tugas. Namun demikian kita semakin bisa melihat bagaimana Bekraf akhirnya mengecil dalam lingkup tanggung jawab dan pengaruhnya dalam menggerakkan ekonomi kreatif saat ini hanya dalam enam bulan.

Struktur di bawah deputi pun kini berubah secara signifikan. Sebagai bentuk awal, deputi dibantu langsung oleh tenaga profesional tanpa jalur dan struktur birokrasi yang jelas, dengan penetapan baru ini, ruang profesional di bawah deputi tersebut diganti dengan  struktur direktorat di dalam perubahan pasal 29 dan 39. Sekalipun dalam posisi tersebut dapat diisi tenaga baik dari profesional maupun PNS, memang terjadi perubahan struktural yang cukup besar dan memungkinkan bahwa birokrasi kementerian normal akan banyak berpengaruh di sini dan tidak lagi se-robust ide awalnya.

Sekalipun mungkin berpengaruh pada bentuk organisasi,  Triawan Munaf sebagai Kepala Bekraf kelimpungan untuk mencari tenaga untuk beroperasi. Baru di bulan Juli, eselon I Bekraf dilantik setelah ada kejelasan bentuk organisasi dan anggaran. Dan mungkin perlahan bisa mulai melaksanakan program-programnya.

Bekraf bisa jadi bukan kebijakan gagal, namun dengan perubahan ini memang dapat dikatakan sekalipun menjadi salah satu sentral dalam kebijakan ekonomi Jokowi, pembentukan Bekraf terkesan terburu-buru dan tidak menampakkan konsiderasi yang cukup untuk kondisi organisasi dan struktur di luar Bekraf dan pergerakan politik di sekitarnya. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan terutama dalam koordinasi di bidang kebudayaan dan pemanfaatannya di bidang ekonomi kreatif dan termasuk juga pariwisata, terlebih dengan posisinya yang sekarang ‘berada di bawah Kementerian Pariwisata’. Dan tergantung kita melihatnya pula,  sebagai politik yang berfokus pada hasil atau politik yang berfokus pada proses.

 

About mikebm (1184 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: