Kabar Terkini

Sekilas Tentang Paduan Suara Sancta Caecilia Katedral Jakarta


Berikut adalah sharing kembali dari berita dari katedraljakarta.or.id mengenai paduan suara Paduan Suara St. Caecilia Katedral Jakarta beberapa minggu lalu baru saja merayakan ulang tahun ke-150, diyakini sebagai paduan suara aktif tertua di Indonesia.

Hari Pentahbisan Katedral, 21 April 1901

…. Penuh sesak gereja pagi hari itu, jauh sebelum upacara dimulai. Halaman gereja penuh sesak dengan penghuni Batavia yang menaruh perhatian pada peristiwa seagung ini. Pada saat Uskup E. S. Luypen dengan iring-iringannya masuk pintu utama, lonceng-lonceng di atas bubungan gereja untuk pertama kalinya berkumandang di atas pusat kota Batavia.

Diantara para hadirin tampak Gubernur Jenderal beserta ajudannya; wakil Dewan Agung Negara dengan banyak anggota-anggota, para Jenderal Angkatan Bersenjata, Para direktur departemen-departemen dan lain-lain

Upacara dipimpin oleh Uskup Luypen, dibantu oleh pastor Wenneker, Jonckbloet, Asselbergs, Schweitz dan van Hout. Paduan Suara Sancta Caecilia dipimpin oleh direkturnya Toebosch menyanyikan Missa Benoit. Lagu-lagu Gregorian yang agung berselang seling dengan musik gerejawi yang modern… (Sejarah Seputar Katedral Jakarta, R. Kurris S.J. Penerbit Obor, 2001, hal 144)

Potongan tulisan dari Buku Sejarah Seputar Katedral Jakarta yang ditulis Oleh Romo Kurris S. J. menjadi gambaran bahwa Paduan Suara Sancta Caecilia Katedral Jakarta merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sejarah Gereja Katedral, bahkan sebelum Gereja ini menjadi Katedral.

ANTARA TAHUN 1865-1942

Paduan Suara Sancta Caecilia Katedral Jakarta didirikan pada tahun 1865 oleh seorang Belanda bernama C.G.F. Van Arken, bermula dengan nama ‘Roomsch Katholiek Zangkoor Caecilia’ atau Paduan Suara Roma Katolik Caecilia. Ia dibantu oleh F.C.M. Simmonis yang bertugas melayani sebagai organis selama 25 tahun, ia adalah organis pertama Katedral Batavia. Saat itu Caecilia merupakan satu-satunya paduan suara di Katedral dan koor ini melayani di Misa Besar setiap minggu pagi.

Caecilia pada awalnya merupakan koor pria dan anggotanya kebanyakan adalah orang-orang Belanda yang tinggal di Batavia. Pada masa kepemimpinannya (1865-1890) Caecilia memperoleh kehormatan untuk bernyanyi pada Misa Malam Natal di Basilika St. Peter, Roma. Ordinarium yang digunakan saat itu digubah oleh Van Arcken sendiri.

Setelah kepemimpinan Van Arcken, pastor-pastor Katedral mulai ditugaskan menjadi ketua dan dirigen. Para Rohaniwan yang telah berjasa selama perjalanan Caecilia diantaranya adalah : Pastor Van Der Kun S.J. (dirigen, 1901-1921), Bruder Petrus S.J. (dirigen dan organis, 1920-1922), Pastor Van Aernsbergen S.J. (dirigen, 1921), Pastor W. Hellings S.J. (ketua, data 1903), Pastor L. Sondaal S.J. (ketua, 1911-1919), Pastor van Hoof S.J. (ketua, 1919-1925), dan Pastor J. Wubbe S.J. (ketua, 1925-1935). Semua Ketua Caecilia ini juga menjabat sebagai Pastor Kepala Katedral Jakarta. Setelah meninggalnya Van Arcken, anak-anaknya pun melanjutkan tradisi ayah mereka dalam mengabdi pada gereja.

Selain melayani Gereja, Caecilia juga digemari oleh para pencinta Musik Klasik di Batavia, hal ini disebabkan oleh kemampuan dan keseriusan Caecilia dalam membawakan repertoir-repertoir klasik. Dukungan ini memudahkan Caecilia untuk melakukan berbagai kegiatan bermusik di luar pelayanan gerejani. Selain melayani Misa Agung di Gereja, Caecilia juga mengadakan berbagai konser. Beberapa konser yang tercatat bisa menjadi gambaran keaktifan Caecilia pada masa itu:

1886 : Konser Messe Solenelle karya Rossini, Gereja Katedral Jakarta. Dirigen : B. J. Hovestad
1896 : Bernyanyi pada Konser Misa Tripria Perayaan Allah Tritunggal, 31 Mei, dihadiri oleh Raja dan Ratu dari Siam (sekarang Thailand), Gereja Darurat Katedral Jakarta.
1901 : Bernyanyi pada Misa Pontifical Pemberkatan Gereja Katedral baru, 21 April. Dirigen : Bapak Toebosch
1914-1915 : Konser-konser umum di Batavia yang diselenggarakan oleh Katholieken Socialen Bond. Dirigen : Pastor Van Der Kun SJ.
1915-1925 : Berkali-kali mengadakan Konser amal di Buitenzorg (Bogor) dan Batavia untuk kepentingan : Vincentius Gesticht (Panti Asuhan Vincentius), untuk Bataviasche Kindervacantie-Kolonie, untuk korban-korban perang di Jerman.
1922 : Konser di Nederlands Indie Kunstkring dan Muziek Verbond di Batavia. Konser di Stadsschouwburg (Gedung Kesenian Jakarta sekarang), Dirigen : Leo van Maaren
1924-1925 : Konser di Bandung atas undangan dari Bandoengschen Kunstkring. Misa Agung Pentahbisan uskup Mgr van Velsen, 13 mei 1924. Konser di Militarie Socialiteit Concordia, Batavia dan di Bandoeng. Konser Peringatan 10 tahun Nederlands Indie Kunstkring dan muziek verbond. Dirigen : Leo van Maaren
1934 : Misa Agung menyambut kedatangan Uskup baru, Mgr P. Willekens SJ. dari Belanda. Dirigen : M. J. Van Hulten

ANTARA TAHUN 1951-1980

Tahun 1942-1945 merupakan tahun yang cukup kelam bagi Gereja. Pada masa ini Pemerintah Penjajahan Jepang melarang Gereja Katolik di Batavia untuk menyelenggarakan Misa. Dengan kejadian ini Otomatis saat itu kegiatan Caecilia terhenti. Adalah Bapak R.A.J. Soedjasmin yang pada tahun 1951 baru saja dipindah-tugaskan di Jakarta, langsung saja dipanggil oleh P. Willekens S.J. yang saat itu menjabat sebagai Vikaris Apostolik (setara Uskup) untuk berkarya di Caecilia. Dibawah bimbingan Bapak R.A.J. Soedjasmin Caecilia mulai berkembang lagi.

R.A.J. Soedjasmin adalah seorang pemusik terbesar pada zamannya. Beliau mendapat pendidikan musik dari Pastor Y. Schouten S.J. di Xaverius College, Muntilan 1929-1934. Atas bantuan dari Pastor Schouten S.J. beliau melanjutkan studi musiknya untuk bidang instrumentasi musik dan dirigen di Belanda pada Rooms Kerk Muziek School St Caecilia, Utrecht dan Maastricht Stedelijk Orkest di bawah bimbingan Hanry Hermans, tahun1934-1937. Beliau mulai berkarya di kepolisian pada tahun 1947. Karena bakatnya di bidang musik beliau diberi tugas untuk mengajar musik pada Angkatan Laut dan Angkatan Darat. Selama perjalanan karier musiknya beliau menciptakan tak kurang dari 300 gubahan vokal, 8 simfoni dan instrumental, 15 untuk koor dalam 4 dan 6 suara, 6 untuk piano. Sebagian besar karyanya adalah untuk keperluan militer, TVRI dan RRI. Sayangnya banyak gubahan-gubahannya hilang atau belum selesai.

Pada awal kepemimpinan beliau, sebagian besar Caecilia masih terdiri dari orang-orang berkebangsaan Belanda, tetapi dengan terjadinya peristiwa Irian Barat diawal tahun 1960, hampir seluruh orang Belanda dipulangkan. Untuk memperkaya perbendaharaan repertoir lagu-lagu, Caecilia mulai menyanyikan lagu-lagu untuk paduan suara campur (SATB), tetapi karena Koor ini adalah paduan suara sejenis pria (TTB) maka Caecilia pun mengajak Koor suster-suster perawat RS. St. Carolus dan siswi-siswi Santa Ursula untuk bekerjasama.

Soedjasmin memperlakukan Koor Caecilia bak putrinya sendiri, semua tenaga, perhatian dan kemampuan ditumpahkannya tanpa lelah bagi kemajuan paduan suara ini, banyak karya-karya lagu yang diciptakan untuk Caecilia. Keterlibatan Soedjasmin di Pemerintah membuat Koor Caecilia sering dipakai untuk memeriahkan acara-acara kenegaraan seperti: Aubade Kenegaraan untuk Upacara 17 Agustus di Istana Negara, pembukaan Pekan Olah Raga, Sea Games dan Konferensi Asia Afrika dll.

Walaupun beliau aktif sebagai pengajar pada Angkatan Laut dan Angkatan Darat, beliau sangat fasih dalam musik gereja. Selain mengangkat musik Gregorian dalam perayaan misa, Soedjasmin juga banyak menciptakan lagu-lagu liturgis untuk paduan suara. Lagu-lagu ini khusus diciptakan untuk Caecilia, beberapa lagu diciptakan dengan iringan Orgel dan gamelan diatonis seperti: “Laudate Pueri Dominum” 1956, “Ave Maria” 1960, “Ecce Sacerdos” 1961, “Missa Consueta” 1961, “Tu est Petrus” 1964, “Missa Sesiliana” 1972.

Selain Soedjasmin, yang tidak boleh lupa untuk disebut adalah Bapak Willem Adeboi. Mungkin beliau adalah anggota Caecilia yang paling lama yang menjembatani dua generasi Caecilia (Belanda dan Indonesia). Beliau adalah seorang yang berdarah campuran Belanda dan Afrika Selatan, lahir tanggal 24 Juli 1909 di Bandung dan melayani sebagai pianis Caecilia selama 52 tahun, sejak tahun 1928 sampai meninggalnya 18 Oktober 1980. Bpk. Adeboi, dikenal sebagai tokoh yang rajin dan tidak kenal lelah dalam bertugas.

Perkembangan Paduan Suara Gereja Katolik di Indonesia baru benar-benar dimulai sejak Konsili Vatikan II 1965. Salah satu dekrit dari Konsili ini adalah mendorong perayaan-prayaan misa dengan iringan paduan suara. Sekali lagi Paduan Suara St Caecilia menjadi ujung tombak dalam perkembangan baru ini dengan mengadakan Fesparani (Festival Paduan Suara Gerejani) tiap tahun di berbagai paroki di Jakarta.

ANTARA TAHUN 1980 – SEKARANG

Setelah berakhirnya era Soedjasmin (beliau meninggal tahun 1977), terputus pula hubungan Caecilia dengan tugas-tugas kenegaraan, sehingga Caecilia lebih memfokuskan diri lagi pada kegiatan-kegiatan liturgis Gereja. Dibawah pimpinan Rumfaan, Caecilia mulai lebih sering mengadakan konser-konser di Gereja.

Sepeninggal Rumfaan, tahun 1985-1988 Caecilia mengalami penurunan. Perubahan mulai terjadi di tahun 1988 sejak kepemimpinan Yoseph Chang. Yoseph Chang sudah menyumbangkan tenaganya yang besar sejak ia menjadi anggota Caecilia ditahun 1983. Ketegasannya didalam memimpin membuat banyak anggota koor yang cukup “terkejut”. Yoseph Chang berhasil meletakan fondasi baru yang membuat Caecilia semakin kuat. Krisis keanggotaan pada Caecilia dibantu dengan ‘mensupply’ anak-anak didiknya dari SMP St. Maria.

Budi Utomo Prabowo adalah dirigen setelah Bapak Yoseph Chang. Beliau bergabung dengan Caecilia tahun 1988. Setelah dua tahun, beliau mengambil gelar Master dalam ilmu komputer di USA. Ia sempat pula belajar piano accompanying di Julliard School New York pada Ariene Shrut dan teori pada komponis asal Meksiko, Samuel Zyman. Tahun 1992 dia kembali ke Jakarta dan dipercaya memegang tongkat dirigen PS. St. Caecilia.

Setelah Budi Utomo Prabowo meninggalkan Caecilia untuk melanjutkan studi musiknya di Jerman, Caecilia dimotori oleh tiga dirigen, Yoseph Chang, Rodyanta S, dan Kusumawardhani, kini dalam setiap konser-konser yang diadakan Caecilia berusaha untuk mencari warna lain, sehingga penyajian musik liturgis yang disuguhkan menjadi lebih kaya dan bervariasi. Mulai tahun 2001 dengan ketiga dirigen ini, Caecilia telah menyelenggarakan berbagai konser-konser dengan mengangkat berbagai musik gereja dari berbagai jaman. Pada tahun 2010 hingga saat ini regenerasi dilanjutkan oleh tim teknis yang masih muda-muda: Julita Suriyanto, Alexander Louciano dan Valentina Sidharta.

Walaupun telah didukung oleh dirigen-dirigen muda berbakat dan memiliki kecintaan terhadap pelayanan musik gereja, keanggotaan Caecilia masih mengalami berbagai kendala. Sebagai paduan suara di Gereja Katedral, keanggotaan Caecilia tersebar dari berbagai paroki di KAJ. Di Jakarta yang menjadi salah satu kota paling macet di dunia, tentu saja ini menjadi kendala besar. Tetapi walaupun demikian, Caecilia selalu berusaha untuk memulai kegiatan-kegiatan yang mendorong perkembangan musik liturgis Katolik. Konser tahunan hingga saat ini tetap dilaksanakan. Sejak 1997 Caecilia rutin menyelanggarakan Konser Cantate Domino yang merupakan sebuah ajang konser musik sakral yang bersifat ekumenis dengan mengundang berbagai paduan suara gereja serta sekolah baik Katolik maupun Denominasi Kristen lainnya.

Dalam perjalanannya saat ini, Caecilia memiliki anggota lebih dari 35 orang yang tersebar di berbagai Paroki di KAJ. Sama seperti awal berdirinya, masih banyak anggota-anggota yang memiliki kesetiaan yang tinggi dalam pelayanannya melalui Caecilia. Beberapa orang telah menjadi anggota selama 20 tahun bahkan ada yang telah menjadi anggota selama hampir 40 tahun. Joseph Sutrisno organis Caecilia sudah melayani selama 34 tahun. Kesetiaan terhadap pelayanan inilah yang menjadi ‘bensin’ bagi kami untuk tetap berjalan.

Setelah berpuluh-puluh tahun hadir sebagai Pelayan Altar di Gereja Katedral Jakarta, Caecilia terus menggali khasanah musik gereja, dengan juga berpegang pada Liturgi dan Tradisi Gereja Katolik Apostolik yang sangat kaya, disamping tetap setia pada cita-cita pendirinya yaitu “Menghadirkan Allah melalui kidung pujian yang indah”. Semoga dengan momentum ulang tahun yang ke 150 ini, Caecilia bisa lebih berkarya dalam pelayanannya. Vivat, Floreat, Crescat.

 

SUMBER

  1. GEDENKBOEK Ter herinnering aan het zestig-jarig bestaan der “R. K. Zangvereeniging Caecilia te Batavia 1865 – 22 November – 1925. ALBRECHT & CO., WELTEVREDEN (BUKU MEMORIAL Untuk memperingati enam puluh tahun Perkumpulan Vokal “Caecilia” di Batavia 1865 – 22 November – 1925. ALBRECHT & CO., WELTEVREDEN)
  2. Sejarah Seputar Katedral Jakarta, R. Kurris S.J. Penerbit Obor, 2001
  3. Wawancara dengan Ibu Hartati Soedjasmin 2004 dan 2005, Lampiran Surat keputusan Menteri P & K th. 1976;
  4. Sambutan Pesta Perak Pengabdian RAJ Soedjasmin Sebagai Anggota St Caecilia karangan Ign Shamdas. Th. 1976; dan
  5. Mengenang RAJ Soedjasmin, Sang Guru, Kompas 22 November 1985.
  6. Berbagai wawancara.
About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: