Kabar Terkini

Mengejar Keutuhan Messiah


Mungkin kali ini adalah kali pertama, penulis mendengarkan persembahan Messiah dengan utuh. Karya oratorio dari George Frederich Handel ini berdurasi lebih dari 2 jam dan merupakan salah satu karya monumental yang ia tulis dan mungkin merupakan salah satu karyanya yang paling terkenal, terutama apabila diperdengarkan potongan Hallelujah-nya yang ternama. Beberapa kali berkesempatan mendengarkan karya ini, namun dapat dikatakan persembahan kali ini adalah yang mengukuhkan mengapa karya ini layak disebut sebagai karya klasik dalam perjalanan musik Barat.

Tidak pelak, kali ini associate ensemble Barbican Centre, Britten Sinfonia yang mengisi panggung gedung konser. Sebagai sebuah orkes kamar yang menggapai karya barok hingga karya abad ke-21, Britten Sinfonia adalah salah satu motor tercepat dalam dunia musik klasik di Inggris. Bermaskas di Cambridge orkes ini kini membina hubungan residensi dengan lebih dari empat gedung konser di empat kota dan juga di berbagai negara seperti AS, China serta di studio rekaman dengan label Hyperion dan Harmonia Mundi. Dan dalam konser kemarin yang merupakan salah satu bagian tur dari tiga kotanya, terlihat bahwa orkes kamar ini nyaman tidak hanya membawakan karya-karya modern, tetapi juga karya barok.

Dalam format yang kecil dengan 24 orang musisi orkestra dan 24 orang penyanyi dari Britten Sinfonia Voices, konduktor Eamonn Dougan berhasil menjalin setiap potongan resitatif, aria yang dinyanyikan solois dan chorus yang dinyanyikan paduan suara dalam sebuah persembahan utuh yang mengalir. Orkes terlihat fasih dan memiliki inisiatif yang kuat namun tetap berada dalam bingkai kendali Eamonn yang luwes. Britten Sinfonia memang sebuah ensembel unik, dikarenakan tidak memiliki konduktor utama maupun direktur artistik. Setiap pemainnya adalah para pemusik kamar ulung yang dipersatukan di dalam orkestra. Walhasil, permainannya pun responsif dan hidup. Meski tidak menggunakan instrumen barok yang berasal dari abad 17 dan 18, namun lewat setiap nada terjalin dengan jernih hingga suasana musik barok yang lincah dan terampil tergambar di benak.

Carolyn Sampson sebagai solois soprano juga tampil dengan prima dengan warna suara yang manis. Iestyn Davies sebagai kontratenor mengambil alur suara solois alto dan mampu menjadi pijakan yang teguh namun tetap ramping. Tenor Allan Clayton bernyanyi dengan cerah dan menyegarkan, sedang Robert Davies sebagai bass mampu menyeimbangkan suaranya yang berat dengan sentuhan keriangan sehingga berbaur cantik dengan ensembel. Dapat dikatakan pilihan solois malam ini pun sangat mementingkan karakter suara barok sehingga penyampaian dan interpretasi dapat tergarap dengan pas.

Britten Sinfonia

Eamonn Dougan selaku pemimpin mampu menggerakkan seluruh ensembel dengan tangkas. Setiap gerakannya memberi ruang bagi para musisi untuk berkisah namun tetap dalam koridor yang ia bakukan. Hal ini terlihat bagaimana ia secara bercitarasa mampu menggarap teks Messiah yang rumit dan membutuhkan kecermatan tersendiri. Ia pun berhasil memberikan sentuhan personal pada setiap nafas dan kalimat yang ia arahkan kepada paduan suara.

Paduan suara pun hanya berjumlah 24 orang, sebuah jumlah yang tergolong kecil untuk banyak pertunjukan Messiah yang biasanya mengandalkan segerombolan penyanyi. Namun demikian ke-24 orang ini tidak serta-merta menjadikan karya ini kurus ataupun memaksakan bersuara gemuk, melainkan memiliki fleksibilitas yang tinggi. Sebagai sebuah paduan suara, 24 orang ini kompak dan memiliki sentuhan paduan suara renaisans yang kuat, dengan lekuk yang ringkas lengkap dengan sentuhan tradisi paduan suara katedral Inggris yang berbuih cantik. Pertanyaan yang muncul tentang bagaimana menyeimbangkan karakter barok Jerman Handel dengan paduan suara Inggris di abad 18 terjawab sudah, dan nyata bagaimana karya ini dikonsepsikan untuk mengawinkan kedua karakter tersebut.

Banyak pertanyaan yang penulis ajukan ketika menyaksikan karya Handel ini sebelumnya seakan terjawab oleh pertunjukan ini. Bagaimana Handel yang seorang Jerman kemudian diadopsi sebagai komponis Inggris serta bagaimana karya 120 menit ini terjalin sebagai sebuah karya utuh. Natal mungkin belum lengkap tanpa Messiah, tapi Natal kali ini berbeda karena dilengkapi keutuhan ‘Messiah’, bukan karena dimainkan dengan lengkap, tapi dikarenakan dimainkan dengan cita rasa…

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: