Kabar Terkini

Membaca Kebanggaan Musik Tradisi


~oleh Ponco Kusumo

Berita-berita konser angklung di negeri-negeri Eropa sungguh membanggakan! Telah dikabarkan oleh beberapa media surat kabar bahwa konser angklung sukses menghipnotis audience publik Jerman, Belanda, Ukraina, dan beberapa negeri lainnya. Peristiwa-peristiwa seperti ini yang terbaca oleh kita sebagai tulisan dalam surat kabar menyadarkan betapa negeri ini kaya dalam seni dan budaya. Media-media akan menulis bahwa peristiwa tersebut merupakan kebanggaan bagi bangsa Indonesia; bahwasannya ada instrumen dan musik dari negeri Indonesia yang mendunia. Namun persoalan kebanggaan apakah memang harus melalui legitimasi dunia Barat yang artinya sebuah bangsa harus bangga dan sadar akan keberadaan kekayaan warisan nenek moyang ketika warisan tersebut sudah berhasil tampil di tanah publik Barat?

Agaknya persoalan ini bertolak belakang dengan realitas pikiran yang ‘menyudutkan’ pihak-pihak yang mempelajari kesenian Barat, khususnya dalam hal ini mereka yang belajar classical music (musik klasik). Tentu tulisan ini tidak saya maksudkan untuk membela mereka yang menempuh pendidikan ataupun menekuni instrumen musik Barat, melainkan berharap kesudahan sinisme anti-Barat yang dalam hal ini adalah keseniannya, lebih khusus musik. Tidak proporsional jika didengungkan anti-Barat ketika seorang yang mendengungkan anti-Barat baru bisa berbangga pada kesenian warisan bangsa saat karyanya tampil di publik barat. Secara sederhana, saya memandang bunyi itu layaknya air. Persoalan barat mengolah air tersebut menjadi wine, coffee, dan aneka minuman lainnya itu adalah persoalan lingkungan hidup, kebudayaan, keilmuan dan teknis. Sama halnya apabila masyarakat kita mengolah air menjadi teh, badek, wedang jahe dan lain sebagainya.

Lantas bagaimana agar masyarakat kita bangga terhadap kesenian tradisinya tanpa harus tampil dulu di publik barat? Menurut saya salah satunya adalah persoalan ruang, yaitu bagaimana cara kesenian tersebut tampil di hadapan publik. Sebagai contoh seorang anak desa yang terbiasa berlatih sepak bola di lapangan desa yang sungguh rumputnya bergelombang dapat membuat bangga orangtuanya ketika ia diterima di klub kotanya sehingga ia dapat berlaga di stadion yang barangkali juga stadion sederhana dengan tribun yang seadanya. Semakin membanggakan bagi kedua orangtua apabila si anak desa tersebut terpilih oleh klub profesional yang memiliki stadion dan fasilitas yang memadai. Tahapan keberadaan ruang inilah yang keberadaannya dapat membangun kesadaran dan kebanggaan atas kesenian tradisi tanpa harus menempuh perjalanan berpuluhribu kilometer untuk melangsungkan konser dan membangun kesadaran. Sempat saya temukan sebuah kritik dari salah satu aktor yang berperan sebagai Captain America pada Festival Teater di Yogyakarta ketika ia berkata kepada Gatotkaca,”Akan saya bangun gedung opera! Kesenian tradisi biarkan saja tampil di parkirannya!”

Persoalan lainnya adalah cara pandang. Membangun cara pandang baru membutuhkan wawasan. Riset pada kesenian tradisi perlu dipublikasikan dan dapat diakses oleh masyarakat. Melek pada kesenian tradisi bukan hanya persoalan pernah bersentuhan yang dalam hal ini menyaksikan pergelaran keseniannya semata, melainkan juga melek pada nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Sebagai contoh sederhana, masyarakat mengetahui Candi Borobudur itu warisan luar biasa. Menjadi bagian dari warisan dunia dan pernah menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Namun dengan memiliki wawasan apa saja yang terkandung dalam nilai-nilai arsitekturnya, makna-makna dalam reliefnya, sejarah pembangunannya, kandungan filosofisnya, saya pikir hal itu dapat lebih membuat masyarakat menghayati dan bangga pada keberadaan Candi Borobudur.

Kebanggaan perlu dibangun dari masyarakatnya sendiri, dan membangunnya membutuhkan pendekatan baru. Pendekatan tersebut tidak semata hanya pada proses pelestarian seni tradisi. Sebagaimana tulisan ST. Sunardi dalam buku “Vodka dan Birahi Seorang ‘Nabi’ :”Ada semacam semboyan (yang bernada setengah pasrah): yang penting mempertahankan seni tradisi agar tidak mati.” (Sunardi, 2012: 238)

~ Ponco adalah mahasiswa ISI Yogyakarta, Fakultas Seni Pertunjukan, Musik, Musikologi

2 Comments on Membaca Kebanggaan Musik Tradisi

  1. Sangat menginspirasi Tulisannya.
    Di era digitalisasi ini, memang perlu mengangkat soal tradisi ke permukaan. Agar ada daya untuk mengembangkan internal dan eksternal instrumen tradisi Indonesia (utara,selatan,timur dan barat).

  2. sepakat mas, telebih lagi penting untuk tidak merasa minder dengan pencapaian sendiri…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: