Kabar Terkini

Tentang Terapi Musik di Indonesia


~oleh Monica Subiantoro

Beberapa waktu yang lalu dua orang mahasiswi pertukaran pelajar dari Amerika Serikat datang ke klinik terapi musik di UPH untuk melakukan interview dengan saya. Pertanyaan pertama yang terlontar dari mereka adalah, “Kebudayaan anda sangat kaya dengan musik, namun mengapa sulit sekali bagi kami untuk menemukan terapi musik?”. Saya spontan tersenyum. Dengan keterbatasan wawasan, saya mencoba menjawab pertanyaan mereka. Disiplin ilmu terapi musik datang dari dunia barat dimana wellbeing telah menjadi bagian yang dianggap penting untuk diusahakan. Di Indonesia, dimana masih banyak penduduk kita yang berjuang untuk dapat memenuhi kebutuhan dasar dan memperoleh pendidikan yang layak, wellbeing belum mendapat posisi yang pantas.

Tidak dapat disangkal bahwa kuatnya stigma di masyarakat tentang disabilitas dan terapi juga merupakan salah satu faktor yang menghambat pertumbuhan terapi musik di Indonesia. Sebuah contoh saya ambil dari pengalaman saya ketika melakukan proyek musik di Gianyar, Bali. Pada saat itu saya masih dalam pelatihan terapi musik, sehingga proyek yang saya lakukan belum dapat disebut ‘terapi musik’. Pada saat itu saya bekerja dengan anak-anak remaja tuna rungu, tuna wicara, dan beberapa di antaranya juga memiliki kesulitan belajar. Kebanyakan dari mereka masih memiliki kemampuan untuk mendengar dan memproduksi suara, walaupun dalam jangkauan yang sangat minimum. Namun karena lingkungan mereka membiasakan mereka menggunakan bahasa isyarat, mereka seakan-akan lupa bahwa mereka sebenarnya masih memiliki kemampuan untuk mendengar dan bersuara.

Cacat sekunder (Sinason, 1994) kerap kali hadir di tengah-tengah masyarakat kita. Kecacatan primer anak-anak remaja ini adalah keterbatasan fisik dan/atau mental, gangguan perkembangan yang merupakan bawaan sejak lahir, pada saat berkembang, atau disebabkan oleh suatu kecelakaan atau trauma. Cacat sekunder lahir ketika masyarakat di sekeliling orang tersebut melumpuhkan potensi-potensi yang dimiliki oleh orang cacat ini dengan stigma yang kemudian mempengaruhi sikap dan tindakan mereka.

Atribut yang lain adalah kesadaran kita mengenai kesehatan jiwa. Sudah siapkah kita untuk menerima bahwa masalah kesehatan jiwa (misalnya depresi, schizophrenia, dll.) adalah suatu penyakit yang sama-sama butuh ditangani layaknya ketika kita sakit flu atau demam berdarah. Sudah siapkah kita untuk menyapa teman kita yang memiliki depresi dengan dukungan penuh dan menerima sebagaimana mereka adanya, tanpa ada stigma bahwa orang ini kurang bersyukur atau tidak cukup religius (sehingga terkena gangguan kejiwaan).

Apabila kita adalah orang tua atau saudara dari yang memiliki anak berkebutuhan khusus, sudah siapkah kita untuk dengan legawa menerima anak/saudara kita dengan segala ‘kekurangannya’? ‘Kekurangan’ di sini adalah suatu hal yang relatif karena kita membandingkannya dengan berjuta populasi lainnya yang jatuh dalam ambang normal. Adalah pilihan kita sendiri untuk menerima mereka apa adanya dan mengembangkan potensi lain yang mereka miliki, daripada memaksakan anak/saudara kita ini untuk menjadi ‘normal’ (misalnya, yang non-verbal menjadi verbal/dapat berkomunikasi melalui kata-kata)

Terapi musik adalah ilmu yang bersinggungan dengan banyak cabang ilmu lain. Seorang terapis musik tidak hanya harus memiliki ketrampilan bermain musik, namun juga kemampuan berkomunikasi melalui musiknya. Selain itu seorang terapis musik juga harus mencintai dan menerima manusia apa adanya. Cara memandang disabilitas merupakan suatu hal yang tak terelakkan. Jika kita melihat terapi sebagai suatu jalan untuk menyembuhkan atau ‘menormalkan’ klien, maka terapi musik mungkin bukan solusinya. Musik yang sangat dekat dan bahkan merupakan bagian dari kehidupan manusia sendiri digunakan sebagai sarana untuk berkomunikasi non-verbal dengan klien dalam mencapai tujuan-tujuan non-musikal.

Pelatihan terapi musik pada strata S1 hanya ditemukan di Universitas Pelita Harapan, Karawaci. Alumni-alumni dari pelatihan ini mempraktekkan keahlian mereka di sekolah umum, sekolah luar biasa, klinik perkembangan anak, rumah sakit, dan privat. Karena menjadi terapis musik adalah sebuah panggilan, tidak sering panggilan ini muncul di saat seseorang tergolong dalam usia dewasa madya atau bahkan ketikan telah memasuki usia pensiun. Untuk profesional dari profesi lain (musisi, guru musik, psikolog, dokter, atau orang tua yang memiliki anak-anak berkebutuhan khusus) yang terpanggil untuk mendalami bidang ini, mungkin diperlukan suatu program pelatihan khusus di Indonesia, yang ke depannya juga akan menunjang sustainability dari profesi ini.

Pada umumnya di Indonesia musik dalam fungsi rekreatif telah diterima dengan baik. Penggunaan musik dalam kehidupan sehari-hari di berbagai lapisan masyarakat amat sering kita jumpai. Penggunaan musik dalam kehidupan sehari-hari sering diiringi dengan efek terapeutik, namun bukan berarti itu adalah praktek terapi musik. Terapi musik akan dapat diterima sebagai salah satu bentuk intervensi hanya apabila adanya peningkatan kesadaran akan potensi dari penggunaan musik sebagai sarana pemeliharaan dan peningkatan kualitas hidup manusia. Definisi dari ‘musik’ sendiri juga perlu diperjelas, karena terkadang calon klien berpikir bahwa mereka harus memiliki keahlian musik tertentu untuk mengikuti terapi musik. Yang terakhir, terapi musik di Indonesia hendaknya mengikutsertakan unsur musik lokal dalam prakteknya dan senantiasa merujuk pada identitas klien. Sesuatu yang dimulai dari kedekatan akan budaya sendiri tentunya akan lebih mudah diterima dan berpengaruh positif dalam kelangsungan proses terapi.

~ Monica Subiantoro adalah terapis musik terlisensi yang kini mengajar Terapi Musik di Universitas Pelita Harapan. Ia adalah pendidik dan pianis, menyelesaikan pendidikan paskasarjana terapi musik di Hongkong University SPACE dan Anglia Ruskin University, Cambridge — Inggris.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: