Kabar Terkini

Seberapa Lantangkah Suara Musik Klasik di Indonesia?


Berkaca dari situasi Festival Teater Jakarta, tidak pelak terbersit tentang seberapa lantangkah suara musik klasik di Indonesia.

Teater di Indonesia memiliki tradisi yang cukup kuat sebagai sebuah bentuk kritik masyarakat terhadap penguasa. Keberadaan Teater Koma, Teater Utan Kayu, memiliki suara tersendiri sebagai sebuah pergerakan ideologis di kalangan masyarakat seni maupun masyarakat umum. Pun keberadaan teater tradisi seperti lenong, ketoprak dan bahkan teater wayang memiliki kekuatannya sendiri sebagai pembentuk opini publik, masa lalu maupun masa kini. Kekuatan teater dapat terlihat dari bagaimana di masa lalu menjadi kritik yang kuat terhadap pemerintah Orde Baru, sebuah emblem yang sepertinya sulit untuk dilepas. Tidak heran, insiden pelarangan Festival Teater Jakarta terjadi dan kemudian juga cukup mengguncang media. Nyatanya teater memang memiliki suara yang lantang yang sepertinya patut diwaspadai oleh penguasa manapun.

Pertanyaan berikut yang muncul adalah seberapa lantangkah suara seni yang lain seperti musik terlebih musik klasik di Indonesia? Di dunia musik pop, kita mengenal jaman Iwan Fals yang getol menggebrak lewat pesan tekstualnya. Namun nampaknya, setelah berapinya gejolak nasionalisme yang banyak digarap secara musikal, musik seriosa dan musik klasik nampaknya mulai memperlihatkan jarak terhadap realitas. Hal ini pun menjadikan musik klasik tidak lagi lantang menggalang suara.

Namun fenomena ini bukanlah sesuatu yang asing di dunia musik internasional. Semakin berjaraknya musik modern dari realitas menjadi sebuah gelagat yang terbaca secara umum, meskipun di sana-sini tetap terlihat bagaimana ada bentuk perlawanan yang terjadi. Namun nampaknya setelah gelombang nasionalisme dan romantisme, pun agaknya musik klasik di dunia pun terlihat semakin berjarak dari opini publik.

Situasi ini semakin tidak membaik di Indonesia. Musik klasik yang memang tidak banyak peminatnya pun berhenti menjadi corong publik untuk berbicara lantang mengenai sekitarnya. Kesalahan mungkin paling besar ditimpakan pada pemilihan klasik yang seringkali tidak dibingkai dalam kekinian. Namun sebenarnya banyak karya masa lalu yang mencerminkan suara perlawanan terhadap kesewenang-wenangan. Karya Tchaikovsky misalnya Overture Romeo and Juliet, ataupun Rhapsody in Blue dari Gershwin bisa menjadi pembawa pesan perlawanan terhadap divisi dalam masyarakat maupun diskriminasi ras. Ataupun misalnya menggarap karya Shostakovich sebagai sebuah respon dari pelarangan Festival Teater Jakarta. Namun entah karena kurang berpikir, kurang wawasan ataupun keengganan menyebabkan banyak pertunjukan musik klasik lebih terkesan sebagai sebuah hiburan kelas atas dibandingkan sebagai sebuah karya seni yang memiliki konteks.

Keterbatasan keinginan untuk bereksperimentasi akhirnya menjadi penghalang untuk mengekspresikan kekinian. Membawakan karya secara aman, dan juga motivasi untuk mengamankan diri sendiri menjadi gelagat berikutnya yang tercium dari banyak pergerakan musik klasik. Ketakutan yang terjadi sebenarnya bukanlah sebuah hal yang istimewa karena memang musik klasik sebagai penyampaian ideologi tidak banyak berani diambil komponis maupun penampil di Indonesia. Kesan bahwa ‘cari makan saja sudah sulit, kenapa harus dipersulit lewat berepot-repot berkubang dengan politik?’ terlihat dengan nyata. Musisi tidak jarang untuk memilih jalan aman, sebuah jalan yang lapang tanpa menyenggol siapa-siapa namun pada akhirnya terkesan hambar dari konteks yang ada. Musik yang dipilih akhirnya tidak bisa ataupun dihindarkan dari banyak berbicara tentang keadaan sosial masyarakat yang ada.

Musik itu apolitis. Mungkin itu adalah pernyataan yang sering diangkat. Tapi apakah pandangan “l’art pour art” adalah sebuah bentuk pengebirian dari kekuatan seni yang sebenarnya sebagai sebuah media ekspresi? Pertanyaan inilah yang seharusnya kita jawab bersama. Apakah penghindaran musik klasik dari sebuah konteks masa kini adalah sebuah upaya yang secara tidak sengaja malah membuat musik klasik impoten terhadap keadaan masa kini? Apabila jawabannya benar, bisa jadi inlah juga sebabnya musik klasik tidak pula mendapat simpati masyarakat, peminat sedikit, cenderung eksklusif, dan tergolong insignifikan dibandingkan kesenian seperti teater. Padahal dalam insignifikansi, terdapat ruang yang lebih lebar untuk berkesenian, untuk mengutarakan pendapat tanpa takut untuk dibredel. Apabila tidak ada yang merasa terancam dengan opini dalam yang diutarakan musik klasik, berarti memang musik klasik belum seberpengaruh itu.

Mungkin memang harus diakui suara musik klasik tidaklah lantang. Tapi alangkah disayangkan apabila impotensi musik klasik ternyata bukan karena disebabkan musiknya, tapi malah disebabkan oleh musisi dan audiensnya sendiri.

Berbahagialah kawan-kawan di teater, karena suara Anda yang terdengar lantang itu memang mengancam kesewenangan!

Iklan
About mikebm (1238 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: