Kabar Terkini

Ekonomi Kreatif Itu Kepepet – Sebuah Kisah


Menarik sebenarnya melihat pergerakan sejarah kebijakan di Eropa dan bagaimana mereka kemudian bisa dengan gencar mendorong ekonomi kreatif bergerak di banyak negara dan jadi perhatian di Eropa, terutama Eropa Barat seperti Inggris. Dan jawaban yang mungkin paling mampu menjelaskan semua alasan itu adalah ‘kepepet’.Eropa terutama Inggris mencicipi masa kejayaannya ketika ia bukan hanya sebagai kekuatan kolonial terbesar di dunia, tapi berbarengan dengan itu Inggris menjadi pelopor Revolusi Industri yang menggerakkan seluruh perekonomian negara ini ke depan yang dipercaya didorong oleh penemuan mesin uap. Ia juga merasakan sebagai salah satu garda terdepan dalam Revolusi Industri kedua, ketika konsep assembly, manufacturing line masuk untuk meningkatkan efisiensi manufaktur di dunia. Kala itu, Inggris Raya menjadi kekuatan terbesar di dunia, dengan menguasai hampir 1/3 dari daratan di dunia dan didukung dengan armada angkatan laut terbesar dan terkuat di abad 19.

Seluruh sistem kehidupan masyarakat bersentral pada Revolusi Industri ini. Koloni menjadi daerah yang dikonsentrasikan sebagai penyedia bahan mentah, dan juga sebagai pos-pos penting jalur perdagangan laut di mana bahan mentah ini dikirimkan ke Inggris untuk diolah oleh industri mereka yang telah menerapkan teknologi modern. Segmentasi masyarakat pun juga terdampak dari cara pandang ini. Selain kaum bangsawan dan rakyat kelas bawah, kemudian muncul kelas menengah yang cukup berpendidikan dan menjadi profesional di bidangnya, banyak di antaranya terlibat dalam perdagangan dan mekanisme industri ini. Rakyat kelas bawah lewat revolusi industri ini lantas semakin banyak yang meninggalkan lahan pertanian dan desa mereka untuk kemudian mengadu nasib sebagai buruh di perkotaan yang tidak perlu mengenyam pendidikan tinggi-tinggi. Urbanisasi terjadi dan dari strata sosial ini kemudian dikenal sebagai working class atau kelas pekerja. Dan seluruh struktur masyarakat di Inggris kemudian bertumpu pada cara pandang ini.

Setelah Perang Dunia II dan merdekanya wilayah koloni, Inggris pun kehilangan posisinya sebagai kerajaan raya. Negara-negara bekas koloni ini kemudian mengembangkan pula industrinya untuk mengejar ketertinggalan dari Amerika Serikat yang setelah merdeka dari Inggris dan terseok-seok di abad 18-19, telah terlebih dahulu berlari sebagai negara industrialis. Sebagai dampak dari pasar dunia, banyak industri dan pertambangan kemudian perlahan merambah ke negara-negara merdeka baru yang menawarkan biaya produksi yang murah. Kedekatan sumber daya alam dengan daerah manufaktur juga merupakan keuntungan tersendiri. Alhasil, Inggris bukan lagi menjadi daerah utama dalam industri. Terbukanya daerah bekas Blok Timur seperti negara-negara bekas Uni Soviet, komunis China yang membuka diri, dan India dengan surplus populasi menjadikan mereka sebagai tujuan industri berpindah operasi. Inggris tidak lagi menarik.

Di saat yang sama sebenarnya Inggris cukup diuntungkan lewat posisi posisi politik paska PD II dan mapannya kelas menengah dan bahkan kelas pekerja di Inggris yang mendorong terselenggaranya sistem kesejahteraan sosial yang menyeluruh, termasuk kesejahteraan berbudaya. Pada masa ini dibentuklah dewan kesenian modern tertua di dunia, yakni di Dewan Kesenian Britania Raya yang berdiri independen namun menjadi perpanjangan tangan pemerintah dan bertanggung jawab akan pengembangan seni dengan mendukung komunitas-komunitas seni. Kehidupan budaya dan seni menjadi lebih matang dan besar juga mapan lewat dukungan pendanaan dari pemerintah lewat dewan kesenian. Seni pun menjadi hidup.

Namun seiring dengan itu pamor Inggris sebagai negara industri meredup, sebagaimana banyak negara di Eropa Barat. Banyak akibat yang terjadi hingga kota-kota yang kemudian terkena imbas langsung pergerakan ini yang kini dikenal sebagai zaman post-industri. London, Manchester, Liverpool hingga Bilbao di Spanyol adalah beberapa dari kota-kota yang perlahan bergerak menjadi kota mati. Industri yang dahulu menggerakkan perekonomian dan menarik populasi kelas pekerja yang banyak kini perlahan menjadi sebuah kota yang tinggi tingkat pengangguran dan juga kejahatan. Pertambangan pun banyak ditutup terutama di masa Thatcher yang menyebabkan demonstrasi besar-besaran di mana-mana, dan Inggris memasuki masa-masa pengetatan ikat pinggang yang luar biasa di tahun 1980-an. Sektor teknologi tidak banyak berkembang di Inggris, dan banyak penemuan teknologi baru lebih banyak terjadi di AS daripada di Inggris sehingga tidak semudah itu mendompleng untuk membangun sebuah Silicon Valley baru di Britania.

Kebutuhan mendesak adalah untuk menciptakan lapangan kerja yang padat karya, punya nilai ekonomi yang cukup besar namun memiliki minimum entry barrier yang rendah. Maksud dari entry barrier adalah bahwa lapangan pekerjaan ini harus lebih mudah diakses oleh banyak orang tanpa kualifikasi yang terlalu menuntut. Beruntung bahwa Inggris selama 30 tahun lebih sejak tahun 1946 hingga 1980-an secara konsisten mendukung pengembangan seni dan budaya sehingga potensinya terlihat lebih menjanjikan. Pun dari segi penegakan hukum dan kebijakan, kekayaan intelektual mulai mendapatkan bentuk pengakuannya sebagai sebuah kapital di kisaran tahun 1980-an.

Keputusan cepat kemudian diambil untuk menyelamatkan bangsa dari keterpurukan dan lahirlah sebuah ide baru yakni industri kreatif dan seni yang dipercaya akan menggerakkan roda perekonomian dengan bersumber pada daya kreatif dan kreasi para pekerjanya. Industri kreatif atau ekonomi kreatif ini yang kemudian menyerap banyak tenaga kerja baru, menggerakkan perekonomian, meningkatkan arus barang dan jasa dan seakan menjadi jawab akan sebuah krisis. Ya, jawaban ‘industri kreatif’ pun muncul karena kepepet namun terbukti menggerakkan Inggris. Sektor pariwisata di Inggris bergantung banyak dengan industri kreatif ini. London sebagai sebuah kota sebenarnya tidak ada istimewanya sebagai sebuah pemandangan alam, namun karena penggarapan industri kreatif dan penggarapan seni dan budaya yang kuat menjadikannya kini kota obyek wisata terbesar di dunia dan bersama Paris yang juga mengalami hal yang serupa. Bilbao pun juga mengalami penurunan, sebelum efek ‘Guggenheim Bilbao’ dan perencanaan budayanya kemudian menyelamatkan kota itu dari keterpurukan.

Banyak negara dan kota-kota lain kini menghadapi hal yang serupa. Finlandia kini tidak lagi memiliki raksasa teknologi Nokia yang dahulu menjadi kebanggaan negara berpenduduk 5.5 juta orang ini. Detroit di Amerika Serikat kini juga terseok-seok karena bubarnya industri kendaraan di kota itu. Tetangga dekat seperti Singapura dan Hongkong mengalami hal yang serupa. Dengan undurnya industri teknologi seperti chip dan elektronik di kota-kota ini, Singapura dan Hongkong hanya mengandalkan sektor finansial dan perdagangan saja untuk mendukung perekonomian kota, sebuah keadaan yang sangat riskan, namun perlahan mereka mulai memperhatikan aspek industri kreatif dan juga sektor budaya sebagai salah satu magnet kota. Mereka pun melakukan hal yang demikian untuk memastikan kota mereka hidup, tidak membosankan, serta layak untuk dihuni. Singapura walaupun memiliki kekayaan etnis yang kuat dan beragam dan terus merapatkan barisan di industri kreatif, tetap menjalankan fungsinya sebagai perantara bahkan di dunia industri kreatif sebagai tempat mampir berbagai pameran, pertunjukan dan konser di Asia Tenggara.

Ekonomi kreatif itu akan bergerak cemerlang apabila warga sudah kepepet. Sebuah ide yang cocok apabila sebuah negara sadar bahwa negaranya memiliki potensi seni dan budaya yang besar yang dapat digarap, didukung dengan sumber daya yang juga siap mengarahkan, dan juga langsung mengambil tempat sebagai pekerja. Perlukah Indonesia kepepet?

 

 

 

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: