Kabar Terkini

Empat Saran untuk Brand dalam Seni


Sebagai seniman, musisi yang berkecimpung di dunia musik seni umumnya mendirikan kariernya di atas sebuah landasan yang haruslah kokoh dan mau tidak mau harus disadari sedari awal. Namun nampaknya tidak banyak yang mengusahakan bagaimana mereka merencanakan membangun hal ini, yakni sebuah brand. Tidak banyak yang secara sadar mencoba, dan lebih sedikit lagi yang berhasil.

Dalam diskusi, brand menjadi sebuah istilah yang terlalu kerap digunakan hingga perlahan hilang maknanya. Brand sering diasosiakan dengan sebuah nama, istilah, desain, atau simbol yang membedakan produk yang satu dari produk yang lain. Seringkali kita mengasosiasikan brand dengan penggunaan logo dan merk, sebuah praktik yang bermula di abad 19. Memang benar, di satu sisi memang brand berkenaan dengan logo dan merk, namun di sisi lain itu hanya sebagian dari brand.

Brand sendiri di abad ke 20 berevolusi, bukan lagi sebagai logo atau nama dan merk, melainkan meluas dalam bentuk persepsi manusia dan konsumen akan merk itu sendiri yang membedakan satu produk dengan produk lainnya. Brand ini pun lebih terasosiasi dengan emosi, perasaan dan pengalaman manusia yang dibangkitkan oleh keseluruhan kemasan citra dari produk tersebut, baik dari nama, logo, merk, simbol hingga kualitas produk, pelayanan, proses dan harga. Brand menjadi sangat luas dan menyentuh sisi emosi dan bahkan berperan dalam membangun relasi dan kepercayaan konsumen. Brand bukan hanya sekedar logo tapi juga menjadi sebuah perjanjian antara konsumen dengan produsen. Lain daripada itu, brand juga erat berkaitan dengan konsumerisme dan kapitalisme

Pertanyaan mendasar adalah apakah seni butuh brand? Seringkali memang seni berusaha untuk jauh meninggalkan kesan konsumerisme dan kapitalisme dari slogan dan prakteknya. Para seniman pun tidak sedikit yang menolak brand karena kedekatannya dengan kapitalisme dan kemungkinan komodifikasi seni. Namun disadari maupun tidak, brand menjadi sebuah yang integral dalam seni dan penciptaan.

Seniman sebagai pribadi kreatif dalam kariernya sungguh berpegang pada brand pribadi sebagaimana profesional lainnya. Di atas brand nama seniman ini tertumpu kepercayaan para pendukung, kontraktor, agen, bahkan kepercayaan murid kepada gurunya. Dan sebagaimana brand perusahaan itu bertumbuh, demikian juga brand seniman profesional bertumbuh sepanjang kariernya yang dipupuk lewat pencapaian dan prestasi sebagai seorang seniman. Seringkali dalam bahasa Indonesia, kita senang menerjemahkan ‘brand’ sebagai ‘nama’. Dan sebagaimana ‘brand’ bukan hanya sekedar tulisan, ‘nama’ bukan lagi sekedar panggilan tapi juga bagian dari identitas yang bertumbuh dan membungkus kemasan keseluruhan pribadi tersebut dan membentuk persepsi orang akan sang pribadi.

Di abad 21 ini apabila kita menafikkan peran brand dalam karir dan organisasi dan bagaimana membangunnya secara sadar, kita akan segera tertinggal. Seniman di Indonesia memang terkadang bahkan menolak ideologi marketing, padahal marketing atau pemasaran hanyalah bagian taktis dari branding yang cakupannya lebih strategis. Memang kadang tanpa direncanakan, branding terbentuk karena taktik marketing yang cukup baik, namun seringkali perlu kesadaran akan branding agar mampu lebih holistik dalam memandang organisasi dan marketing.

Berikut adalah beberapa poin yang mungkin bisa diperhatikan ketika membangun brand Anda sebagai insan seni maupun organisasi seni:

  1. Berangkat dari siapa Anda
    Branding bukanlah persoalan membangun citra yang dangkal dan superfisial, melainkan harus berangkat dari sebuah identitas yang asli. Sebuah citra yang dibuat-buat dan tidak sesuai dengan identitas asli perlahan akan terbongkar dan kemudian brand yang dibangun akan melenceng dari kenyataan yang terjadi. Bagi banyak organisasi adalah baik apabila brand disusun dan dibangun berdasarkan kepercayaan mendasar dari sebuah organisasi, dari visi dan misi organisasi sehingga terintegrasi penuh dengan apa yang dikerjakan dan dilakukan. Dengan demikian selama visi dan misi Anda lurus, demikian juga brand Anda akan sejalan. Perlu diingat pula bahwa identitas dan visi misi dibentuk dari pengenalan diri yang terus berproses, dengan demikian juga perlu disadari bahwa brand yang terbentuk juga akan berproses bersama dengan evolusi visi misi yang terjadi. Brand itu bukan hasil pura-pura tapi dari identitas yang sebenarnya.
  2. Brand apapun konsistenlah
    Brand tidak bisa dibentuk seperti membalik telapak tangan, demikian juga dengan branding yang dilakukan. Perencanaan dan penyesuaian terus menerus harus dilakukan sebagai sebuah proses yang bisa jadi tiada akhir. Oleh karena itu baik apabila proses pembangunan brand ini bukan hanya sekedar sekali jadi namun dilakukan secara terus-menerus. Konsistensi merawat brand bukan hanya sekedar mempertahankan nama baik tapi juga konsisten menjaga kualitas deliverables (hasil) seperti yang dijanjikan oleh brand Anda. Sekali kedapatan Anda tidak bertanggung jawab terhadap brand ataupun kehilangan konsistensi dalam merawat brand, kemunduran bisnis sudah hampir pasti tidak terelakkan.
  3. Brand dibangun secara SMART
    Sebagaimana membangun tujuan dalam organisasi brand pun harus dikelola secara SMART karena brand inilah pintu gerbang yang menjaga organisasi maupun pribadi dari banyak organisasi dan pribadi lainnya. Specific, Measurable, Attainable, Relevant, dan Time-bound adalah kepanjangan dari SMART. Dalam membangun brand, setiap langkah harus diungkap secara ‘spesifik’ dan jelas. Pun juga pencapaian brand juga harus dapat diukur karena ini juga berarti mengukur seberapa besar efek langkah yang diambil dan juga seberapa signifikan kehadiran brand Anda. Pastikan pula brand yang ingin dibangun ditatar secara realistik dan mampu dicapai, dan tentunya harus relevan apabila tidak Anda hanya akan bekerja dalam kesia-siaan. Pastikan pula setiap aktivitas memiliki target waktu sehingga tidak molor dan dapat mencapat tujuan tepat waktu.
  4. Brand itu persepsi
    Sering kita lupa bahwa brand adalah persepsi konsumen akan apa yang kita lakukan. Sayangnya seni modern seringkali juga lupa bahwa persepsi penikmat seni menjadi salah satu elemen penting dalam seni yang menyebabkan banyak orang mengeluhkan bahwa seni yang progresif sering tercerabut dari akarnya karena tidak lagi memperhatikan persepsi penikmat. Karenanya perlu usaha yang ekstra keras untuk membalik pengertian ini termasuk dalam membangun brand. Brand seringkali bukan soal produsen tapi lebih kepada konsumen/penikmat, sehingga bukan sekedar checklist apa-apa saja yang telah dilakukan, melainkan melihat secara empiris apa saja pengaruh upaya tersebut pada persepsi konsumen. Dari sekedar bertanya untuk refleksi diri pada rekan sejawat hingga survey pada penonton dapat menjadi cara untuk melihat persepsi apa yang telah dibangun.

Ini hanyalah sebagian kecil dari brand yang dibentuk. Nyatanya banyak seniman berhasil membangun brand-nya sendiri, Andy Warhol dan Piccaso contohnya di dunia seni rupa. Juga apa bayangan Anda akan Michael Jackson dan Teatro Alla Scala di dunia seni musik? Bahkan label Museum Gugenheim di Bilbao dan upaya yang dilakukan untuk membangun brand-nya mampu akhirnya mengubah wajah sebuah kota, sebuah contoh kasus yang sering diangkat dalam kebijakan budaya dan regenerasi urban. Apa pandangan Anda tentang Shakespeare dan Teater Koma? Addie MS, Ananda Sukarlan, Batavia Madrigal Singers dalam musik seni kita? Atau pemenang Chopin International Piano Competition? Bahkan hanya dengan melihat nama seniman atau institusinya saja, tidak sedikit kita kemudian berani untuk membeli tiket. Itulah kekuatan dari sebuah brand.

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: