Kabar Terkini

Seniman Masih Punya Suara


Festival Teater Jakarta yang sedianya digelar di Taman Ismail Marzuki tanggal 9 Desember ini mengalami pelarangan oleh aparat kepolisian karena mengangkat tema Album Keluarga: #50Tahun1965 . Tema yang mengangkat pergulatan keluarga korban 1965 ini diperuntukan bagi sebuah lokakarya penulisan naskah teater yang digagas oleh Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta. Namun nyatanya acara tersebut pembacaan naskah tersebut tidak mendapatkan izin dari pihak kepolisian. Berita lengkap di sini.

Acara pun diubah oleh Dewan Kesenian Jakarta selaku penyelenggara menjadi sebuah acara jumpa pers di mana kalangan seniman menggugat keputusan Kepolisian yang tidak memberi izin keramaian. Keputusan ini dipandang sebagai sebuah upaya sensor kebebasan berpendapat oleh aparat dan kekhawatiran akan mengemukanya Partai Komunis Indonesia. Dewan Kesenian Jakarta pun selain memprotes juga memutuskan bahwa pembacaan akan tetap dilakukan namun diubah jadwalnya.

Terlepas dari upaya sensor yang abu-abu ini, terlihat bagaimana kesenian masih berfungsi dalam kehidupan di Jakarta sebagai sebuah kritik masyarakat. Ketakutan yang sebenarnya tidak perlu ini ada menjadi sebuah bukti akan kekuatan dan legitimasi seni dan suara seniman di tengah masyarakat. Nyatanya seni sebagai sebuah medium mengungkapkan pendapat masih disegani dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Seni dan senimannya masih didengar dan rasa takut yang muncul bahwa mereka didengarkan masyarakat adalah nyata.

Bagaimanapun upaya sensor terhadap seni adalah sebuah praktek kekuasaan yang nampaknya masih berlaku di tanah air. Apabila di Jakarta yang kosmopolitan saja masih seperti ini, tidak dapat dibayangkan praktik sensor garis keras ini di luar kota.

Tapi ada satu yang pasti, suara seniman masih terdengar dan karenanya tanggung jawab seorang seniman pun semakin besar dewasa ini untuk mengungkap sisi-sisi gelap kemanusiaan. Seniman tidak bisa cuma berpangku tangan atau bahkan cuci tangan seakan berada dalam dunianya sendiri. Di dalam nuansa seperti ini, akan terlihat mana seniman yang berani menggugat untuk kepentingan rakyat dan mana seniman yang memilih untuk pura-pura tidak tahu. Bagi DKJ, acaranya yang dijadwalkan ulang, jangan menjadi sebuah peralihan perhatian saja, terlebih kepengurusan DKJ periode ini akan paripurna di akhir tahun ini.

Dan sebagai rakyat, kita pastikan kebebasan berpendapat itu tetap terjaga, bukan untuk para seniman, tapi untuk kebaikan kita sendiri sebagai warga negara.

Isa Almasih dalam Injil mengatakan “Siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengar.”

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: