Kabar Terkini

Mehldau Merekonstruksi Bach


Johann Sebastian Bach, adalah nama yang tidak dapat dilepaskan dari khasanah musik klasik. Ia adalah komposer ulung, organis yang handal dan seorang improviser yang brilian yang hidup di peralihan abad 17-18. Karya-karyanya walaupun sempat terlupakan, sejak dibangkitkan oleh Felix Mendelssohn di paruh awal abad ke-19 tidak pernah ketinggalan baik dalam pertunjukan maupun dalam dunia pendidikan musik klasik. Dan kini di panggung gedung resital Wigmore Hall, seorang Bach dikenang dan direkonstruksi dalam citarasa abad ke-21.

Sebagai seorang kibordis handal yang menelurkan ratusan karya untuk harpsichord dan organ, karya-karya J.S. Bach tidak pernah habis menjadi sumber inspirasi bagi banyak musisi karena kematangan struktur maupun kesederhanaannya tuturnya. Dan sebagai seorang improviser, Bach terutama menjadi sumber inspirasi musisi jazz di dunia di mana kematangan improvisasi berbaur dalam struktur yang kaya, sebuah kualitas yang selalu diidamkan oleh banyak musisi jazz kini.

Brad Mehldau yang tampil malam ini adalah pianis jazz sekaligus komponis yang mengikuti jejak inspirasi seorang Bach. Sebagai seorang pianis, ia aktif bermain dalam kelompok trionya dan sebagai seorang musisi telah berkolaborasi lintas gaya musik, dari Pat Metheny hingga vokalis klasik Anne Sophie von Otter dan Renee Fleming. Dan malam ini ia mempertunjukkan komposisi terbarunya, Three Pieces after Bach.

Sebagai sebuah karya dengan tiga bagian, Mehldau membentuk sebuah karya dari tema-tema yang ia pilih dari salah satu karya penting dari Bach, Well-Tempered Klavier. Sebagaimana Bach menulis, ia kemudian berusaha mempertahankan relasi tema-tema tersebut dalam karyanya dan merekonstruksi karya dengan sentuhan Mehldau. Karyanya tidak lantas menjadi ke-Bach-Bach-an atau ke-jazz-jazz-an melainkan menjadi bentuk tersendiri yang berani dengan disonansi, dengan repetisi yang kerap dan penggunaan harmoni yang unik namun tetap terasa sebagai buah improvisasi yang kaya. Tanpa tema yang diambil dari Bach, karya ini dengan gagah dapat berdiri sebagai sebuah karya yang mandiri, sehingga dengan jelas penggunaan tematik Bach menjadi bentuk penghormatannya pada komponis jenius yang didaulat kini sebagai komponis yang melampaui masanya. Pun Mehldau secara sadar membelah karyanya sendiri dan menggarapnya dalam pandangan sang komponis besar dengan terlebih dahulu memainkan prelude maupun fuga yang menjadi tema inspirasinya lalu kemudian memainkan karyanya secara berturut. Walhasil tiga pasang karya berturut dimainkan.

Bagian pertama, After Bach 1: ‘Rondo’, terinspirasi dari Prelude no.3 dalam Cis mayor BWV848, dari Well-Tempered Klavier Buku I. Berjudul Rondo, Mehldau menggubah karyanya dalam nuansa pengulangan yang sedikit menipu. Dalam birama 5/16, potongan tema Bach bermunculan di sepanjang namun paling jelas terlihat dalam pengulangan tema dan gayanya yang ritmis. Di saat lain repetisi nada di tangan kiri seakan menjadi tekstur yang kaya melapisi karya. Patut diingat bahwa Mehldau menjaga pulsasi tanpa sedikitpun terjatuh dalam ritme dan garapan yang konvensional dalam musik jazz, menjadikannya karya yang sungguh digarap untuk menjadi berbeda.

‘After Bach 2: Ostinato’ adalah bagian berikut. Berbekalkan sebuah nada rendah G yang terus menerus berbunyi di sepanjang karya, Mehldau mendedikasikan karya ini untuk Bach dan Brahms yang dalam karya Requiemnya menjadikan nada G sebagai landasan karya. Tema dari Fuga no.16 dalam G minor BWV 885 dari Well-Tempered Klavier Buku II menjadi melodi utama yang bergarap ostinato/pengulangan dibungkus harmoni oleh harmoni yang juga berulang, mengingatkan penulis akan keajaiban harmoni minimalis abad 20. Alhasil sang nada G menjadi titik tumpu keseluruhan harmoni dan melodi yang terbangun di atasnya, bagai sebuah piramida terbalik yang stabil bertumpu pada pucuknya.

Brad Mehldau2Mehldau kemudian menutup dengan ‘After Bach 3: Toccata’ yang terinspirasi dari Prelude No.6 dalam D minor BWV 851 dari Well-Tempered Klavier Buku I. Dengan sentuhan lincah, karyanya menari dengan riang terutama di bagian melodi di mana tema utama prelude menghiasi pergerakan harmoni tiga nada yang kerap berubah. Pergerakannya yang asimetris dan perubahan birama yang kerap menjadi karya ini seakan tidak sabar untuk segera berlari, membuat karya ini sangat aktif dan terkesan sangat hidup. Menjadikan karya ini penutup yang cantik.

Pendekatan Mehldau untuk ketiga karya asli Bach mencoba menyeimbangkan gaya pointilistik Bach dengan mengeksplorasi potensi instrumen piano modern. Tema tergarap dengan ringkas namun di banyak tempat, Mehldau juga menjelajah warna suara piano dan rentang dinamika, namun tetap diupayakan terjaga kebersihan eksekusinya. Ia pun menjadikan karya Bach bernyanyi, sentuhannya beberapa kali terdengar sebagai paduan keagungan organ gereja lengkap dengan gaung dan nafasnya, namun juga disertai gemeltuk harpsicord yang berderap.

Mehldau pun tidak lupa unjuk gigi dengan berimprovisasi di tempat, baik dengan karya Bach maupun karya Michael Jackson dan John Lennon-Paul McCartney. Lagi-lagi membawa pendengar menyelami lebih dalam unsur jazz, populer maupun musik konstemporer abad ke-20 semuanya di atas panggung. Namun bagi banyak penonton di sana, malam itu bukanlah bagian dari Wigmore Hall Jazz Series, melainkan sebuah perpaduan dari kekinian dan inspirasi sejarah, Brad Mehldau merekonstruksi Bach. Menarik.

About mikebm (1184 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: