Kabar Terkini

Musik Tak Boleh Dikomentari, Sebuah Hegemoni?


Beberapa musisi saat ini terkadang terlalu takut menghadapi komentar dan kritik membangun. Bahkan secara eksplisit menyatakan bahwa musik hanya untuk dinikmati tanpa diikuti komentar di dalamnya? Apakah ini tanda-tanda hegemoni dalam pemikiran musik dan seniman sebagai pemegang tampuk kekuasaan?

Dalam perkembangan sosiologi dan model komunikasi, Theodor Adorno dalam Mahzab Frankfurt melihat interaksi media dan komunikasi sebagai satu arah, di mana media mendikte isi dan konten dari sebuah pesan kepada para penontonnya. Dalam hal ini terjadi hegemoni dari pemberi pesan dalam hal ini media dalam menggerakkan pemikiran pemirsa dalam berpikir dan membentuk pengertian dan dunianya. Max Horkheimer sendiri dalam bukunya Traditional and Critical Theory (1937) melihat bahwa ini adalah sebuah upaya kalangan borjuis dalam memasukkan nilai-nilai yang dianutnya ke masyarakat luas. Sebuah pembentukan cara pikir yang struktural menjadi ciri khas khusus di sini dimana media menjadi sebuah pembenaran akan hegemoni yang terjadi. Horkheimer sendiri menilai bahwa teori kritis adalah suatu hal yang perlu untuk membebaskan masyarakat dari teknokrasi modern dan perlunya teori kritis ini berdiri secara mandiri.

Kenyataan bahwa tidak sedikit musisi Indonesia yang takut akan komentar dan pemikiran kritis akan pertunjukan yang dilakukannya di ruang publik adalah sebuah praktek mendasar hegemoni dalam dunia musik di Indonesia. Yang berkomentar disindir dan dimusuhi hanya untuk memastikan bahwa praktek musik yang dilakukan oleh mereka dapat dengan segera disetujui masyarakat dan diterima apa adanya. Absennya komentar dalam model komunikasi musikal adalah sebuah pemasungan terhadap teori kritis yang diusung oleh mahzab Frankfurt di atas, sebuah pembodohan masyarakat akan seni dan untuk memastikan pandangan mereka akan seni musik yang tidak terbantahkan, yaitu dengan menutup semua ruang diskusi. Kenyataan ini pula yang kemudian dihadapi juga oleh Mahzab Frankfurt yang kemudian beraliran pesimistis di mana terjadi ketergantungan masyarakat akan saluran-saluran informasi yang ada tanpa ada tanda-tanda pemikiran baru, sebuah bentuk perbudakan baru menurut Jürgen Habermas. Namun demikian, ruang komentar sebagai bagian dari kritik reflektif sebuah karya musik adalah hal yang tidak dapat terlepaskan dari keberadaan musik itu sendiri sebagai penangkal usaha teknokrat musik untuk mengukung kebebasan berbicara dan berpendapat. Usaha penutupan ruang diskusi dan komentar akan musik yang dipentaskan di ruang publik adalah sebuah penghianatan terhadap fungsi ruang publik dan kapasitas dari musik itu sendiri sebagai sebuah media penyampaian pesan.

Dalam teori komunikasi modern, lahirnya Mahzab Ilmu Budaya Inggris yang digadang Stuart Hall mengkritisi peran produsen dan konsumen dalam media. Baginya identitas, karakter, latar belakang budaya, ekonomi dan sosial seorang audiens menentukan bagaimana manusia dapat membongkar hegemoni yang diterapkan oleh teknokrat yang menutup ruang diskusi dan menjadikan sebuah komunikasi satu arah untuk mempertahankan status kekuasaannya. Bagi Stuart Hall, identitas dan latar belakang audiens memungkinkan terjadinya beragam interpretasi akan konten dan pesan yang disampaikan oleh produsen konten kepada audiensnya melalui kode-kode dan simbol dalam berkomunikasi. Dalam tulisan Hall dalam makalah ‘Encoding/Decoding’ (1980), audiens memiliki tiga posisi untuk merespon setiap informasi yang diinginkan:

  1. Menerima dan mengolah pesan sebagaimana yang diinginkan produsen (posisi hegemonis)
  2. Menolak sama sekali pesan produsen (posisi oposisi)
  3. Mencari jalan tengah yang bisa jadi berbeda dan merupakan (posisi ternegosiasi)

Dalam memandang posisi musisi penampil ataupun promotor yang memusuhi kritik, terlihat bahwa terjadi usaha untuk menerapkan posisi hegemonis dalam memandang sebuah pesan musikal yang dibakukan lewat perpaduan simbol berupa suara. Pandangan teknokratis musisi dan ketakutan akan kritik seni adalah sebuah kesia-siaan belaka. Audiens pada dasarnya berdasarkan latar belakangnya memiliki hak dan kemampuan untuk men-decode pesan yang mereka encode lewat permainan musik mereka. Dalam hal ini, setiap pendengar pada dasarnya berhak memilih untuk tidak berada dalam posisi tertindas yang bagai kerbau dicucuk hidung menyetujui hegemoni informasi musikal yang disampaikan di atas panggung dan ruang publik. Pendengar memiliki hak untuk memilih apakah memiliki interpretasi yang berbeda atas pesan yang disampaikan oleh musisi di atas panggung. Makna bisa beragam, dan bisa pula menolak secara keras kode musikal yang disampaikan. Pada dasarnya penonton, siapapun itu memiliki kapasitas untuk mencerna pesan musikal yang disampaikan dan menerjemahkannya sesuai latar belakang si pendengar.

Yang mengherankan adalah banyaknya penolakan akan sebuah pemikiran kritis dalam pertunjukan musik, dan terciptanya ruang komentar dan diskusi sebagai akibat dari pertunjukan musik itu dilakukan oleh para teknokrat musik atau musisi-musisi yang dididik di negara-negara Barat. Lucunya fenomenanya di Indonesia, usaha pembungkaman kritik ini berkali-kali dihadapi oleh A Musical Promenade malah dilakukan oleh musisi didikan negara-negara Eropa kontinental, lagi-lagi berlawanan dengan prinsip mahzab-mahzab ilmu budaya yang lahir di Jerman maupun di Inggris.

Kritik dan komentar seringkali menjadi ketakutan tersendiri bagi mereka, bahkan apabila kritik seni tersebut dibangun oleh kalangan musik yang juga memiliki pengetahuan dan legitimasi yang cukup untuk mengkritik dan memberikan komentar. Tampak bahwa banyak dari musisi-musisi ini adalah bagian dari kaum ‘borjuis’ modern yang mencoba memasung kebebasan berpendapat, sebuah pemandangan yang ironis dalam berkesenian. Padahal tanpa kebebasan berpendapat dan merespon seni, seni itu tidak tampak bentuknya sebagai ‘pembebasan’ dan ‘enlightenment‘ yang malah sering digadang-gadang dalam kampanye seniman-seniman ini. Juga tidak kalah hebat bagaimana ini adalah sebuah usaha monopoli terhadap interpretasi terhadap seni, sebuah usaha yang sebenarnya sia-sia. Seseorang hanya boleh ‘tercerahkan’ apabila sesuai dengan ‘cara’ yang kaum ini tawarkan.

Bagi kalangan ini, terciptanya sebuah kaum elitis yang membawa pesan ‘kebenaran’ akan musik yang tidak terbantahkan, tidak dapat dikritisi adalah sebuah mimpi utama untuk melanggengkan kekuasaan di belantara musik Indonesia. Herannya adalah banyak musisi mencoba melanggengkan posisi ini bagi diri mereka sendiri dan menutup keberagaman jalur interpretasi yang merupakan hal yang pokok dalam bentuk musik yang selalu simbolis. Tentunya sebuah pembungkaman dalam memandang seni di ruang publik adalah sebuah pengkhianatan terhadap fungsi ruang publik dan demokrasi.

Pendek kata, mau berusaha menerapkan hegemoni Anda dalam kritik seni dan kebebasan berpendapat dalam seni? Lebih baik tampil saja di kamar mandi rumah dan jangan di ruang publik. Atau sekalian, jadilah politisi Stalinis dan jangan jadi seniman.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

5 Comments on Musik Tak Boleh Dikomentari, Sebuah Hegemoni?

  1. Pertanyaan sederhana yang mungkin harus menjadi pertimbangan semua: “Kalau dikritik secara pedas tidak mau, kalau dipuji penampilannya bagus sekali maukah?”
    ~ apabila ingin konsisten tidak usah dikritik, apakah konsiten tidak usah dipuji juga untuk menjamin kenetralan? Ataukah senimannya hanya haus dipuji dan diapresiasi tanpa sedikitpun mau dikritik?

  2. Membaca tulisan-tulisan di atas dan tek-tok balasan-balasan yang beruntun bak pukulan jab kanan dan kiri upper cut ke ulu hati dan seterusnya, saya tergelitik untuk berkomentar sedikit. Ada baiknya masukan saya dilihat dari sudut pandang pemain musik di sebuah konser. Bahwa seorang pemain musik yang sejati pada dasarnya adalah juga kritikus paling pedas dan “jahat” terhadap dirinya sendiri. Jadi apabila ada tulisan sepanjang apa pun dan seburuk apa pun yang dibacanya mengenai dirinya, maka si pemain musik itu akan memiliki tulisan dan catatan yang lebih dan bahkan paling buruk dari kritikan mana pun di dunia. Maka sejujurnya, bila pemusik itu adalah pemusik sejati, dia tidak perlu memikirkan bahkan memedulikan apa pun yang ditulis dan akhirnya terbaca olehnya karena dia akan tahu dengan sendirinya bahwa dirinya masih memerlukan perbaikan di sana sini. Jadi apakah perlu dalam mengritik si kritikus menulis hal yang pedas-pedas dan secara tehnikal terukir dengan cerdas sehingga dapat menggiring opini publik yang “salah” dan tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya hanya karena sang kritikus kebetulan menonton satu pertunjukan saja dari sang pemain yang kebetulan bermain “kurang prima”?

    Contoh kritik yang membangun adalah ketika permainan Jascha Heifetz yang begitu “sempurna” nyaris tanpa cela ternyata justru mengundang kritik karena terlalu mekanikal dan dingin. Komposer sekaligus kritikus Amerika Virgil Thomson menyebut style permainan Heifetz sebagai “silk underwear music”. Heifetz akhirnya menyadari bahwa dirinya harus mendalami dan memberi jiwa pada setiap musik yang dibawakannya seperti awal-awal karirnya untuk membawa permainannya ketingkat yang lebih tinggi. Maka karena kritik pedas namun terbungkus dengan briliant itu, ia bangkit dan mengubah sikapnya sehingga tercermin pada permainannya yang semakin memukau.

    Agar tidak berkepanjangan, saya menegaskan di sini, beribu kata yang keluar dari seorang kritikus betapa pun itu pedas, cerdas dan menyakitkan, tidak akan ampuh untuk mengubah seorang musikus bermain lebih baik bila tidak mengena kedalam sanubari si musikus itu sendiri. Seperti berdagang, sebenarnya kritikus perlu pula menyusun kata-kata agar “dagangan”nya dibeli, dalam hal ini “didengar”. Apabila berkenan di hati yang sedang dikritik, maka akan ada perubahan dari cara bermainnya bila itu tujuannya. Tapi apabila tujuan kritiknya adalah untuk menunjukkan kepiawaian sang kritikus sendiri dalam bermain kata-kata, maka tentu kritiknya tidak akan didengarkan. Percayalah, tidak semua musikus “alergi” dikritik. Masalahnya, cara penyampaian dan bobot analisanya juga harus mengena dan setara dengan yang sedang dikritik. Bila tidak, akan sia-sia.

    Salut saya kepada bung Anti Kritik yang telah menjabarkan analisanya secara spot-on! Untuk Mike B M, ayo lebih jeli lagi agar tidak banyak yang merasa sakit hati dengan tulisan anda….

  3. Terimakasih Sdr. Someone, mungkin perlu diingat juga bahwa media penulisan di sini adalah bukan ditujukan untuk mengkoreksi si musisi untuk bermusik lebih baik. Apabila memang itu yang terjadi, alangkah baik sekali. Tapi lebih kepada memberikan gambaran umum kepada pembaca mengenai pertunjukan musik yang disampaikan, sebagai sebuah bentuk penyampaian pendapat, komentar maupun pemberitaan.

    Karena itu tidak tepat apabila komentar dan kritik hanya disampaikan pada ranah sudut pandang pemusik (yang mungkin menganggap tulisan ini penting ataupun tidak penting), tapi lebih tepat apabila melihat audiens secara utuh yang dapat diuntungkan lewat beragam informasi yang disampaikan dan dokumentasi yang digarap lewat sebuah tulisan.

  4. Sudah saya antisipasi jawaban saudara mikebm. Terima kasih karena sudah sudi membaca pendapat saya. Percayalah, ini kali terakhir saya menulis di blog saudara. Salam hangat dan sukses selalu dengan pendidikan anda selanjutnya. Mungkin setelah mendapat gelar yang berjejer Saudara akan lebih bijaksana dalam mendengarkan pendapat orang lain, suka atau tidak suka, tepat sasaran atau tidak, karena setiap insan memiliki pendapatnya sendiri untuk diutarakan atau tidak. Good bye…

  5. Pertanyaan sederhana yang mungkin harus menjadi pertimbangan semua: “Kalau dikritik secara pedas tidak mau, kalau dipuji penampilannya bagus sekali maukah?”
    ~ apabila ingin konsisten tidak usah dikritik, apakah konsiten tidak usah dipuji juga untuk menjamin kenetralan? Ataukah senimannya hanya haus dipuji dan diapresiasi tanpa sedikitpun mau dikritik?

    Nah ini contoh logika keledai. Memilih contoh ekstrim untuk membenarkan kejadian ekstrim lain nya. Inti perdebatan ini bukan karena kritik pedas Nabi Mike atau pujian dari Nabi Mike ke musisi, melainkan isi, bobot, dan tujuan dari review tersebut.
    Seperti yang dikatakan oleh saya sebelumnya, cobalah anda buang gelar anda itu, tidak usah memikirkan untuk menulis artikel atau meliput konser, namun fokus dalam menikmati pengalaman mendengarkan konser musik yang anda hadiri.
    Jika anda sudah melakukannya mungkin anda dapat menuliskan hal lain selain dari pujian berlebihan atau kritik pedas saudara.
    Cukup jelas?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: