Kabar Terkini

Diri Sebagai Pemimpin, Kunci Dirigen


Seorang rekan dirigen yang sedang menghadapi kesulitan menghadapi ensembelnya pernah bertanya, “Gw ga ada masalah untuk benerin bagaimana orkestra bermain, memberi masukan dan dirigennya. Sepertinya gw punya masalah dengan komunikasi. Gimana benerinnya?” Mungkin tanpa sadar pertanyaan ini sudah masuk ke dalam pertanyaan yang lebih berat, “Apa itu komunikasi dan kepemimpinan?”

Seringkali kali pertanyaan seorang konduktor, dirigen atau sekarang diangkat istilah pengaba, adalah permasalahan komunikasi. Dan seringkali permasalahan komunikasi seorang konduktor hanya dibatasi pada bagaimana cara ia berkomunikasi dengan gerak dan instruksi dan arahan yang diberikan pada saat latihan, namun nyatanya komunikasi ini tidak bisa dibatasi hanya dengan permasalahan pada saat berlatih dan memberi instruksi saja. Perlu dicatat, rekan ini sangat berbakat dalam musik yang mengantarnya mendapatkan gelar master di bidang musik dan memiliki kepekaan nada absolut, dan baginya bukanlah sebuah kesulitan untuk menggerakkan anggota tubuh dan memberikan instruksi. Namun permasalahan terbesar yang ia hadapi bukanlah persoalan instruksi dan perencanaan. Permasalahannya adalah kegagalannya untuk berkomunikasi sebagai seorang pemimpin.

Komunikasi sebagai seorang pemimpin ensembel nyatanya memang bukan persoalan komunikasi yang terucap atau komunikasi verbal, namun juga kepemimpinan sebagai seorang komunikator non-verbal. Dan tentu dalam diskusi ini, bukanlah permasalahan komunikasi teknis yang menjadi halangan bagaimana seorang konduktor menyampaikan pendapat dan masukannya akan musik. Melainkan bagaimana ia berkomunikasi dengan sekelilingnya sebagai pemimpin yang mampu memancarkan citra pemimpin yang sesuai dengan lingkungan ia berada yang mampu menggerakkan anggotanya ke arah yang lebih baik bersama-sama.

Di latar sebuah perusahaan alat-alat berat misalnya, seorang insinyur yang paham dengan mekanisme teknis dan mampu membahasakannya dengan baik, bisa jadi bukanlah sosok yang tepat untuk menjadi seorang manajer yang membawahi insinyur-insinyur muda. Bisa jadi ia adalah penasihat teknis yang baik karena mampu memberikan pengarahan teknis secara mendetail. Namun belum tentu ia dapat menjadi pemimpin yang cakap untuk bawahannya dengan mampu menghadapi atasan dan juga memenangkan kepercayaan timnya. Memang tentu kemampuan teknis akan memudahkannya mendapatkan kepercayaan tersebut, namun tidak serta-merta tanpa pembekalan yang cukup seorang insinyur senior dapat diangkat menjadi manajer tanpa dilihat kecakapannya sebagai seorang pemimpin dan mampu berkomunikasi layaknya seorang pemimpin.

Demikian pula dengan peran dirigen. Seorang dirigen harus mampu membuka komunikasi sebagai seorang pemimpin baik satu arah maupun dua arah. Sayangnya memang dalam sebuah latihan orkestra, lebih banyak yang terjadi adalah komunikasi satu arah dibandingkan dua arah. Dan untuk mampu mengeksplorasi komunikasi dua arah, seorang dirigen memang harus berkomunikasi di luar waktu ia berada di atas podium. Kapan serius, kapan bergurau, kapan marah, kapan sedih, kapan gembira seorang konduktor harus mampu mengutarakannya dengan jujur, atau paling tidak terlihat jujur di depan mereka yang diarahkannya. Menggerakkan diri sebagai seorang manusia yang orisinal namun dapat dicontoh.

Komunikasi non verbal juga harus mampu diutarakan dengan baik. Hal ini adalah hal-hal subtil yang seringkali terluput sebagai seorang yang ingin menjadi seorang pemimpin. Hal-hal kecil ini adalah sorot mata, ekspresi muka, gerak tubuh dan bahkan postur tubuh pun bisa berbicara banyak akan bagaimana seorang pemimpin memandang dirinya dan memandang apa yang terjadi di sekitarnya. Hal ini bukanlah masalah menguasai tubuh dan bahkan gerak-geraknya yang halus, karena untuk melatih tubuh untuk menciptakan komunikasi non-verbal yang sesuai dengan yang diinginkan tidak mudah, atau bahkan nyaris tidak mungkin. Untuk itu yang seringkali perlu dilatih adalah sebuah mindset atau pola pikir dari seorang pemimpin/dirigen. Di sini seorang dirigen diajak untuk mampu reseptif dan berekspresi secara orisinal dan bukan hanya di permukaan saja, namun menjadi pribadi yang tulus dalam berekspresi. Karena dari ketulusan itu, sorot mata, ekspresi muka dan gerak tubuh serta postur dapat menjelaskan bagaimana mereka memandang sekitarnya. Beberapa politisi memang melatihnya komunikasi non verbal in dengan giat, ada yang berhasil, ada pula yang gagal.

Namun seringkali yang terlupa adalah sebagai seorang pemimpin, adalah kemampuan bukan hanya bagaimana berkomunikasi, namun bagaimana sungguh menjadi pribadi yang mampu mengayomi kelompoknya di dalam situasi kerja maupun di luar. Hangat tapi juga tetap berwibawa, dekat tapi tetap disegani, mencari titik seimbang di antara ekstrim ini memang sulit. Dan banyak dirigen yang mungkin melupakan pentingnya peranan bahwa menjadi pemimpin bukan hanya dengan berdiri di depan orkes ketika melatih, tapi juga bagaimana ia bersikap dalam kesehariannya.Bagaimana ia berinteraksi dengan timnya dalam berbagai situasi, ketika situasi baik, situasi genting, situasi santai, situasi serius dan tetap memancarkan diri sebagai seorang yang dapat diandalkan adalah satu dua hal yang harus diperhatikan oleh seorang pemimpin termasuk dirigen. Bahkan seringkali keterbukaan untuk menerima masukan juga penting sebagai seorang dirigen.

Kepemimpinan bukan hanya soal mampu mengatakan hal teknis yang tepat, tapi juga mampu menjadi tulang pungguh yang dapat diandalkan dan tercermin dalam perbuatan. Dan lagi-lagi hal ini tidak akan didapatkan ketika Anda belajar direksi, tapi sungguh hal ini yang membedakan kualitas seorang dirigen bagus atau seorang pemimpin sejati.

Iklan
About mikebm (1216 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: