Kabar Terkini

Adakah Subjektivitas dan Objektivitas Murni dalam Kritik Seni?


~setelah diskusi dengan seorang pianis muda

Subjektif dan objektif seringkali dalam berbagai sisi terlalu disederhanakan dalam perbincangan. Objektif menjadi nilai yang diagungkan dalam percakapan modernis, yang mencoba mengesampingkan peran subjektivitas dalam menggarap keilmuan. Tapi dalam praktek kritik seni dan banyak ilmu sosial dan budaya lain tidak dapat keduanya dipisahkan.Peranan manusia dalam perkembangan ilmu manapun secara substansi tidak dapat dipisahkan. Objektivitas adalah sebuah pandangan metafisik yang terbakukan dalam objektivisme, yakni sebuah sistem filosofis yang menganggap suatu fenomena berdiri sendiri secara terpisah dari lingkungan yang ada di sekitarnya, terlepas dari kesadaran manusia dan secara sistem nilai berdiri secara mandiri. Namun banyak filsuf, salah satunya David Sidorsky melihat pandangan ini hanyalah sebuah pandangan ideologis tanpa dasar falsafah yang jelas. Beberapa bahkan mengatakannya anti-akademis. Sejatinya dalam pembentukan persepsi, aspek manusia baik sebagai pelaku maupun penerjemah, dan penderita tidak mampu dilepaskan dalam proses pemikiran kodrati manusia. Karenanya objektivisme bisa dikatakan hanya sebuah angan-angan ideologis yang tidak berdasar.

Ilmu sosial dan budaya dalam perkembangannya berusaha menggali permasalahan subjektivitas dan objektivitas kemudian sampai pada kesimpulan bahwa dalam proses pencarian kebenaran, aspek kemanusiaan dalam kapasitas akal budi tidak dapat mencapai kemutlakan objektivitas, karena memang hal tersebut tidak ada. Yang ada adalah derajat subjektivitas yang beragam, dari hanya berfokus pada pembenaran pemikiran diri hingga secara terbuka mencoba lebih membuka diri pada fenomena-fenomena eksternal yang terjadi untuk kemudian mengubah cara pandang keilmuan kita. Ini berlaku pada semua cabang keilmuan yang ada.

Perdebatan yang mulai tidak berarti akan terjadi apabila mencoba untuk menekankan makna subjektivitas dan objektivitas dalam kritik seni. Karena objektivitas adalah sebuah hal yang semu, menekankan subjektivitas pada seni dan bidang keilmuan lain adalah sebuah blunder besar dalam runut pemikiran. Sejauh diri mencoba menangkap sebuah fenomena, persepsi dan pertumbuhan nilai dan pemaknaan yang terbentuk tidak pernah sepenuhnya berada di luar manusia itu sendiri. Karenanya persepsi subjektif sekalipun dalam derajat terkecilnya tidak mungkin tidak ada. Karena terlebih seni dalam proses penciptaan, penyampaian dan bahkan penerimaannya tidak pernah terlepas dari peran manusia yang subjektif.

Lalu kritik seni adalah sebuah subjektivitas? Ya, pastinya seperti sebagaimana ilmu lainnya juga. Meruntuhkan pentingnya persepsi manusia dan bahkan unsur emosi kemanusiaan yang diciptakan dari seni dan kritik sebagai bentuk penyampaian pendapat dan persepsi malah menelanjangi kekuatan kesenian tersebut. Bahkan persepsi kita akan frekuensi dan kekuatan suara serta amplitudo serta spektrum masing-masing tetap berpaku pada bagaimana perspektif manusia akan logika matematis dan dimensi waktu yang terdiri dari simbol-simbol yang harus diinterpretasikan dan membuka berbagai ruang pertanyaan.

Dalam kritik seni yang berimbang, melihat suatu fenomena secara kritis, dan terbuka terhadap berbagai pengaruh dan masukan dari sekitar, bahkan tidak terkecuali pengaruh perkembangan keilmuan di luar, menentukan bagaimana sebuah kualitas terbentuk. Karenanya kualitas manusia termasuk seorang kritikus seni, perlahan dapat terkuak dari bagaimana ia menempatkan diri dalam berbagai kondisi dan posisi dalam memandang sebuah fenomena. Subjektivitas adalah anugerah, karena di sanalah letak pembeda kemanusiaan dan bidang yang hingga kini tidak mudah untuk dikuantifikasi yakni seni. Tidak jarang, sebuah konsensus persepsi sekelompok manusia yang terbatas pada lingkup sosiokulturalnya yang terbatas dianggap secara keliru sebagai sebuah objektivitas.

Pada dasarnya dalam kritik musik, pembaca pun dapat menilai seberapa jauh aspek pemikiran kritis (critical thinking) menjadi bagian dalam proses persepsi dan interpretasi dan ekspresi pengungkapan kritik. Demikian juga seberapa jauh analisis mampu dilakukan oleh seorang penulis berbekalkan keterbukaan, pengetahuan yang dimilikinya, juga pengertian akan aspek sosiokultural di mana pribadi tersebut berada. Karenanya adalah kesia-siaan untuk mengharapkan 100% pembaca setuju 100% dengan cara pandang Anda, namun kritik seni adalah bagian dari diskusi demokratis dalam mempersepsi seni bersama dalam sebuah komunitas.

Mengatakan bahwa kritik musik adalah sebuah bentuk keilmuan yang objektif adalah sebuah kebodohan. Demikian juga mengatakan bahwa mempertentangkan keilmuan budaya dan seni dalam aspek subjektif versus objektif adalah pahlawan kesiangan.

Iklan
About mikebm (1216 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: