Kabar Terkini

Seni Melawan Terorisme


Menarik melihat bagaimana Italia menjawab ancaman terorisme di negaranya. Perdana Menteri Mateo Renzi menjawab di hari Selasa lalu bahwa Italia akan menjawab teror dengan perlawanan kebudayaan.

“Apa yang terjadi di Paris menandakan naik tingkatnya perang kebudayaan yang kita hidupi saat ini,” kata Renzi. “Mereka menciptakan teror, kita jawab dengan budaya. Mereka menghancurkan patung, kita menjawab seni. Mereka membakar buku-buku, kita adalah negara kepustakaan.”

Walaupun proposal ini belum disepakati oleh parlemen, langkah ini adalah sebuah langkah yang terbilang unik dalam ‘perang melawan terorisme’ yang banyak diselenggarakan oleh banyak negara Barat. Setelah serangan teror di Paris, pemerintah Italia menjawab dengan menganggarkan tambahan 2 miliar euro (1 miliar euro untuk pertahanan dan 1 miliar euro untuk kebudayaan) untuk rancangan anggaran tahun depan. Dana sebesar 15 triliun rupiah untuk budaya, bukanlah jawaban angka yang kecil.

Jawaban Italia yang juga terdampak oleh krisis ekonomi Eropa dan juga ancaman teror dengan memainkan inisiatif perang budaya, memang cukup strategis. Bahwa memang pertentangan yang kini banyak terjadi adalah permasalahan persinggungan budaya dan bukan sekedar angkat senjata. Italia hendak mengkonsentrasikan dana itu untuk menghidupkan kesenian dan budaya di daerah pinggiran yang banyak dihuni minoritas dan warga miskin. Setiap remaja usia 18 tahun juga mendapat subsidi sebesar 500 euro untuk dibelanjakan untuk budaya, seni dan museum. Dan langkah ini dilakukan untuk mengamankan kebudayaan Italia dari ancaman dari luar.

Perencanaan seperti ini sebenarnya tidak lama disaksikan dunia pada saat Perang Dingin. Banyak negara di Eropa Barat saat itu membelanjakan anggaran untuk mempropagasikan ide kebudayaan Eropa Barat yang lebih terbuka dan mengusung kemajuan (progress). Saat itu perang kebudayaan antara Blok Timur dan Blok Barat gencar terjadi dengan berlomba-lomba meningkatkan kebudayaan mereka masing-masing dengan visi yang sesuai mimpi masing-masing ideologi. Blok Barat dengan liberalisme yang melepas budaya untuk berkembang dan Blok Timur dengan sosialismenya yang menggarap budaya untuk berkembang mendukung negara dan pemerintahan. Kini pun Italia pun melakukan hal yang serupa dengan cita-cita yang perpaduan dari keduanya, bahwa seni yang mereka usung akan meningkatkan nasionalisme dan ketahanan bangsa namun juga menjadi tonggak kebebasan di hadapan radikalisme. Kebudayaan kemudian dihadapkan dengan “kehidupan barbarian” para teroris sebagaimana dikutip Artnews.

Meskipun demikian, adalah menarik melihat jurus Renzi ini lebih sebagai bagian dari kebijakannya secara umum yang memang memiliki suara yang senada. Renzi yang mencoba mengintegrasikan liberalisme dengan gaya kiri partai buruh, sejak kepemimpinannya di tahun lalu menganut paham ekonomi Keynesian dengan warna sosialisme yang cukup lekat, meningkatkan belanja negara sebagai stimulus gerak perekonomian Italia yang sempat terhantam hebat krisis ekonomi yang lalu. Partai Demokratik yang dipimpinnya pun menjadi bagian dari liga Partai Sosialis Eropa. Ia pun memandang Tony Blair dan Bill Clinton sebagai inspirasinya.

Bagaimana pun peningkatan belanja negara di bidang kebudayaan dan perlindungan warisan budaya adalah sebuah gerakan partai kiri Eropa yang cukup lazim dan besar kemungkinan akan dilakukan oleh Renzi. Langkah Renzi “melindungi budaya adalah bentuk menjaga kedamaian” dapat dilihat pada saat pidatonya di EXPO Milan bulan Juli sebelum Tragedi Paris lalu sebagaimana dilansir UNESCO. “Budaya bukan saja hanya oase kebahagiaan dan keindahan, tapi juga sebuah ruang untuk pemikiran kritis, menciptakan jembatan-jembatan (sosial) dan insturmen untuk pembangunan sosial dan ekonomi.”

Momen Tragedi Paris adalah momen yang tepat untuk membawa pesan nasionalisme dalam perencanaan belanja negara yang sebenarnya sudah ada di benak Renzi. Persoalan kebudayaan dan nasionalisme menjadi pula strateginya untuk merengkuh oposisinya dari partai kanan Italia yang selalu mendukung liberalisme dan agenda nasionalisme. Namun partai kanan sendiri secara program lebih kepada mengurangi beban pajak usaha lewat alokasi anggaran yang sama untuk sektor swasta untuk mendorong perekonomian yang masih lesu.

Akankah proposal Renzi ini diterima parlemen? Mari kita lihat.

Lihat juga:

 

 

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Comment on Seni Melawan Terorisme

  1. andreasarianto // 2 Desember 2015 pukul 7:29 pm //

    Sedangkan di sini masih mandek dengan slogan melestarikan budaya dsb, namun tanpa usaha-usaha kongkrit yg dilakukan utk kebijakan itu. Dengan memilih kata “melestarikan” aja udah menyimpulkan bahwa mereka krg ada pemikiran utk mengembangkan, apalagi mendukung munculnya bentuk-bentuk baru dalam kesenian. Makanya gak heran kalau di dalam benak kebanyakan orang, produk budaya yg menjadi penanda pencapaian peradaban bangsa ini hanya berhenti di produk masa lalu, yang kontemporer dianggap produk Barat. Ada inferioritas budaya yang akut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: