Kabar Terkini

Jadi Dirigen Bukan Cuma Gerak dan Ilmu

Leonard Bernstein

Menjadi seorang dirigen atau konduktor sebuah orkestra ataupun paduan suara, ternyata bukan hanya sekedar bertugas mengayunkan tangan dan tongkat. Nyatanya tidak sesimplistik itu. Banyak yang kemudian mengutarakan bahwa menjadi dirigen bukan hanya bisa teknis mengaba, lalu bisa berkomunikasi dengan baik. Tapi seringkali hal tersebut tidak tentu cukup. Di sini kita kupas sedikit hal yang mungkin tidak akan banyak terbahas di kelas dirigen sekalipun.

Kelas dirigen dan direksi banyak yang mengangkat aspek fisik dari sebuah proses mendirigen. Bagaimana mengayunkan lengan dan tangan dengan baik, bagaimana memberikan tanda yang gerakannya efisien namun mengena pada musisi adalah beberapa hal yang diajarkan di kelas dirigen. Demikian juga dengan bagaimana menganalisa musik dan menghadapi musik di belakang meja sebelum mendirigen di depan. Seringkali proses ini harus dilakukan secara matang sehingga kemudian dapat memberikan pengarahan secara tepat. Mengerti segenap sudut musik dengan terperinci adalah hal yang krusial bagi seorang dirigen agar ia dapat memimpin barisan dengan penuh percaya diri dan pengetahuan. Namun seringkali bagi banyak dirigen hal ini adalah hal mendasar yang harus dimengerti, banyak kelas yang akhirnya terfokus pada permasalahan ini.

Hal kedua yang kemudian diangkat adalah kemampuan untuk berkomunikasi dengan  kelompok musisi. Strategi komunikasi dalam latihan yang efektif dan efisien adalah hal yang kerap mendapat perhatian setelah hal gerakan fisik dan berkenaan dengan kognisi musik. Menjadi efektif dan efisien dalam berkata-kata dalam setting sebuah latihan menjadi perhatian banyak pihak, termasuk para pengajar teknik direksi. Mengutarakan ide dan arahan tanpa harus menyinggung namun memiliki pengaruh yang kuat untuk melecut perbaikan adalah hal yang kerap dipercaya dapat melengkapi seorang dirigen. Acap memang kita mendapati dirigen yang hebat secara musikal, dengan gerakan yang luar biasa memiliki gaya bicara yang menyinggung dan malah mematikan simpati para musisi. Ada pula yang kemudian secara menarik mampu memberikan instruksi yang membangun, tanpa ada musisi yang merasa disuruh-suruh.

Teknik menggarap latihan juga adalah hal ketiga yang juga seringkali mengemuka. Merencanakan sebuah latihan, menggerakkan seluruh ensembel agar kemudian mampu memenuhi target adalah dengan melakukan perencanaan matang akan sebuah latihan. Bagaimana menangani penjadwalan adalah beberapa keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang dirigen untuk mencapai kualitas permainan yang diinginkan pada saat penampilan nanti. Di sini kemampuan dirigen untuk menganalisa musik, keterampilannya dalam menggerakkan tubuh, berkomunikasi dengan baik kemudian bercampur dengan kemampuannya membaca situasi, dan kemudian menyesuaikan diri dengan keadaan ensembel dan keterampilan mereka yang dimiliki. Perencanaan yang baik adalah perencanaan yang bersifat inkremental dan selalu fleksibel menjawab kebutuhan ensembel. Karenanya menjadi baik apabila seorang dirigen lebih sensitif untuk menangkap pergerakan ensembel dan kemajuannya untuk kemudian mampu meramu cara terbaik dalam menggarap latihan bersama agar sesuai rencana dan mencapai kualitas yang diharapkan. Pengalaman yang lebih kaya dan pengalaman yang lebih banyak akan mempertajam intuisi ini.

Tapi ini hanya satu sisi saja, yakni sisi yang dapat diajarkan. Hampir setiap musisi yang pernah bermusik bersama mengerti akan hal ini dan mampu melakukannya dengan cukup baik. Mengerti musik, menggarap latihan dan komunikasi dengan pemain adalah keterampilan yang diolah oleh musisi. Namun di sinilah lahirnya titik yang membedakan seorang konduktor biasa dengan konduktor bagus.

Sebuah ciri yang membedakan adalah bagaimana musik kemudian tercermin pada seseorang. Banyak orang bisa belajar mengayunkan tangan dengan indah, tidak sedikit juga yang mampu membaca musik dan mengerti dengan sangat makna musik yang tertera di atas kertas dan bagaimana bunyi yang ia inginkan. Namun tidak banyak yang mampu kemudian menjadikan dirinya sebagai alat yang kemudian memancarkan kemilau musik yang ada di pikirannya. Di sini penulis mungkin lebih terjun ke arah pengertian akan sebuah persona, bukan sekedar fisik di mana ia secara pribadi bukan mengandalkan tekniknya untuk mendirigen, tapi mengandalkan dirinya sebagai seorang insan yang kemudian bekerja dengan seluruh orkestra. Apabila kita mengamati catatan sejarah, banyak konduktor besar yang tidak memiliki teknik yang jelas, beberapa bahkan terkesan aneh, namun nyatanya mampu mengarahkan seluruh orkestra dan paduan suara.

Wilhelm Furtwängler


Leonard Bernstein, Carlos Kleiber dan Wilhelm Furwängler adalah beberapa konduktor masa lalu yang dari sisi gerakan mungkin terkesan aneh, namun musik seakan tidak habis-habis mengalir dari diri mereka. Gerakan Leonard Bernstein mungkin seringkali seakan seperti orang yang disiram air es penuh ekstasi, yang menggeliat hebat dan bahkan sering melompat-lompat, tapi dalam beberapa rekaman mampu mendirigen bahkan tanpa menggerakan satu jaripun, dan hanya dengan ekspresi muka yang kadang ia lakukan di masa tuanya.

Furtwängler sedikit berbeda, gerakannya seringkali tidak beraturan dan bisa jadi sulit untuk dibaca. Werner Thärichen, timpanis Berlin Philharmonic, mengalami saat-saat ajaib orkestra Berlin berubah suara dan kualitasnya ketika dipimpin oleh seorang dirigen tamu di waktu latihan. Tidak ada yang istimewa yang dilakukan dirigen tamu tersebut. Yang ia temukan adalah seluruh orkestra melirik ke arah pintu keluar dan di situ Furt
wängler kebetulan berdiri melirik ke arah ruang latihan, sang direktur musik ini hanya dengan keberadaannya tanpa memimpin dapat mengubah seluruh orkestra.

Kleiber seringkali begitu ekspresif, melayang kesana kemari, namun jelas bahwa ia mengerti sungguh musik yang ingin ia bawakan dan itu terpancar dari musiknya. Kalau kita melihat gerakannya secara teknis, bisa jadi adalah sebuah gerakan dan kepemimpinan yang berlebihan. Ia bisa bersembunyi di balik stand partitur, bergerak dan seakan menari, namun musik yang dihasilkan seakan tidak pernah habis-habis dan para musisi merasa dipimpin oleh personanya.

Banyak yang kemudian berpendapat, hal ini hanya dapat terjadi apabila orkes yang dipimpinnya adalah kelas internasional. Namun seringkali kita tidak melihat, bukan masalah musisi orkesnya tapi juga bagaimana keberadaan seorang konduktor mampu mengubah persepsi orang akan musik dan potensi dirinya, bahkan sikap orang-orang lain. Ini semua adalah hal-hal aneh yang terjadi dengan seorang konduktor yang mampu membawa musik lekat dalam dirinya dan kemudian mendorong baik musisi maupun penonton untuk mengidentifikasikan diri bersama dengan insan sang konduktor yang menggali kedalaman musiknya. Dan hal ini tidak hanya terjadi dalam sebuah ranah profesional dengan konduktor kelas dunia saja, tapi juga dengan konduktor-konduktor bahkan dalam sebuah paduan suara terkecil di desa yang mampu membaca dan menangkap maksud sang konduktor karena ia berhasil mengintegrasikan dirinya sebagai pemancar dari musik itu sendiri.

Dapat dikatakan bahwa teknik direksi yang diajarkan di kelas direksi mampu memuluskan interaksi musikal ini, dalam arti memberi ruang bagi para konduktor untuk mengekspresikan pemikirannya lewat gerak. Demikian juga dengan pengertian akan musik mampu memberi arahan bagaimana musik itu harus diekspresikan. Namun nyatanya mengerti dengan musik secara mendalam, mampu memberi arahan dengan ringkas, tajam dan terpercaya diikuti dengan gerakan yang baik tidak dengan sendirinya menjadi cukup. Sayangnya hal ini tidak dapat diajarkan dalam sebuah kelas dirigen, bagaimana seorang dirigen menjadi musik itu sendiri, dan menjadi musik yang dapat dibaca dan dipersepsi baik oleh musisi ataupun bahkan oleh audiens.

Carlos Kleiber

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

3 Comments on Jadi Dirigen Bukan Cuma Gerak dan Ilmu

  1. andreasarianto // 2 Desember 2015 pukul 4:59 am //

    Gue merasakan banget kenaikan kelas sebagai dirigen itu dari waktu ke waktu walau dengan pertambahan ilmu (termasuk cara berkomunikasi yg lbh efektif) yang sedikit demi sedikit dari setiap kesempatan memimpin sebuah ensembel. Memang benar sekali, musisi2 orkes yg lebih terlatih dalam bermain dan dalam merespon arahan akan sangat membantu, namun pada akhirnya musikalitas si pemimpin lah yang menentukan apakah musiknya itu sendiri menjadi makin terasa dan tersampaikan dgn baik ke penonton.

    Persona itu memang menjadi faktor yang krusial ketika seorang dirigen dihadapkan dalam berbagai jenis situasi, baik dalam latihan, pertunjukan, maupun rekaman. Dan tepat sekali kalau disimpulkan bahwa hal ini tidak bisa diajarkan oleh orang lain namun harus dialami sendiri oleh setiap dirigen.

    Gue sendiri lebih banyak punya pengalaman ketika mimpin karya yg gue tulis sendiri, entah aransemen ataupun komposisi baru. Namun ternyata memang semua hal yg lo sebutkan ini tetap berlaku sama bagi karya sendiri maupun yg ditulis orang lain karena pada akhirnya kita ingin menggarap musik sampai dalam bersama para musisi. Tinggal masalahnya adalah apakah perbendaharaan musikal kita cukup kaya dan sesuai dengan jenis musik yang ingin kita garap dengan mereka.

    Belajar memang gak pernah ada abisnya ya🙂 makasi utk bahasannya, Mike!

  2. Sama-sama om Andreas, cuma ingin sekedar sharing saja…🙂

  3. Saya ijin share yah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: